
"Pikiran baik-baik perkataan ku, Miranda. Sungguh aku melakukan semua ini demi Edgar dan Lara, demi kebaikan mereka berdua. Sekalipun kau menolaknya, Edgar akan tetap berjuang untuk mendapatkan Lara. Kalau kau tak percaya tunggu saja besok."
Setelah mengatakan hal tersebut Nelson pun berpamitan. Sudah cukup hari ini membuat pukulan kecil bagi Miranda, dan mulai besok Edgar lah yang akan maju untuk memperjuangkan cinta Lara.
Miranda sendiri hanya diam menatap kepergian Nelson, dengan keraguan yang kini berkecamuk di pikirannya setelah mendengar semua perkataan pria itu. Kini dia menyesal sudah membiarkan Nelson masuk hingga membuatnya bimbang.
Dan keesokan harinya, benar saja dengan apa yang dikatakan Nelson. Pagi-pagi sekali Edgar sudah berdiri di gerbang pintu rumahnya dengan berteriak meminta maaf. Sekalipun sudah diusir oleh penjaga keamanan rumahnya, putra Nela itu bersikeras meminta diberi kesempatan untuk berbicara.
"Anak itu membuat malu saja!" umpat Miranda dengan kesal. Karena Edgar masih bertahan di depan gerbang rumahnya padahal hari sudah beranjak siang.
"Mom ijinkan Edgar masuk! Kasihan dia sejak tadi berdiri di depan gerbang." Ucap Lily.
"Oh my God, kau mengejutkanku!" Ucap Miranda dengan mengusap dadanya, karena tiba-tiba Lily berdiri dibelakangnya. "Dan diamlah! Jangan ikut campur."
Lily pun kini hanya bisa menghela napasnya.
"Ada apa Mom, kak? Apa ada yang aneh diluar?" Lara yang baru keluar dari dalam kamar, ingin tahu apa yang sedang dilihat Mom Miranda dan kakaknya.
"Sudah jangan dilihat! Di luar ada orang gila." Miranda menghalau agar Lara tidak melihat Edgar.
"Tapi kenapa orang gila nya tampan sekali." Sahut Rose.
Lagi-lagi Miranda terkejut karena keberadaan putri tertuanya yang tiba-tiba saja sudah berada ditempat tersebut.
"Masa sih kak?" Lara yang penasaran melihat dari balik jendela walaupun sudah dihalangi Mom Miranda. "Iya dia tampan sekali." Ucapnya.
Membuat Miranda, Rose, dan Lily mengerutkan keningnya. Bisa-bisanya Lara memuji Edgar dihadapan mereka dengan wajah polosnya.
"Tunggu dulu! Itu kan Edgar." Ucap Lara kembali setelah sadar pria yang berdiri di depan gerbang rumahnya adalah Edgar. "Sejak kapan Kak Edgar jadi gila Mom?" tanyanya dengan terkejut.
Lagi-lagi perkataan Lara membuat Miranda, Rose, dan Lily mengerutkan kening mereka lalu menghela napas bersamaan. Lara masih sama saja seperti dulu, selalu telat dalam berpikir.
"Lara, Edgar tidak gila. Itu hanya ejekan Mommy saja." Ucap Lily.
Lara yang tersadar menganggukkan kepalanya sembari menatap Edgar dengan kasihan. Karena di udara panas seperti itu Edgar berdiri di gerbang rumahnya. Terlihat jelas pria yang mungkin tidak terbiasa dengan hawa panas itu berkeringat dengan wajah yang memerah.
"Aku akan mengusirnya Mom, Mom tenang saja." Lara memang berniat mengusir Edgar, namun bukan karena masih marah dengan kejadian kemarin. Tapi Lara merasa kasihan melihat Edgar yang kepanasan.
Miranda yang hendak menghalangi Lara, langsung dihalangi Rose dan Lily.
"Mom, diluar sana hanya ada Edgar. Jika di sana ada Nela kami pun tidak akan membiarkannya. Sekali ini saja biarkan Lara berbicara dengan Edgar." Mohon Rose.
Miranda pun akhirnya memilih diam, melihat Edgar dan Lara dari dalam rumah. Lagi pula gerbang rumahnya terkunci jadi Edgar tidak akan bisa berbuat macam-macam pada putri bungsunya.
*
*
"Lara..." Edgar tersenyum saat melihat wanitanya keluar dari rumah. "Lara maafkan aku, kemarin..."
"Kak pulanglah! Disini sangat panas." Sela Lara, yang merasa sangat kasihan dengan pria nya.
"Tidak sayang, aku harus melakukan ini agar Mom Miranda mau memaafkan aku dan merestui hubungan kita."
Lara terdiam sesaat sembari menatap ke arah rumah. "Baiklah aku akan mendukungmu kak."
"Kau ingin berdiri disini bersamaku?" Tanya Edgar dengan bahagia, karena wanitanya mau diajak susah senang bersama untuk memperjuangkan cinta mereka.
"Tentu saja tidak, disini sangat panas." Ucap Lara dengan santai.
Membuat rasa bahagia yang dirasakan Edgar menghilang begitu saja.
"Aku akan mendukungmu dengan..." Lara tidak melanjutkan perkataannya, ia berlari masuk kedalam rumah untuk mengambil sesuatu.
Miranda, Lily, dan Rose yang melihatnya saling menatap dan bertanya dalam hati apa yang akan dilakukan Lara.
"Dengan ini kak!" Lara memberikan payung, dan air minum untuk Edgar. "Selamat berjuang kak! Aku masuk dulu."
Lara masuk kedalam rumah, meninggalkan Edgar yang tampak bingung dengan payung dan air minum yang ada ditangannya.