
haiii, happy reading yayyyy!!
****
Kai membuka pintu kamarnya dengan pelan. Satu jam yang lalu ia baru saja mengantarkan Krystal pulang dari rumah sakit. Istrinya itu terlihat sangat pucat dan lemas, matanya yang bengkak akibat menangis membuat hati Kai meringis.
Perempuan yang sudah ia halal kan itu kini sedang terduduk di tepi ranjang dengan pandangan menerawang lurus manatap dinding kamar.
Tidak tega, Kai pun menghampiri. "Hei," tegurnya seraya duduk di sebelah sang istri.
Krystal menoleh pelan, menarik bibirnya untuk membalas sapaan sang suami. "Kamu mau makan?"
"Gak, tadi aku udah makan di rumah sakit," kilah Kai, padahal ia belum makan, tapi tidak akan menyusahkan Krystal. "Kamu mau makan?" Ia bertanya balik.
"Aku gak laper," jawab Krystal dengan gelengan lemah.
"Harus makan, Sayang. Di sini ..." Kai menyentuh perut Krystal, dimana anaknya berlindung dalam kandungan sang istri. "Ada anak kita, dia butuh nutrisi."
Krystal menunduk, menatap tangan Kai yang sedang mengelus perutnya. Ya ampun, ia melupakan bayi mereka. Meski ia tidak lapar, tapi ada makhluk hidup lainnya yang tinggal di dalam perutnya.
"Maaf, aku ngelupain dia." Krystal menyentuh punggung tangan Kai yang berada di perutnya. Matanya kembali memanas. "Harusnya aku gak kayak gini."
"Krys," kini Kai menangkup kedua sisi wajah Krystal dengan telapak tangannya, membuat pandangan mereka saling mengunci. "Jangan nyalahin diri kamu sendiri. Kamu gak salah, aku yakin kok papa Ryan akan sembuh dan segera sadar."
"Aku cuma takut ... aku takut kalo gak ada waktu untuk mengatakan semuanya."
"Jangan berpikiran buruk. Sekarang cuma berdoa yang bisa kita lakuin." Kai menghela pelan. "Pasrah, Krys. Semua yang terjadi atas seizin Tuhan, yang penting kita sudah berusaha melakukan apa yang bisa kita lakukan."
Pandangan Krystal berkabut karena tertutup air mata yang menggenang. Ia mengangguk samar. "Aku akan melakukan yang terbaik untuk papa." Lalu cairan bening itu menetes cepat, mengalir melewati pipinya, dan pecah di atas tangannya.
Kai tidak tega, sumpah demi apapun, ia sangat sakit setiap melihat air mata Krystal. Dengan cepat ia hapus jejak-jejak cairan bening itu, lalu mengecup kedua mata Krystal, kemudian turun mengecap bibirnya.
Cukup lama.
Untuk memberikan kekuatan untuk sang pujaan hati, sebelum kemudian menjauhkan wajah mereka.
"Udah lebih tenang?" tanya Kai.
Krystal hanya memberi senyuman tipis membalas sang suami. Sentuhan Kai tidak pernah tidak berhasil membuatnya tenang. Lelaki ini, ya Tuhan bagaimana Krystal harus menggambarkannya. Meski dulu Kai terkenang sangat emosian dan tidak bisa mengendalikan diri, kini sosok itu telah berubah.
Betapa sabarnya lelaki itu dalam menghadapi keinginannya. Bagaimana Kai memperlakukannya, Krystal layaknya sang ratu yang harus ia layani. Tidak salah kalau ia selalu merasa jatuh cinta dengan lelaki itu.
"Makasih, Sayang ... makasih udah kasih aku kehidupan seperti ini."
Lalu, di detik selanjutnya. Krystal memajukan wajahnya hanya untuk mengecup bibir Kai. "Manis banget sih kalo ngomong kayak gitu."
"Buat kamu apa sih yang gak manis."
Memicik, Krystal melipat bibirnya untuk mencibir. "Takut ah, diabetes nanti aku." kelakarnya demi merubah suasana di antara mereka. "Oh iya, Kean dimana?"
"Kean aku titip ke rumah mama Rena." Jelas Kai.
Tiba-tiba raut wajah Krystal berubah sendu. "Terlalu mikirin papa sampe aku lupa sama anak aku."
"Gak apa-apa, Kean anteng kok sama mama."
"Jemput anak kita yuk, aku mau peluk dia." Krystal menatap Kai dengan sorot mata bening. Ada sirat penyesalan di sana.
Iya, setelah berjam-jam, bahkan hampir seharian berada di rumah sakit, Krystal melupakan anaknya itu. Bukan hanya anak sulungnya, tetapi suami dan anaknya yang masih berada di dalam perut saja Krystal melupakannya.
"Tunggu di rumah aja, katanya mama mau anter ke sini."
"Kapan? Udah jalan? Kalo belom kita yang ke sana aja. Kean udah tidur siang kan? Dia makan apa?"
Menarik bibirnya tersenyum, Kai mengangguk untuk membalas pertanyaan beruntun Krystal. Tidak ingin membuat istrinya cemas, Kai menjawab semua pertanyaan itu dengan jelas.
Kean sudah tidur siang, dan baru bangun jam tiga sore. Ia juga sudah mandi, Kean juga makan banyak masakan mama Morena bahkan sampai nambah. Kean sangat senang, ia bermain di taman bersama papa Kevin. Tadi ia meminta dibelikan es krim di mini market.
Begitu yang mama Morena jelaskan pada Kai tadi.
Mendengar penjelasan Kai membuat Krystal merasa sedikit lebih tenang. Perempuan itu menghela berkali-kali, kemudian menghambur memeluk tubuh Kai. "Tegur aku ya kalo aku ada salah. Ingatkan aku kalau aku lupa dengan tanggung jawab ku."
"Kamu udah melakukan tanggung jawab kamu dengan sangat baik, Krys. Kesalahan kamu itu wajar, kamu hanya seorang manusia. Kamu juga masih menjadi seorang anak dari papa Ryan. Wajar kalo kamu sedih, aku gak mungkin paksa kamu untuk melupakan papa Ryan." Kai membalas pelukan itu dengan sama eratnya. Mengelus punggung Krystal lembut. "Yang penting, kamu jangan terlalu berlarut. Inget kandungan kamu. Aku cuma gak mau kamus sedih dan sakit. Jadi aku akan ingatkan kamu kalo kami juga butuh kamu, Krys."
"Makasih ya, Kak, udah mau mengerti keadaan aku."
"Itu kan gunanya suami istri."
****
sehat sehat ya klean semua, semoga ujian ini segera berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasa.
betewe aku mau bikin kisah Kean sama Ara, menurut klean gimana? yang jelas bukan sekarang, mungkin kalo The Agreement udah berakhir aku bakalan lanjut cerita Kean sama Ara yang udah abege haha