
happy reading genksss!!!
****
"Krystal pingsan."
Hanya dari satu kalimat seperti itu saja, Kai merasa dunianya benar-benar hancur. Rapat untuk penandatanganan kontrak milyaran rupiah harus ia tunda lagi. Kontrak penting yang bisa membawa perusahaan mereka pada puncak kejayaan terpaksa Kai batalkan, semua tidak lebih hanya untuk sang istri.
Punggung Kai menegang, tangannya mencekram kemudi sementara rahangnya mengerat. Ia menahan napasnya beberapa saat sebelum kemudian menghebuskan pelan demi menetralisir gemuruh di dada.
Tadi Airin menghubunginya dengan nada panik, membuat kepanikan itu menular padanya. Kai menyetir mobil tanpa fokus sama sekali, sedangkan fokusnya saat ini hanya tertuju pada seorang perempuan yang sedang mengandung anaknya.
Kai rasanya ingin berteriak, perasaannya mulai campur aduk sekarang. Pikirannya terpecah belah. Kenapa? Kenapa Krystal sampai pingsan? Kenapa ia tidak bisa menjaga istrinya? Dan menyalahkan diri memang sesuatu yang paling mudah di dalam kondisi seperti ini.
"Gimana Krystal?" Tiba di depan ruang pemeriksaan, Kai langsung di sambut dengan Airin dan Rendi. Bisa ia lihat wajah khawatir Airin di sana, dan itu tidak jauh berbeda dengan wajahnya. "Rin, Krystal gak apa-apa kan?"
"Dia masih di periksa, udah tiga puluh menit di dalem, gue juga gak tahu kayak gimana."
"Kenapa bisa pingsan sih, Rin? Dia ngapain memangnya?" tanya Kai penuh kecemasan. Ada amarah di sana.
Airin mendesah pelan, sebelah tangannya menggenggam tangan Rendi, sekedar untuk mencari kekuatan dari sentuhan itu. "Krystal terus duduk di sebelah papa, gua ajak dia makan karena udah waktunya makan siang. Dia sempet nolak, tapi wajahnya pucet banget. Udah berulang kali gue suruh dia baring, tapi dia nolak." Ada jeda sebentar dari kalimat Airin, ia juga menarik napasnya dalam. "Pas kita mau makan ... dia berdiri dan pingsan gitu aja."
"Argh! Shit!!" Kai meninju udara dengan kesal. Tidak tahu apa yang harus ia kesalkan, hanya saja kepalanya terasa penuh dan memanas. "Kenapa sih adek lo susah banget di bilanginnya, Rin!? Gue udah wanti-wanti dia untuk jangan kecapekan, dia juga bilang gak akan lupa makan! Gue gak tau mau marah sama siapa sekarang, Rin!"
"Sabar, Kai ... Krystal masih dalam kondisi gak baik karena keadaan papa Ryan. Lo harus maklumin." Rendi ikut menenangkan. Ia tepuk-tepuk bahu Kai yang menegang.
Tak lama berselang, dokter wanita yang tadi menangani Krystal keluar, di susul oleh beberapa perawat di belakangnya. "Ibu Krystal sudah tertidur, tolong jangan di ganggu dulu. Dan untuk suaminya—"
Kai maju ke depan. "Saya, Dok."
"Bisa ikut ke ruangan saya?"
Ia mengangguk seraya mengikuti langkah Dokter wanita itu. Kai di berikan beberapa pertanyaan mengenai apa saja yang sudah dilalui Krystal hari ini. Ia menjawab semuanya dengan jelas bahwa Krystal cukup stres dengan keadaan papanya, dan juga nafsu makan yang menurun beberapa hari ini.
Bukan hanya itu, Kai juga menjelaskan kalau Krystal jadi sering tidur malam dan kelelahan. Ia juga menambahi kalau mereka sempat berhubungan beberapa kali.
Dan Dokter wanita itu meminta Kai untuk mengawasi pola makan Krystal, karena kini kondisi tubuhnya tidak hanya sendirian, ada nyawa lain di dalam perutnya yang sedang tumbuh. Ada beberapa vitamin yang harus Krystal minum, ditambah untuk sementara waktu mereka dilarang berhubungan.
