
"Kean dimana?" Kai baru saja tiba di dalam rumah setelah hari libur ini disibukan dengan urusan kantor.
Meski hari sabtu, Kai terpaksa bekerja demi menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi di dalam perusahaan. Padahal hari ini ia memiliki janji dengan Kean kalau akan mengajak anak itu makan es krim.
Anak laki-lakinya itu marah, tidak ingin berbicara dengannya.
"Di kamar, dari tadi nangis. Udah aku ajak makan es krim, tapi gak mau. Katanya mau sama Ayah aja." Krystal mengambil alih tas kerja sang suami, dan disusul sebuah kecupan di keningnya.
"Kamu gimana? Perutnya ada yang sakit gak?"
Krystal menggeleng, melangkah membuntuti Kai yang kini bergerak naik ke lantai atas untuk melihat jagoannya. "Hari selasa aku cek up lagi, kamu nemenin, kan?" tanyanya.
Langkah kaki Kai seketika berhenti, ia berbalik dan menatap sang istri. "Loh, kok dadakan?"
"Gak dadakan kok, aku kan udah bilang dari seminggu yang lalu." Krystal merengut. Pantas Kean ngambek, ia saja merasa kesal saat Kai bertanya seperti itu.
Kai akhir-akhir ini sering sekali melupakan janjinya, sampai Krystal selalu mengulang-ngulang kalimatnya agar Kai mengingat.
"Faktor umur ya, lupaan mulu kamu tuh."
Sekarang giliran Kai yang merengut. Inilah bagian terburuknya menikahi wanita yang lebih muda, selalu mengejeknya soal umur. Tapi ia belum terlalu tua, untuk bentuk fisik dan wajah, Kai masih terlihat seperti lelaki berumur 30an. Tapi, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau kini umurnya sudah menginjak angka 4.
"Kamu mau bilang aku udah tua?" sindir Kai.
Krystal melipat keningnya dalam. "Kapan aku bilang gitu?"
"Tadi ... secara gak langsung kan kamu bilang aku tua?"
Lalu sang wanita tertawa. "Kalo udah tua emang bisa baperan kayak gitu ya?" ledeknya lalu masuk ke dalam ruang kerja Kai.
Sementara sang suami hanya mendengus. Diledek tua tidak membuatnya merasa takut. Yang penting ia masih kuat untuk olah raga ranjang setiap malam.
"Ganti baju dulu," Krystal sudah keluar lagi, menghampirinya yang ternyata masih berdiri di sana. "Abis itu makan."
"Aku mau lihat anak aku dulu." jawab Kai dan melangkah menuju kamar Kean.
Dibukanya pintu kamar itu. Ruangan yang terdapat banyak stiker tobot x serta mainan berbentuk tobot x yang berserakan dimana-mana. Mata Kai mengedar, mencari jagoannya yang saat ini masih marah dengannya.
Pandangannya terhenti pada tubuh mungil yang sedang duduk di karpet bulu sembari memainkan dua tobot x di tangan. Bibirnya refleks tertarik lebar. Kai rindu anaknya itu.
"Hai jagoan," sapanya saat berhasil masuk ke dalam.
Kean menoleh sejenak, lalu membuang mukanya lagi dengan bibir cemberut. Kai semakin gemas melihat itu. Lihatlah, kalau orang-orang mengatakan Kean mirip sekali dengannya, bahkan terlihat seperti duplikat, tapi saat merajuk seperti itu, anak laki-lakinya itu sangat mirip dengan Krystal.
"Hei ... masih marah sama Ayah?" Ia mendekat, duduk mengampar di atas karpet bulu di sebelah sang anak. "Maaf ya, gak jadi makan es krim."
Kean masih terdiam, bibirnya mencebik lebih maju dari yang tadi. "Dimaafin gak Ayah?"
Kepala mungilnya itu menggeleng.
"Yah Ayah sedih dong."
