Scandal

Scandal
Episode 13


David terkejut dengan suara yanh baru saja Ia dengar, begitu dingin dan tidak berperasaan. David langsung menoleh ke asar suara itu, Ia melihat seorang pria berpakaian rapih tengah menatap dirinya tajam, dengan beberapa pengawal di belakangnya.


David segera beranjak, “Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu? ” pandangan David mengedar ke arah sekitar, mencari dimana sofa yang kosong, lalu Ia bisa mengantarkan pria di hadapannya itu untuk duduk di sana. Pandangan David berhenti pada sebuah sofa kosong di pojok sana.


“Mari, Tuan. ” David meregangkan sebelah tangannya dan mempersilahkan pria itu untuk duduk di tempat duduk yang Ia tunjukan. Namun, pria tersebut malah duduk di samping Raline yanh tengah terkulai lemas karena mabuk.


“Maaf, Tuan. Anda tidak bisa duduk di sana. ” David mencoba mendekati pria tersebut namun segera di halangi oleh beberapa bodyguard yang sedari tadi setia berdiri tegap di belakang tuannya. “Nona, Raline! ” pekik David ketika jemari pria tersebut mulai membelai wajah Raline.


David mencoba berontak dari beberapa orang yang menghalanginya, namun sia-sia, jumlah mereka banyak dan tubuh mereka juga kekar, berbeda jauh dengan badan David yang hanya di bawah rata-rata.


“Sialan! Kau bajiingan singkirkan tangan kotormu dari wajahnya! ” David mengeraskan suaranya.


Perkataannya cukup berhasil membuat pria yang di singgungnya dengan kata-kata umpatannya terpancing emosi. Pria tersebut langsung memberi isyarat kepada beberapa bodyguardnya, di situlah keributan terjadi. Beberapa bodyguard itu langsung melayangkan beberapa hantaman pada tubuh David, membuatnya lemah tak berdaya.


Keramaian suasana club seketika berubah menjadi mencekam dan kegaduhan yang tengah melakukan baku hantam. Tidak ada satu orangpun yang mampu membela atau menolong David. Semuanya hanya terdiam, berdiri mematung dan tidak bisa melakukan apa-apa.


Beberapa menit berlalu, wajah David sudah tidak karuan, badannya pun sudah terkulai lemas di atas lantai dan tidak berdaya. Beberapa orang bartender yaitu teman David, hanya bisa menyaksikan semua itu dengan prihatin. Tidak lama setelah itu, pria yang tadi tengah duduk di samping Raline, yang menyebabkan segala kekacauan itu terjadi, kini mulai beranjak dengan membawa tubuh Raline pada gendongannya. David masih mampu melihatnya, namun Ia tidak berdaya. Di bawa pergi Raline oleh pria tersebut dan di ikuti oleh beberapa bodyguardnya.


Setelah bayangan mereka pergi dan sudah tidak terlihat lagi, beberapa orang tampak mendekati David. Begitupula beberapa bartender yang merupakan teman David, mereka langsung berlari mendekati pria itu dan melihat kondisinya. Mereka dengan sigap langsung membopong tubuh David dan melarikannya segera ke rumah sakit.


“Ada apa ini? ” suara seorang wanita menggema di antara keheningan club malam miliknya. Jenni. Wanita itu baru saja sampai dan mendapati hal yang janggal di tempat hiburan miliknya.


“Nona, David ... Ah tidak. Maksudnya, Nona Raline, di bawa pergi oleh seorang pria tak di kenal. ” Jenni terkejut dan langsung melebarkan matanya setelah mendengar laporan dari salah satu pekerjanya. Ia pun langsung mencoba menghubungi Daniel, Jenni mengurungkan niatnya untuk menghubungi Daniel, Ia tahu bahwa Daniel tidak akan peduli. Tapi, Jenni harus menghubungi siapa? Tidak mungkin jika menghubungi keluarga Raline.


***


Di pegangnya bahu Raline yang tengah tertidur miring agar posisi tidurnya berubah menjadi terlentang. Ia menatap dengan intens wajah Raline, tidak, menatap setiap inci tubuh Raline dari atas sampai ke bawah.


“Berani sekali kau, berpakaian terbuka di hadapan pria lain. ” Ia tersenyum simpul, jemarinya mulai liar menggelitik dan mengelus paha mulus milik Raline. Hanya sesaat, Ia menarik kembali tangannya dari paha Raline, kemudian mendengkus. “Aku tidak suka bermain dengan wanita mabuk, ” ujarnya, lalu menghempaskan dirinya ke samping tubuh Raline.


Manusiawi, Ia tetap saja tidak bisa menahan godaan yang sudah berada di depan matanya. Ia mulai merai tengkuk leher Raline kemudian mencium lembut bibir Raline. Meskipun tidak ada balasan dari gadis itu, wangi dari minuman berakhohol yang tadi Raline minum mampu membuatnya tetap bergairah. Jemarinya liar kembali, memainkan bagian sensitif Raline. Di sentuhnya squishi lembut milik Raline. Seketika ototnya mengejang.


***


Sinar mentari yang meruak masuk melalui selah-selah gorden yang tidak tertutup sempurna mampu membawa Raline pada kesadarannya. Wanita itu mulai membuka matanya ketika waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang hari. Kepalanya terasa berat dan pening, Ia mencoba bangun dari tidurnya dan terduduk sembari menyender di senderan ranjang. Rasa pengar dan mual menghantuinya, Raline tak kuasa menahan gejolak ombak yang terus menerjang perutnya.


“Dimana aku?! ” matanya melebar, Ia baru menyadari dirinya terbangun di tempat yang asing. Lupakam itu semua, yang di butuhkan Raline saat ini adalah pergi ke kamar mandi.


Pandangan Raline mengedar, Ia menemukan satu pintu yang di yakininya adalah pintu kamar mandi. Raline langsung turun dari tempat tidur dan sedikit berlari menuju pintu kamar mandi. Ia melupakan pengar di kepalanya, rasa yang semakin menonjol adalah gejolak ombak di dalam perutnya yang sudah tidak bisa Ia tahan lagi. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika Ia merasakan sakit yang teramat pada telapak kakinya. Raline mengangkat sebelah kakinya, Ia terkejut, melihat kakinya yang sudah mengeluarkan banyak darah dengan pecahan gelas yang masih tertancap di telapak kakinya. Raline menahan jeritannya dengan menutup mulut menggunakan sebelah telapak tangannya. Rasa di perutnya tidak bisa di ajak kompromi, lupakan rasa sakit di telapak kakinya, Raline bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Raline berjongkok di hadapan kloset, memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya. Setelah selesai, Raline langsung menekan tombol yang berada di atas closet guna mengeluarkan air dan menyiramnya hingga bersih. Raline menutup closet duduk itu kemudian duduk di atasnya. Rasa mualnya sudah teratasi, kini sakit di kakinya mulai terasa begitu menyakitkan.


Raline menggigit bawah bibirnya, Ia memejamkan matanya yang sedari tadi sudah basah di banjiri air mata yang terbendung di pelupuk matanya karena menahan pedih dan rasa sakit. Ia mencoba mengangkat kakinya perlahan dan menumpukannya di kaki satunya. Ia berusaha mencabut pecahan gelas itu dari telapak kakinya. Sakit, sangat sakit dan ngilu. Baru saja Raline akan mencabut pecahan gelas itu, tiba-tiba seseorang menghentikan aksinya. Mencengkram pergelangan tangannya dengan erat.


“Kau?! ”