
haiii ... haha tadinya bingung mau update ini, soalnya lagi seneng banget update The Agreement. yang belum baca jangan lupa mampir yaa
happy reading yaayy
****
Ini bukan waktu yang tepat, maksudnya di dalam suasana berkabung, Krystal tidak mungkin menuntut penjelasan pada Kai atas kehadiran Devia di tengah-tengah mereka. Apa lagi kehadiran wanita itu hari ini.
Krystal tidak mau gegabah, ia bukan seorang abege lagi seperti pertama kali Kai menikahinya. Mereka berdua sudah mengarungi biduk rumah tangga selama hampir enam tahun, dikaruniai satu anak dan sebentar lagi akan menjadi dua.
Meski angka enam bukan usia yang cukup lama, tapi ia mengenal sekali sosok sang suami. Di tambah, beberapa masalah yang sudah mereka lewati. Krystal tidak ingin sikap gegabahnya malah berdampak pada sesuatu yang tidak baik untuk pernikahan mereka ke depannya.
Ia sadar, sedang ada benalu yang mencoba menjerat pernikahan mereka, tapi bukan dengan cara bodoh untuk membunuh benalu tersebut. Ada banyak cara yang lebih elegan hingga benalu tersebut tercabut hingga akar-akarnya.
"Kok bengong? Kenapa?"
Krystal menoleh saat suara Kai yang sedang berdiri di ambang pintu kamar mandi terdengar. Lelaki itu baru saja keluar setelah selesai membersihkan diri dengan handuk yang melingkar di tengkuknya.
Krystal tersenyum, mengamati Kai dari sofa yang ia duduki. "Gak ... cuma lagi mikirin beberapa hal aja."
"Seperti?" Kai mendekat, menjatuhkan bokongnya di sebelah Krystal. Harum wangi sabun langsung menguar begitu saja ke dalam indera penciumannya.
"Devia itu ... klien kamu untuk pembangunan di Makassar?"
"Iya, dia perwakilan dari pihak Adyaksa." ungkap Kai jujur.
"Berarti yang lagi itu kamu gak jadi makan siang di rumah, gara-gara makan siang sama dia?"
Untuk yang ini Kai langsung terdiam. Bukan apa-apa, ia tidak ingin Krystal berpikiran buruk tentang mereka. "Kamu marah?"
"Loh ... kan aku tanya." Wajah Krystal terlihat santai, bahkan masih ada senyum manis yang bertengger di wajahnya. "Cuma penasaran aja, aku gak marah kok."
Kai menunduk. Tidak pernah sekali pun Kai merahasiakan Klien-nya pada Krystal, tidak jika itu menyangkut Klien perempuan. Ingat perempuan bernama Indah yang menjadi klien-nya atas pembangunan Resort di Bali. Kai juga merahasiakan namanya dari Krystal. Ia melakukan itu semata-mata tidak ingin kalau sang istri berpikiran buruk.
Karena sumpah demi apa pun, tidak ada di pikiran Kai sedikit pun untuk berpaling dari Krystal, atau tertarik dengan semua klien perempuannya. Jujur, ia memang brengsek di masa yang dulu, tapi setelah menetapkan hati hanya untuk Krystal, Kai bersumpah untuk menjaga hatinya untuk perempuan itu seorang.
"Jadi perempuan? Siapa namanya?"
"Iya, Devia." jawab Kai.
"Yang telepon malam itu juga dia? Yang kamu memilih menerima telepon keluar dari kamar?"
Kai menghela napasnya, menatap Krystal penuh sesal. "Maaf sayang kalo kamu ngerasa aku gak jujur. Tapi aku berusaha banget buat jaga perasaan kamu. Aku gak mau kamu berpikiran yang aneh-aneh saat tahu kalo klien aku perempuan." Ada jeda sesaat. "Apa lagi kamu baru banget keluar dari rumah sakit kan, kandungan kamu juga gak baik-baik aja saat itu."
Krystal terkekeh, menangkup wajah sang suami dengan sorot mata memaklumi. "Aku gak masalah kok. Yang penting kamu cerita."
"Sebenarnya aku udah serahin pembangunan ini ke Arkan, aku gak mau ke Makassar dan ninggalin kamu. Cuma pihak Adyaksa yang minta aku secara langsung untuk turun tangan."
Benar kan, ada alasan di balik ini semua. Tapi, yang perlu Krystal garis bawahi kalau ternyata perempuan benama Devia ini memang sengaja mengajaknya melakukan perang batin, ia tidak ingin menikung terlalu jelas, hanya saja Devia berusaha menyerangnya hingga Krystal sendirilah yang memilih mundur.
Oke, jika seperti itu, ia akan mengikuti permainan wanita ****** itu.
"Kamu balik ke Makassar kapan?"
"Lusa ... tapi kalo kamu masih mau aku temanin di sini, aku bisa minta waktu untuk balik ke sana."
"Jangan." Krystal menyengir kaku, membuat Kai merasa ada keanehan. "Kalo kamu tunda malah tambah lama selesainya nanti. Kamu bilang seminggu, kan? Udah tiga hari, berarti empat hari lagi."
"Mungkin lebih dari empat hari, pas aku tinggal ada sedikit masalah kemarin."
"Gak apa-apa, yang penting kamu selesain aja dulu urusan di sana."
