Scandal

Scandal
After The Scandal 2


hellaawwww ... hihi sebelum happy reading, aku mau bilang kalo baca part satunya harus benar-benar dipahami ya, soalnya ada aja yang masih salah. duhh aku jadi gemas sendiri.


hihi oke deh, happy reading. maafin aja deh ya kalo ada kesalahan. aku juga nulis ini rada bingung... jiaaaaahhh


****


Namanya Keanu Wira Atmadja, biasa di panggil Ken oleh teman-temannya, dan dipanggil abang kalau di rumah. Kean sungguh remaja yang sangat beruntung, hidupnya serba berkecukupan, besar dengan bergelimang harta, lalu di kelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.


Kean tumbuh menjadi remaja tampan dan digilai semua kaum hawa di sekolah. Menjadi the most wanted, karena bukan hanya wajahnya yang tampan, silsilah keluarga dan kekayaannya pun menjadi nilai utama yang ada di dalam diri Kean.


Kemampuannya dalam menyerap pelajaran di sekolah tentu saja menurun dari sang Bunda. Kean salah satu murid berprestasi, selalu masuk ranking tiga besar di kelasnya. Kean juga mahir bermain basket hingga ia ditunjuk untuk menjadi Kapten Tim setiap kali ada turnamen kejuaraan antar sekolah.


Kini anak itu sudah beranjak semakin dewasa, sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Hal terakhir yang Kean minta dan sangat ditentang oleh bunda adalah memilih berkuliah di salah satu Universitas terkenal yang ada di Bandung.


Iya, Bandung, jarak yang lumayan jauh untuk bertemu dengan keluarganya yang ada di Jakarta. Jelas saja bunda menolak, jarak itu membuatnya sulit mengawasi sang anak sulung. Lagi pula, kenapa harus Bandung sedangkan di Jakarta ia juga bisa masuk di Universitas yang tak kalah bagus.


Bandung.


Demi untuk seseorang. Ck, Kean tidak akan bergerak sejauh ini kalau orang itu bukan lah orang terpenting di hidupnya.


Setelah melakukan perdebatan yang sangat alot, bunda akhirnya menyetujui kepindahan Kean ke Bandung— meski dengan isak tangis tidak rela berjauhan dengan si sulungnya yang tampan. Satu unit apartemen mewah ayah berikan untuk Kean, berserta isinya. Tidak lupa juga dengan kendaraan yang akan ia gunakan kemana pun.


Sudah terkenal sejak kecil karena nama belakangnya, membuat Kean mudah mendapatkan teman. Seperti yang sudah-sudah, akan ada banyak gadis yang menggodanya. Entah karena sunguh-sungguh suka, atau hanya untuk memoroti uangnya saja.


Tak jarang para gadis itu rela menyerahkan tubuhnya untuk Kean, tapi sayangnya ... Kean bukan titisan ayah Kai yang suka sekali menarik wanita untuk di ajak ke atas ranjangnya. Meski pergaulannya memang tidak jauh dari hingar bingar klub malam.


Seperti malam ini, Kean akan duduk pada salah satu kursi bar, memandangi satu sosok yang mengenakan pakaian pelayan sedang berlengak lenggok ke sana kemari menjajakan minuman. Kean bukan tipe lelaki mesum yang gemar memandangi tubuh sexy seorang wanita, tidak, dia tidak seperti itu.


Namun saat ini, sosok itu benar-benar selalu berhasil mengganggunya.


"Eh, Ansa tuh Ansa." Yuda, salah satu teman terbaik Kean berujar penuh semangat. Yuda adalah anak dari salah satu Kepala sekolah yang ada di Bandung. Entah mengapa Kean merasa Yuda sangat tidak cocok menyandang status itu.


Bapaknya kepala sekolah, tapi anaknya suka ke klub malam. Ck, sial sekali bapaknya.


"Widihhh ... body-nya makin hari makin mantab aja, ya?" Kali ini Adam yang berseru. Salah satu teman Kean yang lainnya. "Rela deh gue ngeluarin uang buat bisa ngajak dia ke hotel."


Detik itu juga mata Kean langsung mendelik tajam pada lelaki berkaos putih itu. Mendengkus tidak suka karena sosok yang sedang kedua temannya perbincangkan.


Amar yang ada di sebelah Kean pun terkekeh kencang saat menyadarinya. "Ya elah, Ken, biasa aja kali." celetuknya senang. "Mata lo kayak mau copot."


"Kenapa kenapa?" Adam menyahuti. "Ken gak kelar-kelar ya natap si Ansa."


"Bangke lo!" sungut Kean kesal.