"Ayah jahat." Akhirnya bibir mungil yang sejak tadi tertutup itu mengeluarkan suaranya. "Aku mau makan es krim."
"Maaf ya, Boy, tadi Ayah kerja, nyari uang yang banyak buat beliin Kean es krim."
"Aku punya uang kok." Lalu ia memutar badanya, menghadap sang Ayah. "Aku punya uang tiga," ujarnya lagi sembari menujukan tiga jarinya ke arah Kai.
Krystal pernah bercerita kalau Kean sangat menyukai sesuatu yang manis. Seperti cokelat, es krim, kue. Meski ia selalu tertinggal dengan perkembangan Kean, tapi Krystal selalu membuatnya merasa seperti mengikuti tumbuh kebang anak mereka itu.
Maka, saat kata es krim terucap, Kean akan melupakan marahnya dan berubah menjadi berbinar hanya dalam hitungan detik. Ingat saat Kai membujuk Krystal dengan mekdi saat perempuan itu sedang marah? Itu terlihat sama persis dengan Kean saat ini.
"Oke, ayo kita beli es krim."
Semenjak hamil, Krystal berubah menjadi lebih santai saat Kai memanjakan Kean. Biarlah, masa bodo, Krystal tidak peduli karena uang yang Kai keluarkan itu untuk anak mereka, bukan anak lain apalagi parahnya untuk selingkuhannya. Karena sekarang sedang maraknya pelakor, hampir semua berita isinya seperti itu. Jadi, selama Kai menghabiskan uangnya untuk memanjakan Kean, ia merasa tidak masalah.
Seperti saat ini, bahkan Kai belum sempat mengganti kemeja kerjanya yang sudah lusuh itu untuk masuk ke dalam mini market terdekat. Bebekal dompet tipis yang berisi lima lembar uang seratus ribu, dan juga beberapa kartu berlogo visa signature dan infinite, Kai membiarkan Kean memilih makanan yang ia mau.
"Ayah, aku mau permen." pinta Kean dengan kedipan mata.
"Ya udah, ambil aja semua yang Kean mau."
"Tapi nanti Bunda marah."
"Enggak, kita gak usah kasih tau Bunda."
Dan Kean langsung berseru senang. Selalu seperti itu, Kai akan sembunyi-sembunyi membelikan makanan yang Krystal larang, meski akhirnya ketahuan juga dan ia kena omel.
Kai tipe lelaki yang malas berdebat, apalagi dengan anaknya. Kalau dilarang Kean akan marah, jadi lebih baik berikan saja apa yang anak laki-lakinya itu mau.
"Ada kartu membernya, Pak?" tanya Mbak kasir saat mereka tiba membayar.
"Gak ada."
"Ini mau pake plastik, Pak?" tanyanya lagi.
Kai mendengkus. "Pakelah, Mbak, saya mau bawa pake apa makanan sebanyak ini."
Mendadak Mbak kasir itu salah tingkah. Ia tersenyum tipis menatap Kai. Untung ganteng.
"Ayah ..."
Lalu pandangan Mbak kasir itu turun pada anak laki-laki berusia lima tahun yang ada di sebelah Kai. Duh, udah punya buntut lagi.
"Kenapa?" Kai menanggapi Kean sembari menggendongnya. "Kean mau apa lagi?"
"Ayah aku mau itu." tunjuknya pada meja kasir.
Kai mengernyit bingung. "Apa?"
"Itu, permen warna merah."
Sontak saja Kai dan Mbak kasir tersebut menoleh ke arah benda yang Kean tunjuk.
"Aku mau permen itu, Ayah, dua, ya."
Dalam hitungan detik, Kai merasa wajahnya memanas dan jantungnya berdetak cepat. Kean menunjuk sebuah kotak kecil berwarna merah dengan gambar laki-laki dan perempuan saling berpelukan yang bertuliskan, Sutra.
****
mau diapain sih, Key, permen warna merahnya? itu gak bisa dimakan hahahahah