Kai mengernyit bingung. "Kamu yakin?" Krystal tidak pernah sebijaksana ini kalau menyangkut urusan ditinggal pergi oleh samg suami, apa lagi saat tahu ia bekerja dengan seorang wanita. "Kamu kenapa, sih? Aku gak mau ya pulang dari sana malah dapet wajah cemberut dari kamu."
"Iya, aku serius. Asal hape kamu selalu aktif dan gak boleh lepas dari tangan."
"Oh ..." Kai mengangguk. "Masalah kemarin pas kamu telepon aku, terus gak aku angkat? Aku minta maaf ya, karena ada masalah di sana jadi aku juga lupa taro hape dimana, perasaan aku gak tinggal kemana-mana, tapi bisa ada di ruang rapat. Aneh kan?"
Iya aneh, tentu saja karena pelakunya adalah wanita licik itu.
"Tentang izin pembangunan gitu, jadi ada beberapa berkas yang memang kurang. Pihak Adyaksa kurang teliti. Aku pusing banget kemarin juga, itu pun pas lagi terima tamu aku masih di telepon sama Dimas dari sana."
Oke, membahas tentang Devia mungkin setelah Kai pulang dari Makassar, Krystal tidak ingin menambah beban sang suami dengan ancaman Devia yang ia terima kemarin.
"Ya udah, tidur yuk." ajak Krystal.
Kai mengangguk, lalu menggendong tubuh Krystal untuk ia baringkan di atas ranjang. Selama mereka terpejam, Krystal tidak benar-benar tertidur. Pasalnya, tadi ia sempat membuka ponsel Kai, membaca setiap pesan yang masuk dari nomor Devia.
Perempuan itu memang licik seperti ular. Ada banyak pesan manis yang ia tunjukan untuk Kai. Seperti mengingatkan makan, memberi semangat untuk kepergian papa Ryan. Sampai mengajaknya makan di luar.
Untung saja Kai menanggapinya dengan dingin, kalau tidak mungkin Krystal sudah mengamuk dan melempar ponsel itu ke tembok. Balasan Kai untuk pesan Devia terkesan lebih menghormati sebagai rekan kerja, meski dibalas tapi tidak ada kalimat merayu atau menyetujui ajakan wanita itu.
Meski tidak mengambil pusing, tapi Krystal tetap saja merasa tidak tenang. Ia meraih ponselnya, membuka satu aplikasi media sosialnya, mencari nama Devia di sana. Tidak susah mengingat Devia adalah anak pengusaha.
Benar saja apa yang ada di pikiran Krystal, Devia memposting foto dirinya dan Kai di sana, hampir lima foto di antara ratusan foto yang ada di akun media sosial wanita itu. Dua di Makassar, dan tiga saat makan siang.
Deviadyaksa : Semoga apa yang kita sepakati berjalan lancar.
Dan yang lebih menyebalkan saat Krystal melihat caption dalam foto yang lain. Ketika Devia dan Kai berdiri di depan tanah luas.
Deviadyakas : Bersama~
Tidak lupa wanita itu juga menambahkan emoticon smile bermata hati dan menandai akun Kai—yang Krystal yakini tidak pernah lagi dibuka oleh sang suami. Bahkan hanya ada tiga foto di sana. Foto pertama menampilkan gelas minuman di black devil yang di posting oleh Kai tujuh tahun yang lalu. Dan dua foto lainnya menampilkan kebersamaan Kai dengan Sean dan Chandra.
Sial! Krystal gemas sekali ingin menampar Devia saat ini.
Menoleh ke arah Kai yang sudah terlelap, Krystal mendengkus kesal. Ia raih ponsel Kai yang berada di atas nakas, mencari aplikasi media sosial yang ternyata tidak sama sekali Kai download. Krystal ingin memberi pelajaran pada Devia dengan mengunggah foto mereka berdua di akun Kai, tapi lelaki itu malah tidak memiliki aplikasinya.
Membangunkan Kai, Krystal menanyakan password akun media sosial milik sang suami.
"Aduh aku lupa, Krys." jawabnya setengah ngantuk.
"Inget-inget dong!"
"Lupa."
Gemas. Krystal menggoyangkan bahu Kai saat lelaki itu hendak menutup matanya lagi. "Coba inget dulu."
"Buat apa sih, lagian?"
"Ada, rahasia."
"Duh ..." mata Kai terpejam lagi, tapi Krystal tahu kalau sang suami sedang mengingat password akun itu. "Coba kamu ketik, pangeran jantan."
"Ih ... gak banget sih, password-nya."
"Ya itu kan dulu, masih alay." jelasnya sebelum kemudian menarik selimut lagi dan kembali terlelap.
Krystal membuka akun Kai dari aplikasi yang ada di ponselnya, dan berhasil. Sebelum mengupload foto mereka, Krystal mendengkus pelan ke arah sang suami. "Ck, pangeran jantan apanya coba."
Satu foto yang menampilkan Kai yang sedang mencium bibirnya Krystal pilih sebagai foto pertama untuk menyerang Devia.
Kaisar_wiraatmadja : Selamanya bersama ❤ @Krystalputri
Krystal terkekeh setelah tulisan berhasil muncul di layar. "Tenang, ini baru serangan pertama." gumamnya.
Tak lama ia mendapati satu notifikasi masuk.
Deviadyaksa mengometari postingan anda : Pasti bukan Kai yang posting hehe
Akhhhh! Ratu ular ini ternyata benar-benar mencari perkara dengannya.
****
hehehe Krystal mulai berani melawan musuhnya.
thank you ya buat yang masih baca hihihi