
Semua mata tertuju kepadanya, sementara Raline terus menatap dengan selidik ke arah lehernya, bintik merah jelas tertera di sana. Tidak hanya satu, bahkan beberapa, membuat Raline menelan ludahnya susah payah.
Secepat kilat Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, wajahnya merona mengingat semua pelayan tadi tengah menyaksikan kekonyolan akan dirinya. Raline memejamkan matanya erat, Ia kesal sekaligus malu. Sialan! umpatnya dalam hati.
***
Elsa menjadi penuntun jalannya, sementara Raline terus membuntutinya dari belakang. Di bukannya pintu besar itu, menampilkan sebuah ruangan mewah dan megah. Raline baru menyadarinya, ternyata tempat ini begitu besar dan sangat mewah, bak kastil kerajaan.
Seorang pelayan menggeret kursi ke belakang, mempersilahkan Raline duduk. Si kursi meja makan utama, sudah ada Kendrick yang tengah terfocus pada koran pagi dengan secangkir teh yang menemaninya.
“Kau lihat ini, ” ujarnya seraya menunjukan koran paginya kepada Raline, Raline berkerut kening, jeraminya meraih pelan koran yang di tunjukan Kendrick
“Kecelakaan pesawat? ” Raline gusar, lantas Ia membaca dengan seksama berita di surat kabar tersebut
Matanya terbebelak tak percaya, pandangannya menjadi buram karena terhalang oleh air mata yang terbendung dalam kelopak matanya. Raline terdiam sesaat, air matanya menetes tak dapat Ia bendung.
“Pesawatmu, jatuh dan tenggelam. Namamu tertera di sana, ”
Raline menghembuskan nafas berat, Ia menyeka air matanya yang terus saja mengalir dengan deras.
“Keluargamu gusar.. ” “Aku mau pulang, ” sambar Raline menatap Kendrick dengan tatapan bersikukuh, sementara dagu kokoh Kendrick mengarah pada beberapa lembaran kertas, yang sudah Raline ketahui apa isinya.
Tanpa ragu, Raline menyambar lembaran kertas itu dan langsung menandatangani- nya. Sementara Kendrick mengangkat kedua halisnya, melihat hal yang baru saja Ia saksikan. Tidak menarik! gunam Kendrick perlahan.
***
Beberapa jam perjalan di tempuhnya menggunakan pesawat jett pribadi milik paman suaminya. Sepanjang perjalanan, hati Raline berkecamuk tidak karuan. Semacam takdir atau kutukan, seperti ada sesuatu yang selalu menariknya agar jatuh ke dalam jerat seorang Kendrick.
Raline menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, hal yang tidak pernah Ia pikirkan terjadi. Menyeramkan! Namamanya tertera di dalam daftar kecelakaan pesawat. Raline meluruskan pandangannya, dari ekor matanya terlihat samar Kendrick yang tengah terduduk dengan gelas wine di genggamannya. Selalu seperti itu.
Sesampainya di bandara, deretan pria berpakaian rapih menyambutnya. Seperti telah terbiasa, Raline sudah tidak merasa tertekan lagi dengan suasana seperti ini. Orang kaya, mengapa selalu memerlukan pengawalan yang begitu ketat. Pikirnya.
“Pulanglah, kau harus tahu kapan kau harus kembali. ” ujar Kendrick dingin, membuat hati seseorang membeku ketika mendengarnya, di bukakanya pintu mobil oleh seorang penjaga lalu Ia memasukinya. Mobil itu melaju pergi.
Semua orang berkumpul pada ruang tamu di rumah milik keluarga Raline, semua wajah terlihat sangat cemas. Sebelumnya, bawahan Kendrick sudah memberikan info atas Raline kepada keluarganya, sehingga mereka semua berkumpul guna menyambut kehadirannya.
Semua orang berteriak histeris ketika menyadari sosok Raline yang tengah berdiri di ambang pintu, mereka semua menarik nafas lega karena mengetahui putri keluarga mereka dalam keadaan baik-baik saja.
