
Edgar yang sangat bingung dan terkejut dengan permintaan Miranda, kini menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan memohon agar Miranda tidak memberikan pilihan yang sulit itu. Karena sampai kapanpun dia tak akan bisa memilih antara Mom Nela dan Lara, karena keduanya sang berarti dalam hidup Edgar.
"Tidak bisakah permintaan itu diganti dengan yang lain? Aku tidak bisa memilih, karena keduanya orang yang paling aku sayangi dan cintai di dunia ini." Pinta Edgar dengan memohon.
Miranda menjawab dengan gelengan kepala, mempertegas apa yang dimintanya tidak akan bisa dirubah. Karena bagi Miranda sudah cukup dirinya memberikan kesempatan pada Nela dengan tidak menjebloskan wanita jahat itu ke dalam penjara.
"Sekarang keputusan ada di tanganmu Ed!"
Edgar pun menatap pada Lara dengan tatapan sendu. "Aku—"
"Edgar bersedia."
Bukan Edgar yang menjawab tapi Nela. Dia memberanikan diri masuk ke dalam rumah Miranda, setelah sejak tadi diam mencuri dengar pembicaraan mereka yang ada di ruang tamu.
"Siapa yang mengijinkan kau masuk ke rumahku?" Miranda yang tak terima langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Mom..." Rose dan Lily berusaha menenangkan Mom Miranda yang terlihat emosi dengan kedatangan Nela.
Sementara Edgar langsung menarik Mom Nela untuk melindungi ibu kandungnya, agar kejadian beberapa Minggu yang lalu tidak terulang lagi.
"Miranda dengarkan dulu aku bicara." Pinta Nela dari balik punggung Edgar.
"Aku tidak ingin mendengar apa pun yang ingin kau katakan." Miranda yang sangat marah hendak mengusir Nela.
Nelson dan Robert yang melihat hal tersebut kini tahu alasan kenapa Miranda memberikan persyaratan tersebut, karena ternyata wanita itu masih tidak bisa menahan emosi jika berada di dekat Nela.
"Mom..." Edgar menatap kebelakang, menatap Ibu nya dengan menggelengkan kepala.
"Edgar susah saatnya aku memberikan apa yang kau inginkan, bukan apa kuinginkan seperti yang selama ini Mom lakukan." Nela mengusap wajah putranya dengan penuh kasih. "Sudah saatnya kau bahagia Nak."
Edgar masih menggelengkan kepalanya. "Tidak Mom, aku tidak akan mungkin bisa melakukannya."
"Kau harus bisa, demi kebahagiaan Lara." Nela menatap putri ketiga Miranda. "Maaf karena aku, kau keguguran."
Lara hanya diam dengan air mata yang menetes dikedua pipinya. Sementara Nelson, Robert, Lily, dan Rose juga diam tanpa ada yang berani untuk bersuara karena melihat Miranda yang terlihat masih begitu emosi.
"Miranda aku tahu kesalahanku sudah terlalu banyak padamu, bahkan dengan aku mati sekali pun tidak akan bisa membayar semua kesalahan yang telah ku perhuat. Aku titip putra kesayanganku Edgar."
"Mom jangan seperti ini." Edgar tidak akan pernah tega hidup berbahagia dengan wanitanya namun sang ibu tinggal seorang diri. Ia pun menatap pada Miranda masih dengan tatapan memohon. "Aku sangat mencintai Lara, tidak bisakah Anda memberikan persyaratan yang tidak memberatkan seperti ini. Aku bersedia memberikan seluruh kekayaanku pada Anda Mom Miranda, asal jangan kau pisahkan aku dengan Lara dan Mom Nela."
Namun Miranda hanya diam saja, seolah permintaan Edgar tidak didengar sama sekali oleh wanita tersebut. Sementara Lara yang sejak tadi diam kini menatap Mom Miranda dengan tatapan yang memohon sama seperti Edgar.
"Mom tidak adakah cara lainnya? Misalkan aku menikah dengan Kak Edgar tapi kami tetap tinggal di rumah masing-masing? Jadi Mom tidak perlu bertemu Aunty Nela begitu pun sebaliknya."
"Kalau begitu caranya untuk apa kalian menikah jika tinggal masing-masing." Sahut Lily dengan menghela napasnya.
"Iya juga, untuk apa kita menikah kak?" Lara balik bertanya pada Edgar.
Membuat semua orang kini menghela napas mereka, karena perkataan Lara yang selalu membuat mereka kesal.