Scandal

Scandal
Part 60


Sementara itu di tempat yang berbeda. Edgar membawa Lara ke sebuah apartemen milik keluarga Meyer, karena tidak mungkin baginya membawa Lara ke apartemen miliknya sendiri.


Keduanya kini sedang duduk di atas sofa, menyenderkan tubuh mereka dengan tangan yang saling menggenggam tanpa mereka sadari.


"Kau lelah?" Edgar menatap wanita di sampingnya. Wanita yang sudah ia klaim dihadapan Dad Robert dan semua para tamu undangan sebagai wanitanya.


Lara menganggukkan kepalanya dengan kedua mata terpejam. Bagaimana tidak lelah harus berlari dan tadi sempat berputar-putar mencari tempat aman untuk sementara mereka tinggal.


"Kak ini apartemen milik siapa?" Tanya Lara. Karena jika dilihat dari ruangan apartemen yang begitu mewah tentunya bukan milik orang sembarangan.


"Apartemen ini milik Kenan Meyer."


"Kenan Meyer..." Lara seperti pernah mendengar nama tersebut tapi lupa dimana.


"Dia sepupu jauh kita." Jelas Edgar yang tahu kalau Lara tidak begitu kenal dengan seluruh keluarga dari pihak Dad Robert. Karena Miranda dan ketiga putrinya sejak dulu tidak pernah datang disetiap acara keluarga. Kenan dan Kaylin pun tidak begitu dekat dengan keluarga Collins sehingga wajar jika Lara ataupun sebaliknya tidak saling mengenal. Berbeda dengan Edgar yang sejak dulu memang dekat dengan Kenan dan Kaylin.


"Oh..." Lara menganggukkan kepalanya.


Lalu keduanya kembali terdiam, tenggelam dengan pemikirannya masing-masing. Memikirkan apa yang telah mereka lakukan tadi, yang pastinya akan membuat nama baik keluarga Collins tercoreng.


Terutama Edgar, ia tak menyangka akan berada di posisi sulit seperti ini. Menghamili adiknya sendiri dan sekarang membawa lari Lara di tengah acara penting keluarga mereka.


Hik.. hik.


Mendengar suara tangis. Edgar pun menatap Lara, menatap wanita yang tengah menangis dengan terisak.


Edgar mengerutkan keningnya dengan bingung, menatap bagaimana air matanya menetes bersamaan dengan tangisan Lara. Padahal sebelumnya tidak ada niatan sama sekali dirinya menangis atau merasa sedih melihat Lara menangis.


"Sudah jangan takut. Aku ada disini menjaga kalian." Ucap Edgar dengan mengusap air matanya sendiri.


"Aku menangis bukan karena takut." Lara berucap di sela tangisnya.


"Lalu kenapa?" Tanya Edgar sembari menghapus kembali air matanya yang tidak juga berhenti menetes. Padahal sekuat mungkin dirinya menahan agar tak menangis didepan Lara.


"Aku menangis karena lapar kak. Dari bangun tidur sampai sekarang aku belum makan."


Satu detik, dua detik, dan di detik yang ketiga Edgar mentoyor kepala Lara dengan kesal.


"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau lapar. Pakai nangis segala." Ujar Edgar sembari mengusap air matanya kembali.


Lara yang tak terima kepalanya di toyor langsung menghentikan tangisnya. Dan ajaibnya air mata Edgar juga berhenti menetes.


"Kau saja yang tidak peka, bukankah sejak tadi perutku berbunyi." Ucap Lara dengan sengit.


"Ck, mana aku dengar suara perutmu itu." Edgar menghela napasnya, mengarahkan telinga tepat di perut Lara. "Tidak terdengar." Ucap Edgar yang kini menatap perut Lara. Seketika itu juga kedua sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman saat menyadari di dalam sana ada benihnya yang sedang berkembang.


Lara sendiri hanya terdiam dengan apa yang diperbuat Edgar kini. Bahkan sampai menahan napasnya saat pria itu mengusap perutnya, dan tanpa diduga mengecupnya dengan cukup lama membuat debaran di jantung Lara berdegup kencang.