Scandal

Scandal
Part 100


"Ya, Mom. Semua yang Nela alami belum seberapa. Tapi Edgar? Dia tidak bersalah dalam hal ini. Dia juga korban sama seperti kita. Bahkan Edgar dengan suka rela menukar nyawanya untuk Lara sampai koma selama berbulan-bulan." Jelas Lily dengan sendu agar hati nurani Mom Miranda terketuk. Karena sungguh ia tidak sanggup lagi melihat kesedihan yang dirasakan adik bungsunya. "Lara, Edgar, mereka korban dari permasalahan yang dibuat kalian."


Deg.


Miranda mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Lalu memilih pergi menuju kamarnya dari pada mendengarkan Lily bicara. Karena ia sendiri mengakui, Lara dan Edgar hanyalah korban permasalahan masa lalunya, Nela, dan Robert.


"Mom kau tidak adil pada Lara. Dia sudah berubah banyak untukmu Mom, tapi kenapa kau masih berkeras hati." Teriak Lily meskipun tidak di dengar Mommy nya.


*


*


Sementara itu ditempat lainnya. Mobil yang ditumpangi Lara dan Robert berhenti tepat di depan gerbang kampus.


"Dad pulangnya tidak perlu dijemput, aku akan pulang bersama Gavi." Ucap Lara sembari mengangkat tas nya hendak membuka mobil.


"Tunggu Nak!" Robert menahan lengan putrinya.


"Terima kasih sayang, terima kasih kau sudah mengabulkan permintaan Daddy."


Robert teringat kejadian setahun yang lalu dimana ia berbicara empat mata dengan Lara saat di rumah sakit. Robert meminta untuk diberikan kesempatan, menebus kesalahan yang selama ini diperbuatnya dengan cara membayar waktu yang telah terbuang selama ini. Dan Lara mengabulkannya dengan memohon pada Miranda untuk tetap tinggal di Jakarta.


"Dad, aku yang harusnya berterima kasih karena satu tahun ini selalu merepotkan Daddy." Dengan mengantar jemput Lara ke kampus layaknya mengantar jemput anak TK. Padahal pekerjaan Dad Robert saja sudah sangat sibuk, tapi masih menyempatkan diri mengantarnya demi mengembalikan waktu yang terbuang diantara mereka.


Robert tersenyum dan kembali mengusap rambut putri ketiganya.


"Aku berangkat sekarang, Gavi sudah menunggu." Lara menunjuk pria tampan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.


"Dad..." Lara memutar kedua bola matanya dengan malas, lalu keluar dari dalam mobil Dad Robert. Menghampiri Gavi setelah melihat mobil milik Daddy nya itu meninggalkan tempat tersebut. "Sudah lama menunggu?" tanya Lara pada sahabat baiknya itu.


"Tidak lama, hanya sekitar tiga puluh menit." Jawab Gavi sembari menatap jam mewah yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Syukurlah, aku kira kau sudah menunggu selama satu jam." Sahut Lara dengan santai tanpa perasaan bersalah.


Gavi reflek mengusap dada untuk menahan emosinya pada Lara, yang tengah tersenyum tanpa dosa sudah membuatnya menunggu selama setengah jam.


"Sudahlah ayo masuk!" Gavi merangkul pundak Lara.


Lara pun berjalan di samping Gavi, tapi baru beberapa langkah kakinya berjalan. Ia langsung menatap kebelakang saat merasakan debaran aneh di dalam dada. Entah mengapa ia merasa seperti ada yang sedang menatapnya dengan tajam, hingga mampu membuatnya bergidik ngeri.


"Kenapa Lara?" Gavi ikut menatap kearah sekitar mereka, sama seperti yang tengah dilakukan Lara.


"Tidak ada, hanya saja aku merasa..." Lara terdiam sembari mengusap tengkuknya.


"Merasa apa?" Tanya Gavi dengan bingung.


Lara menggelengkan kepalanya. "Ayo kita masuk." ia kembali melangkahkan kakinya. Namun lagi-lagi debaran itu kembali terasa, membuatnya kembali menatap kebelakang.


Betapa terkejutnya Lara saat kedua matanya langsung bersirobok dengan kedua mata hazel milik sosok yang selama satu tahun ini sangat dirindukannya. Sosok itu tepat berdiri dihadapannya dengan jarak yang begitu dekat.


"Kak..." lirih Lara dengan menangis.


Edgar yang menatap Lara pun ikut menangis tanpa ada satu kata terucap dibibirnya. Hanya senyuman yang bisa ia perlihatkan karena begitu bahagia bisa kembali menatap Lara. Menatap wanita yang sangat ia cintai dan sangat ia rindukan.