“Mah, aku baik-bak saja. ” Raline menyeka air mata yang membasahi pipi wanita pria paruh baya itu, wajahnya tampak lusuh karena cemas dan menangis sepanjang hari. Raline mengadukan keningnya pada kening sang ibunda, mereka terkekeh, bersyukur atas keselamatan yang telah di berikan kepada Raline.
***
“Bahkan setelah kabar itu, Ia sama sekali tidak mengkhawatirkanku. ” gunam Raline dengan nada rendah
Raline menatap sebuah bangunan mewah di hadapannya, tempat dimana dirinya menyimpan begitu banyak harapan akan kebahagiannya. Ketika suaminya pulang bekerja, Raline akan menyambutnya dengan senyuman, lalu suaminya akan mencium kening Raline dengan hangat. Bermain canda tawa ria dengan anak-anaknya kelak. Namun sirnah sudah, harapan hanyalah selintas pikiran yang akan menjadi angan-angan lalu. Yang pasti, kini dirinya tengah berada di ambang pintu neraka.
Halaman begitu sepi, padahal biasanya di halaman depan selalu berlalu lalang pelayan yang tengah sibuk mengurus taman. Entah kenapa hari ini begitu terasa berbeda.
Pintu mansion terbuka, suara lengkingan pintu menggema ke seluruh penjuru ruangan. Raline mengerutkan keningnya, sangat gelap, tidak ada satupun penerangan di dalam sana.
“Daniel, ” sapanya kepada seorang pria yang tengah duduk dengan wajah tertunduk di atas sofa, Raline yakin itu adalah Daniel.
Langkah kaki mendekat terdengar begitu jelas di dalam samar-samar kegelapan, tiba-tiba sepasang tangan meraih tubuh Raline dan memeluknya dengan erat. Bau alkohol terasa begitu menyengat.
“Kau selamat! Kau masih hidup, aku tahu itu ... ”
Hal yang tak pernah Raline duga dalam kehidupannya, bagaimana bisa Daniel begitu menghawatirkannya. Daniel terus memeluk tubuhnya erat, seolah enggan melepaskan tubuh wanita itu dari dalam dekapannya.
“Daniel, ” sebelah telapak tangannya menepuk pelan punggung Daniel, Raline masih tidak percaya, di pikirnya semua ini hanyalah mimpi
“Raline maafkan aku, maafkan aku ... ” suaranya begitu berat terisak,
Raline tertegun, seketika tubuhnya terasa begitu lemas. Nafasnya tersenggal, bagaimana mungkin ini semua terjadi.
“Daniel, kau mabuk ...,”
***
Suasana mansion tampak seperti biasanya, pelayan berlalu lalang membersihkan dan merapikah setiap sudut ruangan. Raline berjalan menuju meja makan, Ia hanya mendapati Daniel yang tengah memakan sarapannya. Pandangannya mengedar, menyisir ke segala penjuru ruangan, mencari seseorang yang tak pernah di lihatnya lagi setelah berpisah di bandara kemarin.
Kejadian kemarin membuat suasana canggung antara Raline dan Daniel, entah Daniel melakukannya dengan sadar atau tidak, yang jelas itu semua selalu terbayang di dalam pikiran Raline.
“Apakah kau punya waktu nanti malam? ” Raline membalasnya dengan satu kali anggukan, “Bersiaplah, aku akan mengajakmu makan malam di luar. ” Raline hanya melongo seperti orang bodoh. Daniel menyentuh lembut jemari Raline lalu mengecup pucuk kepalanya sebelum Ia pergi bekerja. Tidak hanya Raline yang syok akan sifat Daniel yang berubah begitu drastis, namun beberapa pelayan yang menyaksikan semua itupun tampak ternganga melihatnya.
“Ehem, ” Raline berdeham pelan, semua pelayan kembali pada pekerjaannya masing-masing. Raline melanjutkan memakan sarapannya dengan tenang.
Sebelum kembali ke dalam kamarnya, Raline menanyakan mengenai keberadaan Kendrick pada salah seorang pelayan, namun pelayan tersebut hanya menggeleng tidak tahu.
“Maaf, Nona. Tuan belum kembali setelah beberapa hari ini. ”