Scandal

Scandal
Part 41


"Kenapa kau masih menangis?" Tanya Edgar dengan sedikit menyentak, karena sejak keluar dari butik hingga kini mereka berada di dalam mobil adiknya itu terus menangis. Edgar kesal bukan karena merasa berisik dengan tangisan Lara, tapi ia tidak kuat melihat wanita itu menangis dan rasanya ingin sekali memeluk Lara saat ini juga.


Di sentak Edgar bukannya berhenti menangis, Lara justru semakin terisak dengan air mata dan ingus yang keluar bersamaan.


"Ed jangan dibentak!" Protes Julia sembari menatap Lara, menatap calon adik iparnya yang duduk di kursi penumpang belakang. "Lara are you okay?"


Lara tak mempedulikan pertanyaan Julia. Ia tetap menangis entah karena apa, tapi yang jelas hatinya kesal dan marah karena setelah insiden dirinya yang hampir terjatuh tadi, Lara justru melihat pemandangan yang menyakiti hatinya dimana Edgar dan Julia berciuman saat ia keluar dari ruang ganti, membuat air matanya kembali menetes hingga sekarang.


"Aku pulang naik taksi saja." Lara hendak membuka pintu mobil.


"Berani keluar, kau tahu akibatnya!" Edgar menatap tajam pada Lara melalui kaca spion dan tanpa banyak kata menginjak pedal gas hingga Lara tak punya kesempatan untuk keluar dari mobilnya.


Julia sendiri hanya diam melihat sikap Edgar dan Lara yang semakin aneh. Sikap keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Namun pikiran itu segera ditepisnya karena tidak mungkin seorang kakak dan adik menjalin kasih.


"Ed kita antar adikmu pulang dulu." Karena Julia masih ingin menghabiskan waktunya bersama Edgar.


Edgar diam tidak menjawab perkataan Julia, dan selama diperjalanan tidak ada yang membuka suara diantara mereka hingga mobil yang ditumpangi ketiganya sampai di sebuah apartemen mewah dimana Julia tinggal.


"Ed kenapa—"


"Turun!" Potong Edgar dengan cepat.


"Tapi Ed..."


"Aku bilang turun!" Bentak Edgar.


Julia pun mau tidak mau turun dari dalam mobil tersebut karena tidak ingin Edgar semakin marah. Dan kini ia hanya bisa menatap mobil calon suaminya yang menjauh dari pandangan.


"Sekarang kau boleh memperlakukan aku seenaknya, tapi setelah kita menikah akan aku buat kau bertekuk lutut." Umpat Julia dengan kesal saat kembali mengingat kejadian ketika ia mencium Edgar dengan paksa, namun ciuman itu harus berakhir karena Lara yang muncul tiba-tiba.


*


*


"Pindah ke depan!" ucap Edgar tanpa menatap pada Lara.


"Tidak mau." Lara masih marah, terlebih saat Edgar dengan tiba-tiba menjalankan mobilnya saat ia ingin keluar naik taksi.


"Aku bilang pindah ke depan Lara Collins!" Edgar berusaha sabar dengan menurunkan nada bicaranya.


Lara pun mau tidak mau pindah ke depan duduk di samping Edgar. Dan mobil pun kembali berjalan dengan kecepatan normal tidak seperti sebelumnya yang mengebut sampai Lara ketakutan setengah mati.


"Kak kenapa berhenti disini?" Lara ingat betul gedung tinggi dimana mobil mereka berhenti saat ini adalah apartemen milik pria itu.


"Turun!"


"Tapi kak—"


"Cepat turun!" Edgar keluar dari dalam mobil lalu membuka pintu untuk Lara.


Keduanya pun berjalan menuju lantai dimana unit milik Edgar berada, dengan segala pemikiran dan keinginan masing-masing. Edgar yang menahan keinginannya untuk memeluk Lara sejak mereka berada di mobil tadi atau bahkan sejak hampir satu Minggu yang lalu, dan Lara yang takut terjadi sesuatu diantara mereka karena ia tahu betul bagaimana mesumnya seorang Edgar Collins.


Dan benar saja tebakan Lara, karena baru saja pintu apartemen di tutup Edgar langsung memeluk tubuhnya dengan erat sampai ia kesulitan untuk bergerak.


"Kak lepas!" Ucap Lara dengan menghela napas, dan menahan detak jantungnya yang bergemuruh karena pelukan tersebut.


"Biarkan seperti ini dulu." Edgar mengeratkan pelukannya, mencium wangi yang sudah lama ia rindukan.


Ya, Edgar akui ia begitu merindukan Lara. Merindukan adiknya sendiri, sungguh konyol bukan. Tapi itulah yang dirasakan Edgar Collins saat ini setelah hampir satu Minggu lamanya ia menahan diri menjaga jarak dari Lara.