
Keesokan harinya.
"Apa? Kau jangan bercanda sayang." Ucap Miranda yang tengah bersiap untuk membersihkan diri sebelum wajahnya di make up.
"Aku tidak bercanda Mom, Kak Rose tidak ada di kamarnya." Lily berkata dengan panik, membuat Miranda terdiam sejenaknya mencerna semua perkataan putri keduanya.
"Awas kalau bercanda, Mom tidak akan memaafkanmu." Miranda bergegas keluar kamar menuju kamar president suite yang ditempati putri pertamanya.
Saat sampai di kamar tersebut betapa terkejutnya Miranda melihat tak ada siapa pun di ruangan tersebut, bahkan koper milik Rose yang semula berada di dekat lemari sudah tak terlihat. Ia pun mencari ke dalam bathroom tapi tetap tak menemukan putri tertuanya, yang ia temukan hanya sepucuk surat yang tergeletak di atas ranjang. Dibukanya surat tersebut lalu membacanya dengan perasaan sesak oleh amarah.
...Teruntuk Mom Miranda....
...Maafkan putrimu ini yang telah mengecewakan dengan melarikan diri di hari pernikahannya. Rose tidak bisa menikah dengan pria yang tidak Rose cintai karena hati Rose sudah milik pria lain. Sekali lagi maafkan Rose Mom. Rose meminta restu untuk tinggal di Korea demi dekat dengan Oppa Lee, pemain film Korea Scandal. Sampai jumpa Mom, I love you....
...Rose...
"Rose..." Lirih Miranda dengan menangis dan hampir limbung jika Lily tidak menangkapnya tepat waktu.
"Mom." Lily yang sejak tadi panik semakin panik saat melihat Mommy nya hampir jatuh tak sadarkan diri. "Mom jangan pingsan dulu. Acara pernikahannya bagaimana?"
Miranda yang tersadar, dengan panik dan menangis memanggil kembali nama Rose sembari keluar dari kamar.
"Temui Daddy mu cepat dan katakan apa yang terjadi. Suruh dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari Rose di bandara." perintahnya dengan panik dan derain air mata.
"Baik Mom." Dengan segera Lily berjalan menuju kamar Dad Robert untuk menjalankan perintah Mom Miranda. "Rose bodoh! Kau meninggalkan pernikahan mu hanya untuk mengejar oppa-oppa tidak jelas itu!" umpatnya dengan penuh amarah karena tadi sempat ikut membaca surat yang ditinggalkan Rose.
"Angkat Rose!" teriak Miranda dengan kesal sambil menatap Lara yang masih tertidur dengan pulas di atas ranjang. Ingin sekali ia berteriak membangunkan putri bungsunya itu untuk ikut mencari Rose, namun jika dipikir-pikir lagi percuma saja karena bukannya membantu, Lara pasti akan membuat masalah semakin rumit.
"Miranda bagaimana ini bisa terjadi?" Robert yang sudah mengetahui dari Lily kalau Rose melarikan diri, langsung pergi menuju kamar istri pertamanya setelah menyuruh anak buahnya untuk mencari Rose di seluruh hotel ini dan bandara.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Miranda masih dengan bingung dan panik.
"Kau Mommy nya kenapa tidak tahu?" Sentak Robert.
"Dan kau Daddy nya, kenapa kau hanya menyalahkan aku?" sahut Miranda dengan tak terima.
"Tentu saja kau salah. Karena selama ini yang mendidik Rose itu kau jadi jangan menyalahkan Robert." Bela Nela tak terima.
"Diam kau ******! Disini kau tidak diajak!" Bentak Miranda sembari mendorong Nela dengan kasar.
"Tante dengar? Disini kau tidak diajak " Lily yang kesal pun menarik Nela keluar dari kamar lalu menutup pintunya dengan kasar. "Mampus kau!" umpatnya dengan tersenyum.
Sementara Robert tak mempedulikan teriakan Nela yang meminta untuk dibukakan pintu, dia juga tidak marah pada Lily karena mengusir istri keduanya. Karena fokusnya kini hanya pada pernikahan Rose yang terancam gagal.
"Bagaimana kita menghadapi keluarga mempelai pria?" Tanya Robert dengan panik. Karena jika Rose tidak ketemu itu artinya mereka mempermalukan dua keluarga besar sekaligus.
"Aku tidak tahu." Sahut Miranda dengan menangis.
Di saat semua orang panik dengan menghilangnya Rose. Lara justru masih asik tertidur dengan pulas di atas ranjang meski sejak tadi di ruangan tersebut terjadi kekacauan dimana Miranda yang menangis dan Nela yang berteriak dari luar kamar seperti orang kesetanan.