
ini dikit banget, karena aku juga bingung mau ngetik apa hahaha udah mulai bosen aku tuh ada di rumah, jadi butuh refreshing, dan otak ku mulai buntu. harap kalian menyukai aja yaa, ya kalo gak suka gak usah komen apa-apa, dari pada aku gak baper jadinya.
oh iya, baper itu sifat manusia, jangan karena apa-apa baper itu kesannya jelek. wkwkwk
happy reading yayyy!!
****
Krystal tidak pernah ingin mencurigai suaminya, sejak awal menikah, ia paham hal seperti itu pasti akan menjadi pusat keretakan rumah tangga. Sama halnya dengan kasus Raisa dulu. Ketidak percayaan mampu membuat rumah tangga mereka berada di jurang perpisahan.
Meski mereka berdua bisa melewati itu, tapi prosesnya sungguh sangat menyiksa.
Maka, saat Kai kembali masuk ke dalam kamar—setelah selesai mengangkat panggilan itu, yang Krystal lakukan adalah menunggu sang suami untuk bercerita alih-alih menanyakan mengapa ia harus menjauh saat mengangkat panggilan tersebut.
"Kerjaan," ujar Kai, duduk di tepi ranjang. "Ribet banget deh klien yang satu ini. Padahal kan dia bisa ngehubungin Dimas, atau kalo memang gak mau, bisa nunggu sampe besok pagi pas jam kerja."
Krystal menanggapi kejujuran sang suami dengan senyuman. "Klien untuk pembangunan di Makasar?"
"Iya," jawab Kai dan kembali meletakan ponselnya di atas nakas, dekat kepala ranjang. Ia amati wajah Krystal lamat-lamat. "Masih mau gak?"
"Loh, memang kamu engga?"
"Bukan ... aku jadi kesel aja gara-gara diganggu. Tahu gitu kan gak usah diangkat tadi teleponnya."
Krystal mengulumm senyum simpul, menarik tubuh sang suami agar lebih dekat dengannya. Ia lepaskan ciuman lembut di bibir Kai, semata-mata untuk menenangkan lelaki itu. "Jangan kesel ah, kan sekarang lagi sama aku." Nyatanya, Krystal ingin sekali menanyakan kenapa harus menghindar saat mengangkat telepon itu. "Lanjut ya, gak ketemu seminggu loh nanti kita." Namun, ia tidak ingin merusak moment romantis di antara mereka.
Bibir Kai tertarik lebar. Obat di kala dirinya sedang dalam keadaan yang tidak baik, adalah sang istri yang selalu setia di sampingnya. Krystal memang bukan istri sempurna, tapi berada di dekat perempuan itu mampu membuat Kai merasa sangat sempurna.
Tak perlu waktu lama, ia sesap bibir merah menggoda itu, membaringkan tubuh Krystal dengan hati-hati. Melancarkan semua hasrat yang tertahan, melebur menjadi satu dalam sebuah kenikmatan.
Erangan dan desahan menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruang pembaringan mereka. Krystal menyukai cara Kai menyentuhnya, dan Kai sangat menikmati bagaimana tubuh Krystal merespon dirinya.
Saling berbagi kebutuhan hingga keduanya mencapai puncak nirwana itu bersama-sama.
****
Sudah tiga hari Kai menangani pembangunan yang ada di Makassar. Dan selama itu pula Krystal sudah bolak balik ke rumah sakit untuk melihat kondisi papa Ryan. Tidak ada yang berubah, semua masih sama. Komunikasi di antara Kai dan dirinya pun masih baik-baik saja, walau terkadang ada beberapa pengganggu saat Kai sedang berbicara dengan Krystal.
Memberi pengertian, itu yang Krystal lakukan, agar di rumah pun ia menjadi tenang.
Lalu, di hari ke dua puluh dimana papa Ryan masih di rawat, Dokter menyarankan seluruh pihak keluarga untuk berpasrah dan banyak berdoa untuk kesembuhan lelaki paruh baya itu. Tentu mendengar kabar seperti itu membuat Krystal kembali drop. Ia butuh Kai, tapi sang suami sedang sibuk dengan bisnisnya.
