
Semenjak Jenni pergi, Raline hanya terdiam di cafee itu dan menghabiskan beberapa gelas jus pesananya. Tidak banyak yang di lakukan oleh Raline, seharian Raline hanya terdiam dan melamun sembaru membolak-balikkan kertas brosur yang di berikan oleh Jenni.
Tidak terasa Raline menghabiskan banyak waktunya untuk melamun, sehingga hari semakin larut dan cafee pun akan tutup. Seorang pelayan cafee menegur Raline dan memberitahukannya bahwa cafeenya akan segera tutup. Raline beranjak pergi, tidak lupa Ia menyimpan uang pembayaran untuk minuman yang tadi sudah Ia pesan.
Sepanjang perjalanan, Raline terus memikirkannya. Haruskah Ia memulai hidup barunya tanpa mengejar cinta Daniel kembali. Namun Raline mengingat satu tahun kebelakang, ketika Ia dengan gigihnya memperjuangkan cinta Daniel. Raline berpikir, apakah satu tahunnya itu akan menjadi sia-sia begitu saja. Tidak bisa seperti itu. Lalu,Raline memutuskan untuk tidak pergi, Ia tetap akan mengejar cinta Daniel sehingga Ia mendapatkannya.
***
Sesampainya di mansion, Raline melihat Daniel yang tengah berjalan menuju kamarnya. Raline melangkah dengan cepat dan berusaha menyusul Daniel. Satu langkah lagi langkahnya seimbang dengan Daniel, tiba-tiba Daniel mengatakan sesuatu yang membuat Raline tercengang.
“Wanita yang tidak mempunyai aturan! ”
Langkah Raline tercekat sehingga tertinggal jauh beberapa lamgkah di belakang Daniel. “Tolong siapkan barang-barangku. ” ujar Raline kepada seorang pelayan
Daniel menghentikan langkahnya, kemudian berbalik mendekat ke arah Raline. “Kau mau kemana? ” tanya Daniel dingin dengan wajah datarnya
Raline menatapnya, “Aku akan pergi.. ”
“Akhirnya kau jera dan memutuskan untuk pergi dari sini. ” timpal Daniel, memotong perkataan Raline
“Apa maksudmu, Daniel? ” Raline menegang dan mengeraskan suaranya, Kendrick tertegun, sedari tadi Ia tengah memperhatikan perdebatan antara Raline dengan Daniel. Ia sedikit terkejut ketika Raline membentak Daniel.
“Memang seperti itu, bukan? Kau adalah seorang gadis manja yang tidak akan pernah tahan hidup jauh dari kemewahan. Sudah aku beri tahu sejak dulu, kau tidak usah membuang waktumu. Namun kau tetap saja keras kepala, ” Daniel terkekeh
Jemarinya mengepal erat, “Kau, bisakah kau berpikiran positif! Apa salahku sehingga kau memandangku seperti itu! ” Raline berteriak histeris, dengan air matanya yang tidak terasa jatuh begitu saja membasahi pipi manis Raline.
“Pergilah, ” ujar Daniel, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar
“Aku hanya akan pergi berlibur selama dua pekan, Jenni yang mengajakku. ” ujar Raline dengan nada rendah membuat langkah Daniel tercekat. Sementara Kendrick, Ia mengangkat kedua halisnya mendengar pernyataan dari Raline.
Kemudian, Raline beranjak pergi ke kamarnya dan melewati Daniel yang sedari tadi berdiri mematung setelah mendengar pernyataan Raline. Daniel menatap Raline yang melangkah pelan menaiki anak tangga dan menuju kamarnya, Daniel berdecak kesal, lalu Ia melanjutkan langkahnya kembali dan segera menuju kamarnya.
***
Raline menatap isi kopernya, semua kebutuhannya sudah tertata rapih dan lengkap. Sebenarnya, Ia masih ragu untuk pergi. Namun dari semalam, Jenni terus saja mengiriminya pesan dan meyakinkannya untuk melangkah menjauh dari Daniel. Raline meraih tiket penerbangannya, satu jam lagi pesawatnya akan lepas landas. Sedangkan perjalanan yang Ia perlukan untuk pergi ke bandara bisa menempuh waktu sampai setengah jam, itupun jika tidak macet. Raline ragu, namun Ia berusaha menyakinkan dirinya sendiri. Apa yang di katakan Jenni memang benar, menyinggung sikap Daniel, Raline memang terlihat seperti seorang gadis yang tidak mempunyai harga diri.
Raline menutup kopernya, lalu menyeretnya keluar dari kamar. Beberapa pelayan sigap membantu Raline membawakan kopernya. Raline berjalan menuruni tangga, ketika Ia sampai di lantai satu, Raline melihat Daniel yang tengah duduk di atas sofa dan sibuk membaca koran paginya. Raline menatapnya sejenak, pria yang selama ini Ia cintai, Ia harus melepaskannya.
