
"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Lily pada adiknya yang baru saja tiba dari toilet.
"Karena tadi aku bertemu Nela dulu di toilet." Jawab Lara dengan acuh sembari meminum jus jeruk milik kakaknya.
"Itu punyaku Lara, kau pesan sendiri!" Lily merebut minuman miliknya.
"Dasar kikir." Umpat Lara.
Lily tidak mempedulikan umpatan adiknya karena ia lebih tertarik dengan perkataan Lara yang mengatakan bertemu Nela.
"Kau tadi bilang bertemu Nela? Lalu dimana dia sekarang? Dengan siapa dia kemari?" tanyanya dengan beruntun.
"Dia masuk kedalam toilet, dan dia bersama siapa mana aku tahu. Tapi yang jelas tadi aku melihatnya dia sedang berbicara dengan seorang pria." Jawabnya dengan cuek.
"Seorang pria?" Lily mengerutkan keningnya. "Siapa?"
"Mana aku tahu kak. Aku kan belum berkenalan dengannya."
"Ck, kau itu." Lily berdecak dengan kesal sambil menatap pada sosok yang tengah mereka bicarakan.
Ya, Nela terlihat keluar dari Cafe bersama satu orang wanita yang dapat dipastikan teman sosialitanya. Dan sosok pria yang dikatakan Lara tak terlihat batang hidungnya, karena jika yang dikatakan adiknya benar seharusnya pria itu juga keluar dari cafe bersama Nela.
Disaat Lily sibuk memperhatikan Nela dengan penuh tanya, Lara justru asik menyendok salad milik kakaknya karena entah mengapa sayuran yang biasanya tidak disukainya kini terlihat menggiurkan.
"Mereka juga sepertinya tadi bertengkar kak." Ucap Lara sambil terus memakan salad milik Lily yang kini berpindah ditangannya.
"Nela dan pria itu?"
Lara menganggukkan kepalanya dengan mulut penuh sayuran.
"Apa yang mereka perdebatkan?" Tanya Lily dengan antusias, karena ia merasa sepertinya ada yang aneh. Bagaimana Lily bisa tahu? Karena ia seorang pemain dan feeling nya selalu kuat, sekuat saat ia merasa para istri dari pria yang dikencaninya mengikuti dan ingin menjebaknya.
"Oh ya ampun, Lara Collins..." Lily yang kesal mencubit tangan adiknya, dan saat itulah ia baru sadar salad miliknya dimakan oleh Lara hingga tersisa satu sendok yang kini masuk kedalam mulut adiknya. "Salad ku..."
Lara pun tersenyum kaku. "Jangan marah kak, aku pesan lagi ya."
"Tidak perlu!" Lily yang kesal memilih menghabiskan jus jeruknya. "Eh tunggu dulu, kau kan tidak suka sayuran? Tapi kenapa kau memakan salad ku."
"Entahlah kak, tapi yang jelas sekarang aku kenyang." Ucap Lara bersamaan dengan mulutnya yang bersendawa.
"Kenyang?" Lily semakin bingung pada adiknya. Yang pertama Lara memakan salad miliknya yang jelas-jelas sangat tidak disukai adiknya itu dan yang kedua Lara mengatakan kenyang. Padahal biasanya Lara akan kenyang setelah menghabiskan satu piring nasi beserta lauk pauknya, jika belum makan nasi adiknya bilang belum makan apalagi belakangan ini nafsu makan Lara meningkat dari pada biasanya sampai pipinya saja menjadi chubby. "Kau benar-benar aneh Lara Collins sama seperti Nela. Ah.. membicarakan Nela aku jadi teringat pada Edgar."
"Edgar..." lirih Lara dengan sendu.
"Bagaimana kabar dia sekarang ya, setelah pergi dari mansion dengan tiba-tiba?"
"Edgar..." Lara kembali menyebut nama pria itu sambil menangis, mengingat sosok yang dua hari ini membuatnya galau.
"Lara kau kenapa?" Tanya Lily dengan bingung karena adiknya tiba-tiba menangis sambil menyebut nama Edgar.
Lara terus menangis tanpa memperdulikan Kak Lily yang terlihat kebingungan mencoba menghentikan tangisannya.
Sementara itu ditempat yang berbeda, lebih tepatnya disebuah ruang kerja di perusahaan Exxon. Edgar yang tengah menatap berkas di ruang kerja milik Dad Robert, tiba-tiba meneteskan air matanya tanpa diinginkan dan disadarinya.
"Aku kenapa?" Edgar mengusap air matanya dengan bingung.
"Ed kau kenapa Nak?" Tanya Robert dengan panik saat melihat putranya yang tiba-tiba meneteskan air mata.
"Aku tidak tahu," jawab Edgar dengan perasaan sesak yang ia rasakan tanpa tahu apa penyebabnya.