
"Sepertinya kau sudah tidak sabar, Ed" Goda Nelson dengan tertawa. "Bagaimana kalau pernikahannya satu Minggu dari sekarang?"
"Kenapa lama sekali, besok saja bagaimana?" Sahut Lara dengan tersenyum malu.
"Lara Collins." Pekik Miranda, Rose, Lily, dan Robert.
"Ya sayang, kau benar. Bagaimana kalau besok kita menikah?" Edgar menarik Lara kedalam pelukannya dan mencium wanita itu kembali.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut, akhirnya hanya bisa pasrah melihat pasangan kekasih itu saling mengungkapkan cintanya.
"Terima kasih Miranda." Ucap Robert dengan tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku pun ingin melihat kebahagiaan putriku."
"Putri kita." Sahut Robert sembari menggenggam tangan Miranda. "Maukah kau kembali dan menghabiskan waktu bersamaku? Aku masih sangat mencintaimu." Ungkapnya dengan jujur.
"Robert." Miranda balas menggenggam tangan mantan suaminya. "Untuk sekarang aku tidak bisa, tapi entah nanti jika Rose dan Lily sudah menikah." Karena jika nanti semua putrinya sudah menikah otomatis Miranda sendiri, dan pasti ia membutuhkan pendamping untuk menemani hari tua nya. "Sanggupkah kau menunggu?"
"Tentu Miranda." Jawab Robert dengan tersenyum bahagia, karena akhirnya Miranda mau kembali walaupun belum pasti kapan waktu itu tiba.
"Lihat Rose!" Lily menunjuk ke-dua orang tuanya yang terlihat saling menggenggam tangan. "Dan lihat mereka." Lily kini menunjuk Edgar dan Lara yang saling berpelukan."
"Maksudmu apa?" Tanya Rose dengan tersinggung, karena ia tahu betul arah pembicaraan adiknya.
"Kau tidak iri mereka sudah memiliki pasangan? Sementara kau..."
"Ish." Rose menepuk bahu Lily dengan kesal. "Kau sendiri bagaimana? Jangan hanya pandai menasehati."
"Ck, aku berbicara seperti ini karena aku pun sudah memiliki pasangan." Lily menatap pada Nelson yang tengah tersenyum padanya.
Rose yang melihat itu semua bergidik ngeri. "Oh My God, Lily. Jangan bilang kau dan Nel—" belum selesai berbicara, mulutnya sudah lebih dulu di bungkam oleh tangan Lily.
"Jangan berisik." Setelah itu Lily pun meninggalkan Rose, menuju Nelson yang memberikan kode agar dirinya mengikuti pria itu.
"Ya ampun Lily, kenapa harus Nelson? Dia lebih pantas jadi Ayahmu." Ucap Rose namun hanya dalam hati, karena tidak mungkin berbicara seperti itu ditempat tersebut.
Dan kini hanya tinggal Rose seorang yang belum memilliki pasangan, karena wanita itu masih menunggu pria idamannya yang berasal dari Korea.
*
*
Semua orang yang hadir di pesta pernikahan Edgar dan Lara berteriak dengan penuh suka cita. Ya, hari ini tepat satu Minggu setelah acara lamaran berlangsung. Edgar dan Lara kini sudah sah menjadi pasangan suami istri di mata hukum dan negara.
Edgar yang hendak mencium Lara justru terkejut saat wanitanya lebih dulu mencium dirinya, membuat semua orang yang ada di dalam ballroom tempat pernikahan itu berlangsung tertawa.
"Kau lama." Ucap Lara sembari menahan malu.
"Aku yang lama atau kau yang sudah tidak sabar." Bisik Edgar dengan tertawa lalu mencium Lara dengan penuh kelembutan. "Aku sangat mencintaimu Lara Collins."
"Aku juga." Ucap Lara masih dengan tersenyum malu. "Jadi kapan kita akan membuat a—"
"Ingat! Kalian harus menunda untuk memiliki anak sampai Lara lulus kuliah." Sahut Miranda dengan tegas, membuat Lara langsung terdiam.
Sementara Edgar tersenyum melihat bagaimana raut wajah Lara yang langsung ditekuk. Ia tahu, Lara pasti berpikir Miranda melarang mereka untuk melakukan hubungan suami-istri. Padahal Mom Miranda hanya melarang mereka untuk memiliki anak.
Sungguh Edgar tak menyangka akan memiliki istri seunik Lara. Hubungan yang diawali dengan Scandal ditengah keluarga Collins, kini menjadi satu dalam ikatan sebuah penikahan. Walaupun Mom Nela tidak bisa hadir di acara pernikahannya, tapi ia merasa bahagia karena tadi mereka sempat video call dan Mom Nela memberikan doa agar pernikahannya berjalan dengan lancar.
"Kak..." Lara menyentuh Edgar yang terlihat melamun. "Kenapa?"
Edgar menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. "Bagaimana kalau sekarang kita membuat anak?" Bisik Edgar.
"Ha..."
Belum sempat Lara tersadar dari keterkejutannya. Ia sudah lebih dulu digendong oleh Edgar meninggalkan tempat tersebut, terutama meninggalkan para tamu undangan yang menatap mereka dengan bingung.
Tentu saja tempat yang dituju oleh pasangan suami-istri baru itu adalah kamar, tempat untuk memadu kasih bagi keduanya yang telah lama menahan rasa untuk saling memiliki.
...🍃 Tamat 🍃...
...Yeay🎉 akhirnya Novel Scandal tamat juga🤗 Terima kasih Mom ucapkan kepada semua pembaca setia Mommy yang sudah mengikuti Novel Lara & Edgar 💕 Tidak lupa mom juga mau mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan. Mari kita sambut bulan yang suci dengan hati yang bersih dan saling memaafkan....
NB ~ Jangan lupa untuk mengikuti kisah Novel Mom lainnya 🤭