
"Mom sebenarnya kita mau pergi kemana?"
Lara menatap Mom Miranda dan ke-dua kakaknya dengan aneh, karena tidak biasanya mereka pergi dengan formasi lengkap seperti saat ini jika tidak ada acara yang penting. Apalagi pakaian yang mereka kenakan warnanya sama, yaitu hitam. Sudah seperti datang ke pemakaman saja.
"Kita akan menghadiri acara pernikahan Edgar." Jawab Miranda.
"Oh..." Lara menganggukkan kepalanya.
"Hanya oh?" Tanya Rose dan Lily bersamaan dengan wajah yang terkejut, begitu pun Miranda.
"Lalu aku harus bilang apa? Wow gitu?" Lara tertawa sembari menggelengkan kepalanya. "Memangnya apa yang spesial dengan menghadiri acara pernikahan —" Lara terdiam saat otaknya baru mencerna perkataan Miranda tadi. "Apa! Edgar akan menikah?" tanyanya dengan terkejut.
"Yah.. dia baru konek." Celetuk Lily dengan menghela napasnya.
"Maklum colokannya sudah korslet." Sahut Rose dengan tertawa. Menertawakan adik bungsunya yang selalu lamban dalam berpikir.
Lara sendiri tidak mempedulikan ejekan kedua kakaknya. Dia kembali bertanya pada Mom Miranda apa benar Edgar akan menikah hari ini, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Mommy nya.
"Tapi dengan siapa?" tanya Lara kembali.
"Tentu saja dengan mantan calon istrinya dulu. Siapa namanya Ju.. Ju..."
"Juliet, eh Julia." Sahut Lara masih dengan tak percaya.
"Ya Julia." Ucap Rose.
"Ta-tapi bagaimana bisa Edgar menikah dengan Julia? Bukankah Edgar berjanji tidak akan melupakan aku." Lirihnya dengan sendu. Menahan rasa sakit di dalam dada saat mengetahui pria yang sangat dicintai akan menikah dengan wanita lain.
"Berjanji tidak akan melupakan bukan berarti tidak boleh menikah dengan wanita lain bukan?" Ucap Lily sembari memeluk adiknya dengan berpura-pura bersedih. Padahal saat ini ia ingin sekali tertawa melihat adiknya yang masuk ke dalam jebakan Mom Miranda.
Ya, Mom Miranda sengaja ingin mengerjai Edgar dengan membuat Lara marah dengan mengatakan Edgar akan menikah dengan Julia. Mom Miranda bilang setidaknya Edgar harus mendapatkan kemarahan Lara dulu sebelum mereka berdua bersatu.
"Iya, tapi tidak secepat ini kak. Baru dua hari yang lalu dia memperjuangkan aku." Gerutunya tak terima dengan menahan diri agar tidak menangis.
Lara terdiam dan hanya air mata yang kini berjatuhan di kedua pipinya tanpa bisa ditahan lagi.
"Aku mau pulang, aku tidak mau datang ke acara pernikahan itu." Rajuk Lara dengan menangis.
"No, kita harus datang. Kau harus tunjukkan kalau kau Lara Collins wanita tangguh!"
"Tapi Mom..."
"Kita akan kacau kan pesta pernikahan Edgar, bagaimana?" Miranda mengerlingkan matanya.
"Tapi bagaimana Mom?" tanya Lara dengan bingung masih dengan menangis.
"Dengan ini!" Rose memberikan tongkat baseball pada Lara.
"Kak, aku ini sedang sedih bukan sedang ingin bermain badminton."
"Badminton?" Ucap Rose dan Lily bersamaan.
"Ini." Lara menunjuk pada tongkat yang diberikan Rose tadi.
"Ya Tuhan Lara, itu tongkat baseball bukan raket."
Baik Miranda, Lily, dan Rose menghela napas mereka bersamaan. Sementara Lara tampak tak peduli, karena yang ada di otaknya saat ini adalah pernikahan Edgar. Karena jujur ia belum siap jika harus melihat pria yang dicintainya itu menikah secepat itu.
"Gunakan tongkat itu untuk memukul Edgar, beri dia pelajaran karena sudah menyakitimu." Jelas Rose.
Lara menatap pada Rose, Lily, dan Mom Miranda yang kini menganggukkan kepala mereka bersamaan, menyakinkan padanya untuk melukai Edgar.
"Baiklah, aku akan melakukannya." Setidaknya memberikan dua pukulan sebagai kenang-kenangan tidak masalah bukan? Anggap itu sebagai hadiah pernikahan Edgar dengan Julia.
Sementara itu Miranda kini mendekat pada Rose. "Kenapa kau memberikan tongkat baseball?" Karena ia merasa takut jika Lara benar-benar memukul Edgar dengan tongkat tersebut.