Ketiga lelaki itu pun sontak tergelak kencang. Mereka sudah mengerti mengapa Kean selalu mengajak mereka bertiga untuk datang ke klub malam ini setiap malam sabtu, memangnya untuk apa lagi kalau bukan untuk memperhatikan seorang gadis yang bekerja di sana.


"Udah sih, Ken, lo tarik aja dia. Lo paksa ke apartemen lo, abis itu lo nikmatin sampe puas." ujar Yuda yang sudah gemas melihat kelakuan temannya itu.


Pasalnya, setiap berada di dalam klub malam ini, mata Kean sama sekali tidak lepas memandangi sosok itu. Kean hanya akan duduk di sudut bar, memesan minuman bersoda karena ia enggan menyentuh minuman beralkohol.


"Lo pada bisa diem gak, sih? Udah gue traktir masih aja pada bacot!"


"Gue cuma ngasih solusi, dari pada elo di sini cuma berani ngelihatin dia, mending coba lo ajak kemana gitu." sahut Yuda.


Adam pun menambahkan. "Nah bener tuh, Ken. Emang gak capek apa lo cuma jadi secret admirer nya si Ansa, yang cuma berani ngelihatin dari jauh tapi gak berani ajak ngobrol? Tembak lah, tembak."


"Lo pikir burung ditembak," Amar menyeletuk geli. "Biarin aja, sih, Kean mau apa, ini urusannya dia, jangan pada ikut campur deh lo, masih untung lo berdua ditraktir minum."


"Bukan gitu, Mar. Gue sih seneng-seneng aja ditraktir," Adam menyambar. "Tapi—eh eh ... lihat tuh si Ansa di colek sama om-om, wah parah tuh orang— loh." Dan seketika kalimatnya itu tertahan begitu ia melihat tubuh Kean yang beranjak dari kursinya menuju ke tempat dimana sesosok perempuan yang sejak tadi mereka perbincangkan berada.


"Waduh, bisa ngamuk nih si tayii!" celetuk Yuda samar-samar sebelum Kean menjauh dari meja yanh di duduki oleh ketiga temannya itu.


Mata Kean tidak lepas memandangi tubuh mungil berbalut seragam pelayan itu dengan rahang yang mengeras, dan langkah kaki yang terayun cepat. Ia ingin marah, ingin memukul siapa pun yang mengganggu gadisnya.


"Jauhin tangan lo dari dia!" sentak Kean seraya mencengkram erat pergelangan tangan lelaki di depannya itu. "Jangan sekali-kali lo sentuh dia."


"Ken!"


"Kenapa kamu diam aja sih, Ra?"


Ansara, gadis cantik yang sering di panggil Ansa oleh teman-temannya, sosok yang sejak tadi tidak lepas dari pengawasan Kean. Sosok yang membuatnya betah berlama-lama berada di dalam ruangan bising ini hanya untuk memandanginya.


"Sialan! Lepasin tangan gue! Mau lo gue laporin polisi!"


Ara mendesis sembari berusaha melepaskan cengkraman Kean pada lelaki tambun yang sejak tadi berusaha melecehkannya. "Aku lagi kerja, Ken! Jangan gini, lepasin tangannya."


"Ya Tuhan, Ra ... dia ini udah berbuat kurang ajar sama kamu!" Kean semakin mencengkram kuat pergelangan tangan lelaki itu, hingga ringisan keras terdengar bersahutan dengan suara musik dj yang memekakan telinga di sana. "Harusnya kamu marah!"


"Ini udah jadi konsekuensi dari pekerjaan aku!"


"Brengsek, Ra!!!" bentak Kean yang mulai kehilangan kendali dirinya. "Aku bisa patahin tangan lelaki berengsek ini karena udah nyentuh kamu!"


Ara semakin panik, ia terus berusaha membuat cengkraman Kean lepas pada lelaki tambun ini. Jujur saja, kalau masalah ini sampai terdengar oleh manajernya, Ara mungkin akan kehilangan gajinya bulan ini. "Ken! Aku mohon lepas."


"Aku lepas asal kamu ikut aku."


"Iya aku ikut kamu." Tanpa berpikir dua kali Ara segera menyetujui permintaan Kean. Tangannya langsung ditarik secara paksa, dan tubuhnya dibawa menuju lorong yang ada di dalam klub malam itu.


Ara tahu, Kean-nya tidak pernah berubah. Meski waktu sudah membawa mereka sejauh ini. Hanya saja, kini tidak lagi sama. Dirinya ... bukan lagi Ara yang Kean kenal dulu, dia ... telah berubah.


****


Ini bakal slow update banget karena aku kok jadi ngerasa ketuker-tuker gitu sama si Sean di The Agreement. Baru ngeuh nama mereka itu setipe yaa wkwkwk


Enjoy aja ya genksss