Scandal

Scandal
Part 81


Setelah berhasil masuk ke dalam hotel tempat dimana Edgar dan Julia akan mengikat sumpah menjadi sepasang suami istri. Lily pun bergegas mencari dimana kamar hotel milik adik tirinya itu berada, dengan berbekal banyaknya koneksi para pria termasuk pemilik hotel tersebut ia pun mendapatkan nomer kamar Edgar.


Sebenarnya Lily bisa bertanya pada Dad Robert dimana kamar Edgar berada, tapi mengingat dirinya yang berhasil mengecoh para pengawal Daddy nya, pasti Dad Robert tidak akan mau memberitahu kamar Edgar.


"Mudah-mudahan nenek lampir itu tidak ada di dalam." Lily berdoa dalam hati sebelum mengetuk pintu kamar, dan untungnya yang membuka pintu kamar adalah orang yang dicarinya saat ini, yang tidak lain dan tidak bukan Edgar Collins.


"Lily?" tanya Edgar dengan terkejut, sembari menatap kebelakang berharap wanita itu membawa Lara. Namun sayang ia tidak melihat keberadaan wanita yang tengah mengandung anaknya itu.


"Minggir!" Lily segera masuk dengan mendorong Edgar lalu mengunci pintu kamar tersebut.


"Kau mau apa?" Tanya Edgar ketakutan mengingat Lily seorang wanita yang agresif pada semua pria. Apalagi wanita yang berstatus sebagai kakak tirinya itu datang dengan tiba-tiba dan mengunci pintu kamarnya. Bagi Edgar sudah cukup ia melakukan kesalahan dengan meniduri adiknya sendiri jadi jangan sampai kakak tirinya berbuat yang tidak-tidak.


"Aku mau minum." Lily bergegas mencari lemari pendingin untuk mengambil air minum, karena jujur tenggorokannya kering setelah berjalan cukup jauh. Bayangkan saja, seorang Lily Collins model ternama yang biasa berjalan diatas catwalk tadi berjalan di pinggir jalan menuju hotel. Untung saja tadi tidak ada awak media yang mengenalinya, kalau ada pasti dirinya akan sangat malu sekali.


Sementara itu Edgar yang melihat Lily mengambil minuman dingin, hanya bisa terdiam dengan bingung. Bisa-bisanya kakak tirinya itu masuk ke dalam kamar hotelnya hanya untuk meminta air minum. Tidak tahukah wanita itu satu jam lagi dirinya akan menikah dan harus bersiap-siap.


"Jangan bicara!" Lily menarik napas dan mengeluarkan dengan perlahan setelah menengguk minuman bersoda milik Edgar. Kini tenggorokannya yang kering sudah terasa segar kembali. "Ini!" Ia memberikan surat dan hasil USG milik Lara pada Edgar, sebelum pria itu kembali bertanya-tanya. Karena Lily ingin menikmati minuman dingin itu sambil merebahkan tubuhnya di atas Sofa.


"Apa ini?" Edgar membuka sebuah amplop yang diberikan Lily.


"Itu surat dari Lara dan hasil USG anak kalian." Lily menatap ke arah meja dimana ada beberapa kudapan ringan. Ia pun memilih beberapa karena teringat pesan Lara yang meminta dibawakan makanan.


Edgar sendiri tidak mempedulikan apa yang dilakukan Lily, ia sibuk membaca surat yang ditulis oleh Lara.


...Teruntuk Kak Edgar....


...Kak, jika kau membaca surat ini itu artinya hari perpisahan kita, dimana kau akan menikah dan aku akan pergi ke Luar Negeri untuk melanjutkan sekolah sekaligus melahirkan anak kita. Meskipun aku tahu ini salah tapi aku tetap akan mengatakannya kalau aku mencintaimu Kak, berada di dekatmu membuat aku bahagia. Terima kasih atas waktu singkat yang kita lalui bersama, dan aku berharap kau akan bahagia. Aku berikan hasil USG anak kita, agar kau selalu mengingatnya meksipun kita tinggal berjauhan. ...


Selesai membaca surat dari Lara, Edgar menatap hasil USG yang ada ditangannya. Kedua matanya kini berkaca-kaca melihat hasil benihnya yang tergambar di sana meskipun tak begitu mengerti yang mana gambar calon anaknya. Hatinya yang sudah siap untuk menikah dengan Julia, kini kembali meragu setelah melihat hasil USG darah dagingnya sendiri. Seharusnya ia yang mengantar Lara untuk periksa kandungan terlebih sudah berjanji pada wanita itu, bukannya sibuk dengan pernikahannya sendiri walaupun itu dilakukan demi kebaikan semuanya.