
Saat itu Miranda menuntut Mom Nela sebagai dalang dalam kasus perencanaan pembunuhan yang dialami Lara. Dan sebagai anak meskipun merasa kecewa dengan semua perbuatan Mom Nela, ia tidak bisa diam saja melihat Ibu nya masuk penjara. Berkat bantuan Nelson yang menjadi perantara, akhirnya Miranda setuju menarik semua tuntutan pada Mom Nela dengan syarat ia tidak boleh lagi menemui Lara atau menampakkan wajahnya di depan wanita itu dan seluruh keluarganya.
Erik pun terdiam saat mengingat perjanjian yang dibuat Tuan Edgar. Karena sedikit banyaknya ia tahu semua yang dialami tuan nya saat pria itu kembali ke Singapura dalam keadaan koma.
"Aku tidak menyangka, kehidupanku akan tragis seperti ini. Dulu saat kami masih berstatus sebagai kakak adik, aku masih bisa memilikinya meskipun belum menyadari rasa cinta ini untuknya. Dan sekarang saat status kami jelas tidak terikat darah, juga menyadari kalau sangat mencintainya, aku tidak bisa memilikinya bahkan menatap dari dekat."
"Kehidupan siapa yang tragis?"
Secara bersamaan Edgar dan Erik menatap pada sosok pria yang berjalan masuk ke dalam ruangan, menatap pria gagah dan masih terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda.
"Tuan Nelson." Sapa Erik dengan hormat. Lalu undur diri dari ruangan tersebut.
Sementara Edgar langsung memeluk dewa penolongnya yang tak lain adalah pamannya sendiri, Nelson.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Nelson. Mengurai pelukannya sambil menepuk bahu Edgar.
"Aku baik, paman sendiri kenapa cepat sekali pulang?" Karena setahunya, Nelson melakukan perjalanan bisnis ke Jepang selama lima hari, tapi baru dua hari pamannya itu sudah kembali.
"Hei, kau tidak suka melihat Paman mu ini?" Seloroh Nelson.
Edgar menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Aku senang kau pulang, setidaknya ada yang menemaniku minum-minum."
Nelson tertawa terbahak-bahak. "Tapi kau harus berjanji tidak ada lagi Julia atau Serena yang menggangu kita."
Edgar ikut tertawa meski tak lepas. "Mereka memang benar-benar menyusahkan."
"Jadi apa yang membuat hidupmu sungguh tragis?"
"Tidak ada." Jawab Edgar dengan singkat, sembari mempersilahkan pamannya untuk duduk. Karena tidak mungkin mereka mengobrol dengan berdiri.
Nelson terdiam dengan jawaban keponakannya. Ia tahu betul kehidupan tragis seperti apa yang dimaksud Edgar.
"Kenapa kau tidak mencoba memulai hubungan yang baru dengan mantan tunanganmu? Dari yang paman lihat Julia wanita yang baik, dia bahkan setia menunggumu saat koma."
"Apa perlu aku menjawab pertanyaanmu Paman? Aku tidak akan pernah bisa mencintai...."
"Wanita lain selain Lara Collins." Sahut Nelson sambil tersenyum. "Jika begitu kejar dia! Berusahalah untuk mendapatkannya kembali."
"Tidak semudah itu. Paman tahu betul apa yang sudah dilakukan Mom Nela pada mereka?" Meskipun Mom Nela sudah membayar semua kesalahannya dengan diceraikan oleh Robert tanpa harta gono-gini seperak pun, dan dijauhi olehnya bahkan hidup kesusahan di Jakarta. Tapi tetap saja tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. "Jangan lupakan juga pernjanjian itu."
Nelson menarik napas dan mengeluarkannya dengan kasar. "Dengar Ed, lupakan perjanjian konyol itu. Kau tidak perlu khawatir pada Miranda, biar aku yang akan mengatasi wanita itu."
"Maksud paman?" Edgar mengerutkan keningnya dengan bingung.
Nelson menjawab pertanyaan keponakannya dengan tersenyum penuh arti. Sudah cukup waktu satu tahun baginya diam melihat apa yang terjadi pada keponakannya, hanya untuk memberikan ruang bagi Miranda melupakan kemarahannya. Kini waktunya ia bertindak untuk menyatukan kembali Edgar dan Lara dengan cara apa pun.
"Bersiaplah kembali ke Jakarta Ed! Kita temui Lara dan Miranda."