Raline pergi dengan di ikuti oleh beberapa pelayan yang mengantarkan kopernya, mobil dan supir sudah siap di depan pintu untuk mengantarnya ke bandara. Sebelum melangkah keluar dari mansion, Raline sempat berbalik dan menatap Daniel sejenak. Seperti biasa, Daniel sama sekali tidak memperdulikannya, bahkan saat dirinya akan pergi.
Sepanjang perjalanan, Raline hanya melamun dan menatap keluar jendela. Ia begitu lemas karena semalam Ia tidak tertidur sama sekali. Semalaman penuh, Ia terus memikirkan hal mengenai Daniel.
“Daniel, aku sangat memperdulikanmu. Tapi mengapa kau ... melirikku saja kau tidak pernah! ” gunam Raline dalam hati.
Raline menghela nafasnya berat, jika Ia terus seperti ini, maka dirinya tidak akan bisa terlepas dari bayang-bayang Daniel. Raline harus berubah, Ia harus bisa mengendalikan perasaanya terhadap Daniel, sudah cukup baginya untuk menjadi budak cinta Daniel selama satu tahun ini.
Raline merogoh sesuatu di dalam tasnya, Ia mengambil sebuah brosur yang kemarin Jenni berikan kepadanya. Raline mencoba mengetikan nama tempat itu di sebuah situs online untuk memesan tempat penginapan, tak lama penginapan yang akan Raline tinggali selama beberapa hari di sanapun sudah siap terpesan. Raline berencana berlibur selama satu pekan, lalu setelah itu, Ia akan pergi untuk menemui kedua orang tuanya guna membicarakan hal penting.
Sesampainya di bandara, Raline langsung di sambut oleh beberapa staf penjaga bandara. Raline mengerutkan dahinya, ada yang tidak beres di sini. Sejak kapan pelayanan di bandara seperti ini, di sambut dan bahkan di antarkan langsung oleh beberapa staf khusus.
Beberapa orang itu mengantarkan Raline pada sebuah pesawat yang seingat Raline bukanlah pesawat yang akan Ia naiki. Raline menatap heran ke sekeliling, bahkan koper miliknya pun telah di masukan ke dalam pesawat.
“Maaf, apakah ada kesalahpahaman di sini? ” tanya Raline
Seorang pria tampan berpakaian rapi dengan earphone di telinganya dan menggunakan kacamata hitam, tampak berjalan mendekat ke arah Raline, “Nona, Raline. Silahkan, Tuan muda tengah menunggumu. ” Ia membungkukkan setengah badanya dan mengulurkan lengannya, mempersilahkan Raline agar segera masuk ke dalam pesawat.
“Tuan muda? ” tanya Raline, pria itu mengangguk pelan.
“Siapa Tuan mudamu itu? Bukankah ini adalah kesalahpahaman, aku bahkan tidak memesan pelayanan jet pribadi seperti ini. ” Raline berkerut kening,
“Nona, masuklah terlebih dahulu. ” ujarnya dengan sopan.
Raline berkerut kening dan semakin heran dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, mereka tampak mencurigakan. Raline menelan ludahnya dengan susah payah, apakah orang-orang ini berniat jahat kepadanya dan akan menculiknya. Raline menengok ke kanan dan ke kiri, beberapa pria berpakaian rapih seperti tengah mengelilinginya. Raline tertegun, Ia mencoba mencari celah agar bisa lari dari sini.
“Aku tidak mau masuk! Siapa kalian? Keluarkan koperku! ” teriak Raline membuat kegaduhan,
Mereka tampak menatap satu sama lain. Pria yang tadi mempersilahkan Raline masuk pun terlihat tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan di earphonenya. Tiba-tiba Ia mengangguk dan memiringkan kepalanya ke arah pesawat kemudian berlalu pergi. Raline membulatkan bibirnya, beberapa dari mereka mendekatinya. Raline gusar dan berusaha lari dari mereka, namun dengan sigap mereka menangkap lengan Raline lalu menggendongnya masuk ke dalam pesawat.
“Hei, lepaskan! Lepaskan aku! ” teriak Raline sembari tangannya terus memukul dan menjabak pria yang tengah menggendongnya.
Raline di jatuhkan tepat pada kursi pesawat, lalu orang-orang itu pergi keluar kembali. Raline berusaha mengejar mereka, namun seseorang menarik lengannya sehingga Raline kembali duduk di atas kursinya.
“Bersiaplah, pesawat akan segera lepas landas. ” ujar seseorang, suara seorang pria yang terdengar sangat tidak asing di telinga Raline