
haiii ... happy reading ❤❤❤
****
Sudah memasuki bulan ke tujuh untuk usia kandungannya, Kai kini meminta Krystal untuk perbanyak istirahat saja di rumah—meski terkadang perempuan itu lebih senang keluar. Krystal juga tidak mengerti mengapa kehamilannya yang sekarang ini tidak membuatnya merasa lelah atau malas, sesekali ia mengunjungi rumah Airin untuk bertukar cerita dengan kakaknya itu, kadang ia juga mengajak Kean bermain ke mall.
Padahal Kai sudah mewanti-wanti sang istri untuk jangan banyak bergerak, biarlah urusan menjemput Kean itu akan di tangani oleh supir mereka. Kadang Kai juga merengut kesal saat tanpa izin Krystal pergi ke rumah Airin. Meski Krystal sudah mengatakan kalau ia baik-baik saja, tapi Kai tidak suka larangannya itu dibantah.
"Aku bosen tahu di rumah." keluh perempuan dengan perut membesar itu dari tepi ranjang.
Waktu sudah menujukan pukul sepuluh malam yang artinya Kai hari ini pulang terlambat karena ada banyak pekerjaan di kantor.
"Dulu kamu tuh nurut banget loh sama aku, sampe di ajak bikin skandal aja mau. Kenapa sekarang sering banget ngebatah sih?"
Krystal mendengkus dengan bibir mencebik kesal. "Aku gak ngebantah! Kamu tuh gak pernah ngerasaain hamil sih, gak tahu rasanya bosen dengan perut gendut kayak gini."
"Nah," Kai menoleh setelah selesai melepas semua kancing kemejanya dan melemparkan itu pada meja kaca. "Itu udah tahu perut gendut kayak gitu, tapi masih aja ngerengek minta jalan-jalan."
Tepat setelah Kai pulang tadi, Krystal merengek ingin liburan berdua dengan sang suami—katanya menagih janji yang pernah Kai ucapkan beberapa bulan lalu tentang babymoon. Ngomong-ngomong, itu sudah dua atau tiga bulan yang lalu, sebelum kandungan Krystal sebesar ini.
Entah setan mana yang merasuki tubuh Krystal karena tanpa sebab ia tiba-tiba meminta liburan itu.
"Kamu tuh gak nepatin janji." Lagi, Krystal merajuk. Perempuan itu bahkan tidak mau membantu Kai membuka kemejanya, jika bisanya ia akan melayani sang suami dengan bersemangat. "Kamu sendiri yang bilang mau ajak aku babymoon berdua aja, gak usah sama Kean! Sebel aku sama kamu sekarang, tukang tipu!" Jeritnya kesal.
Jujur, Kai sendiri bingung. Saat ia mengajak Krystal untuk babymoon beberapa bulan lalu, perempuan itu sendiri yang menolaknya, dengan alasan tidak ingin berjauhan dengan Kean, lalu sekarang secara mendadak meminta hal itu.
Kai kemudian mendekat, tapi Krystal memilih melesakan tubuhnya ke atas ranjang, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. "Kenapa sih? Waktu aku ajak kemarin kamu gak mau, sekarang kenapa mendadak jadi ngerengek minta liburan?"
Meskipun kehamilan kedua ini Kai lah yang paling direpotkan soal mengidam, tapi tetap saja usia kehamilan yang memasuki bulan ke tujuh itu sangat rentan untuk berjalan-jalan—apa lagi dengan pesawat terbang.
"Perut kamu udah besar, pasti juga dilarang kalo mau naik pesawat."
"Udah deh, kalo kamu emang gak bisa nepatin janji bilang aja. Kalo kamu emang keberatan buat nyenengin aku gak apa-apa kok, aku sama anak aku gak masalah." Krystal berteriak dari dalam selimut, membuat keresahan di hati Kai kian memmbesar.
"Bukan gak mau, sayang." Ia mendesah berulang kali, mengusap wajahnya kasar. Entah lah tiba-tiba ia kehilangan kalimatnya. Lagi pula berdebat dengan Krystal saat dirinya sedamg lelah hanya akan menimbulkan pertengkaran besar. Lebih baik ia mandi dan menyegarkan pikirannya.
***
Tak lama berselang Kai keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual bersih-bersihnya. Ia melihat Krystal yang berbaring miring membelakanginya. Sudah jelas kalau perempuan yang akan memiliki dua orang anak itu sedang merajuk padanya.
"Gak usah!"
Mendesah lelah, Kai melangkah memasuki kamar mandi lagi, menggantung handuknya. Ia tidak ingin semakin di amuk oleh Krystal kalau meletakan handuk basah sembarangan, istrinya itu semakin hari semakin ganas saja.
Setelah selesai menggantung handuk, ia menghampiri ranjang, naik di sisi sebelah Krystal lalu merebahkan diri sama persis seperti posisi Krystal, dan melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu.
Saat Kai memeluk Krystal, ia merasakan tubuh sang istri sedikit tersentak—mungkin kaget karena tiba-tiba ia memeluknya. Kai menyerukan hidungnya di tengkuk perempuan itu, mengecupnya berulang-ulang yang kemudian sudah ia tahu itu akan merangsang Krystal.
"Mm ... Kai," Krystal menggeliat dengan deru napas pendek-pendek, namun tidak juga meminta bibir Kai menyingkir dari tengkuknya.
"Jangan marah dong, sayang. Aku kan cuma gak mau kamu kenapa-kenapa." desaunya masih memeluk Krystal. Tangan Kai pun merambat di perut bulat itu, mengelusnya lembut hingga perlahan naik menuju dada sekal sang istri. "Kangen, ih." lirihnya lagi.
Krystal tahu arti kata kangen yang di keluarkan oleh sang suami. Sudah sekitar dua minggu mereka jarang berhubungan, mungkin itu juga yang membuat Krystal menjadi sering uring-uringan.
"Kangen kamu, aku tuh." Lagi, Kai mendesahkan kalimat itu di tengkuk Krystal.
Mendapat serangan dari depan dan belakang tentu saja membuat perempuan itu tidak bisa menolak. Ah katakan saja ia juga sama menginginkannya dengan Kai. Lanta yang Krystal lakukan adalah membalik tubuhnya, membuat tatapan mereka bertemu.
Ada gairah yang sama-sama menggebu dari sorot mata keduanya.
"Kangen," Kai menurunkan wajahnya untuk mengecup bibir mungil itu.
"Aku juga," balas Krystal sembari menyentuh rahang sang suami. "Kamu mau?"
"Mau lah, apa lagi kalo ditawarin kayak gini."
Krystal terkekeh. Kata orang, pertengkaran suami istri akan segera padam hanya dengan berhubungan badan, dan itu keduanya percayai. Karena, apa pun masalah mereka, kalau sudah menyangkut penyatuan tubuh pasti akan segera selesai. Lucu memang, tapi itulah kenyataannya.
Tanpa banyak bicara, dan sebelum Krystal berubah pikiran, Kai segera memangut bibir sang istri, melucuti pakaian mereka berdua, lalu memposisikan tubuh di atasnya. Tidak masalah bagi Kai kalau setiap hari ia harus mendengar teriakan sang istri, asal hadiahnya seperti ini.
****
adegan nganunya gak boleh yaaa hahaha
terima kasih sudah membaca dan menyukai cerita saya ❤❤❤