Scandal

Scandal
S2 - Part 23


Haiiii ... jangan lupa ya dukung cerita ini terus.


happy reading!


••••


Pertemuannya dengan Raisa di dalam toko baju tadi membuat Krystal menjadi tidak tenang. Bayang-bayang kesalahannya dulu karena telah merebut Kai dari Airin terus saja berputar di kepalanya.


Benarkah ia semenjijikan itu dulu? Benarkah ia wanita murahan seperti apa yang telah Raisa katakan?


Perasaannya mulai tidak enak. Cemas, takut, khawatir, terlebih lagi sesak mengingat bagaimana kini hubungannya dengan Kai sedamg berjalan tidak baik.


Lelaki itu menepati ucapannya. Pagi tadi Krystal mendapati tiga orang pembantu yang baru saja datang untuk bekerja di rumahnya karena perintah Kai.


Pekerjaan yang biasa ia lakukan di rumah menjadi tidak ada. Bahkan Bi Ida sampai bingung mau mengerjakan apa karena banyaknya pembantu di dalam rumah itu.


Tidak ingin terlalu larut dengan pikiran buruk di dalam kepalanya, Krystal memilih untuk pergi menuju sanggar lukis yang sudah ia dirikan kurang lebih selama tiga tahun ini.


Melukis bisa membuat stress di dalam diri Krystal menghilang. Ia butuh waktu untuk dirinya sendiri, pertengkarannya dengan Kai, rasa pusing karena permintaan Kean, Krystal bisa meredam itu dengan cara melukis.


Mumpung Kean sedang menginap di rumah Oma-nya, Krystal bisa menghabiskan waktunya sebanyak mungkin di dalam sanggar ini. Bahkan ia sering lupa waktu karena keasikan melukis.


"Ibu," panggil sebuah suara membuyarkan konsentrasi Krystal dari kanvas dan juga kuas yang ada di tangannya.


Ia menoleh, dan mendapati Susi—asisten yang membantu dirinya mengurus sanggar ini sedang berdiri di ambang pintu. "Kenapa, Sus?" tanyanya.


"Di depan ada yang nyariin Ibu."


Dahi Krystal mengernyit. "Siapa?"


"Namanya Bapak Rekha," jawab Susi.


Sontak saja dua bola mata bening itu melebar sempurna. "Rekha?" gumamnya pelan.


Ini Rekha teman kampusnya kan? Rekha yang dulu sering membantunya?


"Ya udah, tolong bilangin tunggu sebentar ya, Sus."


"Iya, Bu."


Bersama rasa bingung yang bersarang di benaknya, serta menerka-nerka apakah Rekha yang datang berkunjung ke sanggarnya adalah Rekha yang sama dengan Rekha teman kuliahnya dulu?


Saat Krystal membuka pintu ruangannya, saat itu juga ia terkejut. Benar, ini benar-benar Rekha teman kuliahnya.


"Rekha?"


"Hai, Krys." Lelaki itu tersenyum sembari berdiri, dan melangkah mendekati Krystal yang masih terkejut. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Hampir lima tahun setelah wisuda saat itu. Dan ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Rekha lagi saat ini.


"Gimana kabar kamu?" Pertanyaan pertama Rekha saat mereka duduk berhadapan di dalam kafe yang tidak jauh dari sanggar Krystal berada.


"Baik, kamu?"


"Aku juga baik." balas Rekha.


Krystal tersenyum memandanginya. "Kamu banyak berubah ya? Kemana aja? Denger-denger kamu gak di Indonesia?"


"Iya, aku disuruh sama ayah aku buat urus cabang perusahaan yang ada di Aussi." jelas Rekha, ia lalu mengesap sedikit hot coffee miliknya. "Oh iya, anak kamu cowok apa cewek? Maaf ya belum sempet lihat."


"Gak apa-apa kok." Krystal menyeka ujung bibirnya yang terdapat noda kopi. "Anak aku cowok, namanya Kean. Dia mirip banget sama Kak Kai. Kapan-kapan kamu harus ketemu sama dia."


"Wah, harus itu. Pasti dia ganteng banget, mirip kamu."


Krystal terkekeh. "Dia mirip banget sama ayahnya. Mulai dari bibir, hidung, dan sifatnya pun juga." Lalu ia menyendu karena teringat oleh Kai.


Ya ampun, Krystal rindu.


"Wow, pasti jagoan banget. Seneng berantem ya?" ledek Rekha.


Sifat Kai memang jelek banget, ya? Rekha saja sudah bisa menebak seperti apa sifat anaknya saat ini.


Krystal tersenyum tipis. "Ya gitu," balasnya sendu. Ia buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, tahu sanggar aku dari mana?"


"Dari temen-temen kampus."


"Oh," Krystal mengangguk. "Emang ada apa?"


Lalu Rekha mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru dari tasnya dan menyodorkan itu ke arah Krystal. "Mau kasih undangan."


"Ya ampun." Mata Krystal berbinar. "Kamu mau nikah?"


"Iya," jawab Rekha semringah. "Dateng ya, bawa Kean sama Kai juga."


"Pasti dong, pasti aku akan dateng." Ia lalu menyentuh punggung tangan Rekha, dan menggenggamnya. "Selamat ya."


"Makasih, Krys."


••••


Terima kasih buat yang udah komentar kasih semangat dan juga kasih Poin sama Koin. buat kalian yang merasa bosan, gak apa-apa kalo gak mau baca, tapi please jangan berkomentar yang gak enak. karena aku bersyukur masih ada yang nungguin cerita ini, jadi kamu yang gak suka bisa berhenti baca mulai dari sini.


jangan lupa koin sama poin ya. maachii ❤❤