Setelah selesai dengan Dokter wanita itu, Kai berjalan kembali menuju ruangan Krystal yang sudah di pindahkan. Pikirannya semakin kacau saja saat ponselnya berdering.
Dan Kai merasa kepalanya akan segera pecah sebentar lagi.
Sialan!
Pintu kamar inap Krystal terbuka, dan Rendi keluar dari sana. "Lo dari mana aja? Krystal udah sadar."
Buru-buru Kai masuk ke dalam ruangan itu. Membuka pintu dan matanya langsung bertemu dengan tubuh ringkih perempuan yang sangat ia cintai itu. Perlahan langkah kakinya mendekat. Berhenti di sebelah ranjang.
Kai masih bungkam, sementara Krystal membuang pandangannya merasa takut dengan tatapan mata Kai yang siap menyerangnya.
"Kenapa, sih? Kenapa kamu kayak gini?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Kai. Ia masih menyoroti Krystal dengan tajam, sementara Airin duduk di sana tanpa mau pergi. Airin hanya takut kalau Kai lepas kendali nanti. "Aku kan udah bilang sama kamu untuk jaga diri, Krys."
Krystal ingin sekali menangis rasanya. "Maaf."
"Bukan itu yang mau aku denger, Krystal!" Nada suaranya sudah mulai meninggi, emosinya sudah tidak terkendali. "Tolong jaga diri kamu, aku cuma minta itu Krystal."
"Aku ngerti kak, tapi perasaan aku lagi gak enak." balas Krystal dengan pandangan menatap Kai.
Lelaki itu mendengus kasar. "Aku gak larang kamu untuk bersedih soal keadaan papa tapi yang harus kamu tahu, kalo kamu itu gak sendirian, Krystal! Kamu boleh gak mikirin diri kamu sendiri, tapi inget ada aku, Kean, dan anak kamu yang ada di dalam perut yang masih butuh kamu! Kamu gak bisa egois kayak gitu Krystal!"
Habis sudah kesabarannya, Kai tidak bisa lagi menahan unek-unek yang bersarang di dadanya. Bukan ia tidak mengerti keadaan Krystal, bukan ia ingin Krystal memikirkannya saja. Bukan, Kai tidak seegois itu. Ia hanya ingin Krystal memikirkan dirinya sendiri, Kai ingin ia menghargai betapa pentingnya dia untuk yang lainnya.
"Kamu bener-bener gak ngerti perasaan aku ya, kak." Satu tetes cairan bening itu tumpah mengaliri pipinya. Tak lama Krystal terisak pelan. "Kamu jahat, kak."
"Kamu, Krys, yang jahat! Kamu yang jahat sama aku sama Kean!" Bentak Kai tak mau kalah, biarlah ia melampiaskan semuanya kali ini, Kai juga bukan manusia sempurna yang bisa menahan semuanya. "Kamu yang jahat sama anak yang bahkan belum kamu lahirkan!"
Krystal tercekat. Ia kemudian meraung, menahan sesak di dada. Ia cengkram kain berlapis di depan dada. Rasanya sakit saat mendengar itu dari bibir orang yang ia cintai. Rasanya perih sekali untuk itu semua.
"Sekarang, terserah kamu mau gimana! Aku gak peduli." Setelah berhasil mengatakan kalimat yang sebenarnya tidak berasal dari hatinya, Kai kemudian menyentak pintu dengan keras dan keluar dari sana meninggalkan Krystal yang meraung sedih.
Maaf ... bukan itu yang ingin Kai lakukan, hanya saja, ia juga membutuhkan Krystal saat ini.
****
yihaaaaaa ... jangan salahin Kai ya, jangan juga salahin Krystal, karena tidak ada manusia yang sempurna, apa lagi dihadapkan oleh banyaknya masalah. namanya juga pasangan, pasti ada berantem-berantem unyuu gitchu kannnn hahahaha
terima kasih ya, semoga sukaaaaaa ❤❤❤