
Holllaaaaaa .... maaf kemarin gak up, aku sibuk sekali. sekarang juga masih sibuk tapi aku sempet-sempetin. semoga suka sama part ini.
Happy Reading!!!
••••
Setelah menitipkan Kean dan Naira pada kedua wanita tua yang sekarang sedang berada di rumah Krystal, mereka bertiga akhirnya berangkat menuju tempat dimana Kai berada saat ini seperti apa yang di katakan oleh seseorang yang telah mengirimi pesan pada Krystal tadi.
Bukan Krystal yang terlihat marah, melainkan Airin. Sejak tadi perempuan itu menggerutu, memaki, mengumpat pada sosok Kai yang mungkin sekarang sedang bersama wanita lain. Berulang kali Rendi berusaha membuat mulut sang istri bungkam, agar perempuan yang duduk di jok belakang dengan tubuh lemas seperti mayat hidup itu tidak ikut-ikutan cemas seperti kakaknya.
Krystal masih terdiam dan wajahnya menunduk dalam. Sepanjang perjalan ia terus berdoa, berharap semoga informasi yang ia dapat tentang Kai adalah hoax atau palsu. Atau Kai sedang mengerjai dirinya seperti perayaan hari ibu di Bali.
Jantung Krystal terus berdetak kencang, apa lagi saat mereka masuk ke dalam gedung apartemen itu. Langkah kakinya bergetar, tapi juga terlihat terburu-buru.
Lantai sepuluh, lift itu berhenti. Lorong apartemen itu menjadi sangat gelap untuk Krystal, jantungnya berdebar tidak karuan. Airin sudah berjalan lebih dulu di depannya, sementara Rendi berusaha untuk membuat Krystal tenang dan mengusap lengannya lembut.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Krys. Tenang, ya." ujar Rendi kala itu.
Airin yang mendengar itu seketika mendelik kesal. "Tenang-tenang! Kamu gak tahu perasaan perempuan kalo kayak gini! Awas aja kalo beneran si Kai ada di situ, bakalan gue habisin! sama tuh perempuan juga bakalan gue abisin!"
Mereka bertiga berhenti tepat di depan sebuah pintu. Tidak butuh waktu lama, Airin yang tidak memiliki kesabaran langsung membuka pintu itu meski sebelumnya Krystal sudah mengatakan untuk mengetuknya.
Entah ini sebuah kebetulan atau sudah di rencanakan. Pintu itu tidak terkunci hingga dengan mudah mereka bisa masuk ke dalam sana. Krystal memberanikan diri melangkah semakin dalam, menelusuri ruangan untuk sampai ke dalam kamar, lalu ... ia bisa melihat dengan jelas sosok sang suami di atas ranjang itu.
Sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat, sesuatu yang membuat dunianya hancur. Bahkan Airin yang melihat pun merasa sangat sakit, apa lagi Krystal. Ia masih berdiri menatapi kedua orang itu, kesadarannya seperti hilang. Ia kehilangan semuanya, kewarasannya, harga dirinya, dan hatinya.
Airin menganga dengan rahang terbuka lebar. Matanya melotot tajam dan desisan tajam terdengar sekali keluar dari bibirnya.
"Brengsek!"
Itu bukan suara Krystal, bukan juga suara Rendi, itu suara Airin yang langsung menghampiri kedua orang yang kini sedang berada di atas ranjang.
Kai menoleh mendengar itu. Kedua matanya langsung membelalak lebar saat melihat sang istri sedang berdiri tidak jauh darinya dan menahan tangis di sana.
"Krys?"
"Brengsek lo, Kai!" Satu tamparan dari Airin mendarat di pipinya. Lebih dari itu, Airin yang sudah gemas dengan perempuan di bawah Kai saat ini segera menghajarnya. "dasar perempuan setan!" Ia menjenggut perempuan itu, menarik turun dari ranjang.
Kai segera berlari mengejar Krystal yang sudah menghilang dari sana. Ia memilih untuk pergi secepat mungkin untuk tidak menahan rasa sakit lebih banyak akibat melihat adegan itu.
Airin masih menjenggut perempuan itu, memaki-makinya, sedangkan Rendi segera menghentikan aksi bar-bar sang istri.
"Lepas, Rin, dia bisa mati." cegah Rendi.
Perempuan yang Airin jenggut itu meronta. "Aduh, sakit ... lepas!"
"Sakitan mana sama adek gue, brengsek!"
"Rin, ya ampun jangan kasar gini!" Rendi masih berusaha melepaskan tangan Airin dari rambut perempuan itu.
"Saya cuma di perintah, mbak, aduh ... saya cuma di suruh tolong jangan sakitin saya."
Reflek jambakan Airin melemah. ia tekejut dengan mata melebar. "apa lo bilang? di suruh siapa?"
perempuan itu meringis sambil mengusap kepalanya yang sakit. "Saya di suruh sama mbak-mbak cantik, saya gak tahu namanya."
****
Krystal terua melangkah tidak tentu arah, kakinya terasa berat, dan matanya berkabut. ini gila, apa yang ia lihat di dalam sana sangat gila. Ia sudah tidak punya kakuatan apa pun, yang ada di dalam kepalanya hanya mengambil Kean dan pergi dari rumah itu.
Tubuh Krystal tidak begitu kuat saat ada sebuah tangan yang menahannya dan membalikan tubuhnya cepat. Sisa-sisa kesabaran yang Krystal punya sirna begitu saja. Ia benci wajah ini, ia benci semua yang ia lihat di dalam sana.
"Aku bisa jelasin, sayang."
Kalimat itu akan menjadi kalimat paling Krystal benci setelah kejadian ini. Apa lagi yang ingin Kai jelaskan? Kejadian di dalam kamar tadi sudah menjadi bukti jelas apa yang lelakinya itu lakukan.
"Please, sayang. Kamu harus dengerin aku."
Krystal bungkam. Ia tidak meneteskan satu air mata pun. Ia menahan itu.
"Krys—"
Pernahkah ia menampar Kai? Ia sangat menghormati suaminya ini, tapi itu dulu sebelum ia melihat semuanya tadi.
"Aku capek ... aku capek dengan sifat kamu yang seperti ini."
Kai menggeleng. "Nggak sayang, aku minta tolong kamu dengerin ak—"
"Aku mau pisah."
••••
Berikan dukungan kalian berupa vote dan like. poin dan koin bagi yang punya boleh hibahin ke sini. maachiii ❤❤❤
Oh iya, maaf ya kalo ada kata-kata gak nyambung dan typo karena aku ngebut banget ngetik ini... harap maklum aku pekerja juga soalnya ... maachii ❤❤❤