Scandal

Scandal
S2 - Part 24


Haaaiiiiii ini lanjutannya!! percaya deh, yang komen jelek gak akan aku baca dan aku tanggepin, mending diem!


happy reading!


••••


Hari itu Krystal terlalu asik bercerita dengan Rekha di dalam kafe sampai ia lupa waktu. Sudah pukul tujuh malam, dan ia baru sampai di depan rumah. Tadi Krystal di antar oleh supir pribadi keluarga mereka, supir yang dibayar Kai untuk mengatar jemput Krystal dan Kean.


Kini ia sudah keluar dari mobil dan sedang berjalan menuju pintu rumah. Krystal terlihat sangat santai karena tahu Kai pasti akan pulang malam. Ia membuka pintu, lalu masuk ke dalam dan langsung menuju dapur.


Krystal membuka kulkas, mengambil air putih dan menuangnya ke dalam gelas. Saat hendak berbalik menuju ruang tengah Krystal dikejutkan dengan tubuh Kai yang berdiri di undakan tangga terakhir dengan wajah yang sulit sekali ia tebak.


Lelaki itu menatapnya tajam, serta rahangnya mengeras.


"Loh, kamu udah pulang. Biasanya pulang malem." ujar Krystal masih berusaha santai padahal ia takut mendapat tatapan seperti itu dari sang suami.


Kai mendekat. Menghampirinya. "Jadi kalo aku pulang telat kamu juga pulang telat?"


Krystal mengernyit. "Aku cuma ke sanggar tadi, maaf lupa waktu dan gak ngabarin kamu. Gak usah marah kayak gitu, aku juga baru kali ini pulang telat."


Kai berdecih. "Pinter jawab ya sekarang."


Jujur, Krystal takut sekali dengan tatapan mata Kai yang menyorotinya tajam. "Kenapa sih? Ada apa? Kenapa marah-marah terus dari kemarin? Oke aku minta maaf udah bentak Kean dan—"


"BUKAN ITU MASALAHNYA!" Kai berteriak, sangat nyaring sampai Krystal berjengit mundur dan hampir melepaskan gelas di tangannya.


Tanpa memandang Krystal, Kai melemparkan botol pil kontrasepsi yang ia temui di laci lemari itu ke atas lantai hingga isinya berhamburan. Krystal tersentak.


"Punya kamu, kan?" tanyanya tajam.


Mata perempuan itu melebar sempurna, menatap nanar satu persatu pil itu. Seketika jantungnya seperti jatuh ke dasar perut. "Kak, i—itu .... aku bisa jelas—"


"Mau jelasin apa lagi?" Kai berdecih geli. Saat itu juga darahnya mendidih, diikuti gelegak emosi. "Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu, pantes setiap aku bicara soal Kesya kamu seakan yakin banget kalo gak akan hamil lagi ... dan ternyata—" suara Kai tercekat karena menahan emosi yang berkobar. "Shit!!"


"Kak ..." Krystal sudah tidak tahu lagi harus seperti apa, menjelaskan sudah tidak mungkin. Memberi alasan apa lagi. Ia sudah tertangkap basah masih mengkonsumsi pil itu, dan ini seperti bom besar yang menyerang dirinya. Ia hanya bisa menangis dengan wajah menunduk.


Melihat botol itu tadi benar-benar membuat hari Kai sakit. Kenapa Krystal harus berbohong padanya?


"Punya anak itu bukan main-main, kak. Aku cuma memikirkan segalanya, Kean masih kecil, dia masih butuh pertanggung jawaban kita sebagai orang tuanya. Aku cuma mencoba untuk memikirkan masa depan Kean, pendidikannya, dan kasih sayang yang cukup."


"Kamu pikir aku gak bisa untuk itu?"


Krystal menggeleng. "Anak seumuran Kean itu sedang membutuhkan banyak perhatian, aku khawatir kita gak cukup untuk memberi itu."


"Itu namanya kamu ngeraguin aku, Krystal," bentak Kai lagi.


"Kak, bukan" ia menggeleng lagi. " ... aku minta maaf." lirih Krystal sembari menghapus air matanya. "Maaf ..."


"Sampai segitunya kamu gak mau punya anak dari aku?"


"Nggak, kak ... kamu salah paham—"


"Apa?" teriak Kai cukup nyaring. "Apa yang kamu bilang salah paham? Jelas aku tahu kamu gak mau hamil anak aku lagi karena takut anak kamu nantinya memiliki sifat sama kayak aku! Segitu buruknya aku di mata kamu, Krystal!"


Krystal maju selangkah bersama lelehan air mata yang sudah memenuhi wajahnya. "Bukan, aku bakalan jelasin, Kak, tapi jangan kayak gini." ujarnya memohon sembari menyentuh lengan Kai.


Lelaki itu menyentak tangannya, menedang botol sialan itu menjauh. "Udahlah, aku gak mau denger apa-apa lagi keluar dari mulut kamu." Dan kemudian berjalan menuju pintu depan.


Kai memilih menghindar, ia tahu emosinya yang berkobar akan sangat berbahaya untuk Krystal. Kai bisa hilang kontrol dan menyelakai sang istri. Namun, baru satu langkah ia berjalan, Krystal menarik lengannya lagi, membuat ia berhenti.


"Aku mohon."


Berpaling, menghindar dari tatapan mengiba Krystal yang hanya akan membuatnya kasian. Kai lantas melepas paksa genggaman tangan itu, dan benar-benar keluar dari rumah meninggalkan Krystal yang terjatuh ke atas lantai dengan isak tangis yang memilukan.


••••


bagi koin sama poin nya ya genks. buat yang punya ajah heheh kalo ada banyak sumbanglah ke sini hahahah maachii ❤❤❤