Scandal

Scandal
Part 45


Keesokan harinya. Seperti biasa pagi hari di kediaman Miranda begitu ramai dengan suara Rose, Lily, dan Lara yang bercengkrama di ruang makan. Di tambah lagi dengan keberadaan beberapa orang yang sedang memperindah ruangan mereka, semakin membuat ramai suasana di mansion tersebut.


Ya, meskipun pernikahan Rose di selenggarakan di salah satu hotel terkenal yang ada di Jakarta, tapi tetap saja mansion tersebut di hias atas perintah sang pemilik Mansion yaitu Miranda.


Dan saat ini seluruh anggota keluarga Miranda tengah sarapan pagi sebelum mereka berangkat ke hotel, karena rencananya mereka semua akan menginap disana.


"Sayang, Mom bahagia sekali karena besok kau akan menikah." Miranda menggenggam tangan putri tertuanya.


Rose hanya menjawab dengan sebuah senyuman.


"Kak jangan lupa berikan servis terbaik saat malam pertama kalian." Sahut Lily dengan tersenyum jail.


"Lily!" Miranda menatap tajam putri keduanya.


"Aku hanya bercanda Mom."


Miranda menghela napasnya, lalu menatap kembali pada Rose. "Mom sudah tidak sabar memiliki seorang cucu. Ingat kau harus segera hamil jangan ditunda-tunda."


"Mom besok itu Rose baru akan menikah, kenapa malah membicarakan kehamilan dan cucu." Lily kembali menyahut.


"Karena Mom tidak ingin di dahului anak ****** itu. Mom tidak rela jika Edgar memiliki anak lebih dulu dari pada Rose." Karena pernikahan keduanya hanya berjarak satu Minggu, jadi Miranda harus memastikan Rose yang lebih dulu memiliki anak.


"Ya ampun Mom, jadi karena Mom tidak ingin kalah bersaing dari Nela?" Lily tak habis pikir pada Mom Miranda yang masih bersaing dengan Nela, padahal sebentar lagi Mom Miranda akan bercerai dengan Dad Robert.


"Tentu saja, walau pun Mom sudah kalah dalam mempertahankan pernikahan. Tapi Mom tidak mau kalah dari Nela dalam hal lainnya. Jadi Rose setelah kalian menikah dan kau terlambat datang bulan, segera kabari Mom."


Rose lagi-lagi hanya tersenyum tanpa menyahut perkataan Mom Miranda. Sementara Lara yang sejak tadi diam menjadi pendengar yang baik, atau kata yang lebih tepat tidak peduli dengan apa yang dibahas oleh keluarganya. Kini menatap Mom Miranda saat mendengar kata terlambat datang bulan.


"Tentu saja itu penting sekaligus kabar bahagia, karena jika kakakmu itu terlambat datang bulan artinya kakakmu sudah isi. Maksud Mom kakakmu sudah hamil."


Di detik itu juga Lara menyemburkan jus jeruk yang diminum nya hingga mengenai wajah Lily.


"Lara Collins!" teriak Lily dengan kesal.


"Ma-maaf kak." Ucap Lara dengan tangan bergetar dan wajah yang panik. Bukan panik karena Lily marah, namun panik dengan penjelasan Mom Miranda.


"Ck, kau merusak make up ku." Lily kesal karena riasan di wajahnya yang sempurna itu kini luntur oleh semburan adiknya.


Lara sendiri tidak mempedulikan kekesalan Lily karena ada hal yang lebih penting yang ingin ditanyakannya pada Mom Miranda.


"Mom memangnya kalau terlambat datang bulan sudah pasti hamil?"


"Tentu saja sayang, tapi ada beberapa wanita yang terlambat datang bulan karena siklus bulannya memang tidak lancar. Kenapa sayang?"


Lara menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kaku. "Siklus bulananku lancar, dan sekarang aku terlambat datang bulan apa itu artinya aku hamil?" tanyanya dalam hati. "Aku hamil anak Edgar Collins?" Lara kembali menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak..." teriaknya dengan spontan membuat semua orang yang ada di ruang makan kini menatap kearahnya.


"Lara jangan membuat Mom kaget!" sentak Miranda karena terkejut dengan teriakan putri ketiganya.


"Maaf Mom." Lara menundukkan kepalanya dengan jantung yang berdegup kencang. "Tidak Lara, jangan sampai kau hamil. Tidak lucu kalau kau mengandung anak dari kakakmu sendiri."


Rose yang sejak tadi melihat sikap Lara hanya tertawa kecil. Ia tahu adiknya pasti ketakutan dan berpikir sedang hamil karena tadi malam mereka berbicara tentang terlambat datang bulan. Padahal ia yakin adiknya itu memang hanya terlambat datang bulan, karena tidak mungkin Lara hamil. Jangankan hamil, bahkan ia yakin berciuman saja Lara tidak pernah mengingat betapa polos adiknya itu.