
Setelah mengambil semua bukti yang selama ini di simpannya di dalam sebuah brankas yang ada di ruang kerja, Robert pun kembali ke dalam kamar Miranda.
"Bisa kau jelaskan ini!" Robert melempar semua foto-foto Miranda yang tengah berada di sebuah Club malam bersama seorang pria, dan juga foto disebuah ruang seperti kamar. "Dan bisa kau jelaskan kenapa hasil tes DNA ku dengan Lara tidak cocok!" ia memperlihatkan hasil tes DNA tersebut pada Miranda.
Miranda yang tadinya bingung kini sangat terkejut melihat semua foto-foto tersebut apalagi saat membaca kertas yang berisikan hasil tes DNA Robert dengan Lara. Bahkan karena begitu terkejutnya, Miranda sampai tak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang menetes di kedua pipinya melihat semua itu.
"Kau tahu inilah kesakitan yang aku tanggung bertahun-tahun lamanya Miranda, aku mencintaimu sekaligus membencimu. Tapi rasa cintaku lah yang lebih besar sampai menutup mata pada semuanya." Robert terduduk lemah di tepi ranjang.
"Tidak..." Miranda menggelengkan kepalanya. "Dari mana kau dapatkan semua ini?"
"Dari mana aku mendapatkannya itu tidak penting. Sekarang apa kau masih mau menyangkalnya? Apa masih belum cukup semua bukti yang kuberikan."
Baik Miranda mau pun Robert kini saling menatap dalam diam. Sementara sosok yang sejak tadi mendengar perdebatan kedua orang tersebut, dari pintu kamar yang tak tertutup rapat kini menangis sambil berlari menjauh. Sungguh dia sangat shock mendengar kenyataan tersebut, dan berharap semua itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.
Sementara itu di halaman belakang mansion Miranda. Edgar yang membawa Lara ketempat tersebut kini tengah memeluk erat wanitanya.
"Kau jangan menangis, aku akan tetap di sampingmu, menjagamu dan anak kita meskipun sudah menikah dengan Julia" Edgar mengusap perut Lara.
"Lara kau tidak kasihan padaku?" Edgar mengusap air matanya yang sejak tadi menetes, karena memang setiap Lara menangis ia pun akan ikut menangis.
"Jangan menikah dengannya kak, tidak bisakah kita lari seperti kemarin?" pinta Lara dengan mengusap air matanya. "Aku-aku menyukaimu kak, aku mencintaimu, aku tidak ingin kau menikah dengan wanita lain."
Deg.
Edgar bingung kenapa hatinya merasa sangat bahagia dengan ungkapan cinta Lara yang begitu gamblang, tidak seperti kemarin yang masih meragu. Namun jika mengingat hubungan mereka yang sampai kapanpun tidak akan bisa bersama, Edgar pun memilih mengabaikan rasa itu.
"Tidak bisa Lara, selain kita tidak bisa bersama aku pun tidak bisa membalas cintamu. Karena cintaku sudah milik wanita lain, yaitu Kaylin Meyer." Edgar berusaha jujur pada Lara, agar bisa melepas wanita itu demi kebaikan semuanya. Demi masa depan Lara yang bisa di raih kembali wanita itu setelah melahirkan anak mereka nanti. Karena anak itu akan di asuhnya dengan Julia.
Edgar tahu betul keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik, tapi kenapa hatinya merasa sakit. Kenapa hatinya merasa sesak saat mengatakan cintanya milik Kaylin Meyer, seperti ada gemuruh tak terima saat nama itu disebut, karena sejatinya mungkin sudah ada nama Lara di lubuk hatinya yang terdalam.
"Kau jahat kak, kau mencintai wanita lain tapi kenapa meniduriku?" Lara yang marah memukul dada bidang Edgar. "Kau jahat kak, sangat jahat. Aku membencimu Edgar Collins, sangat membencimu."
Edgar pun hanya diam menerima pukulan demi pukulan tersebut, sungguh ia merasa menjadi pria brengsek karena sudah membuat Lara menangis. "Aku rasa aku mulai mencintaimu Lara." Gumamnya dalam hati tanpa berani diungkapkan.