Beberapa kali dalam waktu tiga hari mereka saling bertukar kabar. Kai selalu mengabari sedang apa dirinya, berada dimana, begitu pun dengan Krystal. Mereka saling berbagi informasi tentang diri mereka masing-masing, agar tidak ada kecurigaan yang terjadi.
Namun, malam itu. Saat hujan sedang turun deras, tiba-tiba Airin dan Rendi datang ke rumahnya, dengan wajah kusut dan sedih. Krystal juga melihat ada air mata di pandangan sang kakak.
"Papa udah gak ada, Krys."
Begitu lah kabar yang ia dapat dari sang kakak. Menyadarkan Krystal kalau hidup selalu berdampingan dengan kematian. Garis takdir yang satu itu memang tidak bisa dicegah, prosesnya selalu sama, lahir, menjadi manusia, lalu di panggil oleh sang pencipta.
Kelabu itu memang selalu ada, dan kini harus menghampiri dirinya dan keluarga.
Di tengah perjalanannya menuju rumah sakit, Airin selalu berusaha memberi kekuatan untuk adiknya. Krystal teramat sangat lemah, tidak bisa ia menutupi rasa sedih ini. Kean yang duduk di kursi depan bersama Rendi pun ikut tersedu, melihat sang Bunda yang begitu lemah dan sedih.
Hidupnya sudah dilingkupi kabung kesedihan, dan bertambah sakit ketika seseorang yang ia butuhkan pun tak ada. Berulang kali Krystal mencoba menghubungi Kai, namun ponsel lelaki itu dalam keadaan mati.
Kai sulit dihubungi, begitu pun saat Rendi mencobanya.
Tak tahu lagi bagaimana sakit yang ia rasa. Nyatanya, di tinggalkan oleh raga yang tak bernyawa lebih menyakitkan dari luka di sekujur tubuh. Rasa sakit yang Krystal rasakan memang tidak membuatnya berdarah, tapi kehilangan orang yang dicinta seperti membuatnya mati karena kehabisan darah.
Raga itu tak lagi bergerak. Terbujur kaku dengan wajah pucat di atas pembaringan. Papanya telah lebih dulu pergi menuju sang pencipta, meninggalkan banyak kesedihan di hatinya.
Krystal butuh Kai, Krystal butuh pelukan lelaki itu. Tapi apa yang ia dapat dari pengharapan itu? Saat ponselnya terus berusaha menghubungi seseorang di seberang sana, hanya jawaban yang mengejutkan yang ia dapat.
"Hallo?"
Tenggorokan Krystal tercekat. Seorang perempuan yang mengangkat panggilan tersebut. Kiranya ia salah menghubungi, atau berharap ponsel Kai terjatuh di suatu tempat, tapi ini benar-benar terjadi. Kepercayaan yang telah ia bumbung tinggi, harus jatuh menyakitkan.
"I—ini ... ponsel Kai, kan?"
"Oh iya, benar. Kamu Krystal ya? Kai lagi di kamar mandi. Ada yang mau kamu sampai kan?"
Oh Dunia ... kenapa harus sekelabu ini?
Tidak bisa kah kehancuran ini ia dapat saat nanti, saat ia sudah bisa menerima kepergian sang ayah. Saat luka di hatinya sudah terobati. Kenapa rasa sakit itu harus datang bertubi-tubi?
Apa dosanya? Apa kesalahannya?
"Hallo? Kamu masih di sana? Ada yang mau kamu sampaikan?"
Suara itu, bersama siapa kah suaminya saat ini?
****
Hayolohhhh, pasti abis ini banyak komen huru hara. Hahaha
Komen deh ya yang banyak, sesuka hati kalian. Aku pun sudah lelah rasanya terus disakiti, achiaaattt curhat akutuhhh.
Terima kasih ya genks, berharap kalian masih menyukai kisah mereka. aku lagi bingung mencari semangat dalam menulis, mau bagaimana pun, aku juga tetap manusia. bisa hilang selera menulisnya hahah