
Keesokan harinya.
Di sebuah kediaman yang bergaya Mediteranian milik Miranda beserta ketiga putrinya. Ya, tiga putri karena setelah dua bulan kepergian Rose. Putri sulung Miranda itu pulang kembali ke Jakarta karena kehabisan uang selama tinggal di Korea.
"Lara cepat turun! Dad Robert sudah datang." Teriak Miranda dari ruang tengah, yang pastinya dapat didengar oleh Lara. Karena kediaman mereka saat ini tidak sebesar kediamannya dulu.
"Ya, mom." Sahut Lara dari dalam kamarnya juga dengan berteriak. "Katakan pada Daddy aku baru selesai mandi."
Miranda pun menghela napasnya dengan kasar. Selalu seperti ini, putrinya itu selalu belum siap ketika Robert datang menjemput. Ya, yang menjemput Lara ke kampus selama ini adalah Robert.
Setelah mereka bercerai, hubungan Robert dengan ketiga putrinya terutama Lara semakin dekat dan hangat. Sebuah hubungan yang tidak pernah dilihat dan dirasakan Miranda selama masa pernikahannya dulu. Ya, hikmah dari perceraian diantara mereka membawa dampak baik untuk hubungan Robert dan ketiga putrinya.
"Dimana Lara?" Robert berjalan menghampiri Miranda yang tengah duduk di ruang tengah, setelah dibukakan pintu oleh pelayan.
"Seperti biasa, dia belum selesai." Jawab Miranda dengan menghela napas untuk kedua kalinya.
Robert pun tersenyum dan memaklumi, karena sudah tidak aneh saat dirinya datang putrinya belum siap. Terkadang masih mandi, bahkan beberapa waktu yang lalu Lara masih belum bangun saat dirinya sudah tiba di kediaman Miranda.
Ya, kediaman Miranda karena kini mereka telah resmi bercerai. Miranda tidak mau kembali padanya dan selama beberapa bulan setelah kejadian di rumah sakit pun belum memaafkannya. meskipun pada akhirnya saat ini mantan istri yang masih sangat ia cintai sudah memaafkan, dan mau kembali menjalin komunikasi dengannya demi ketiga putri mereka.
"Tidak sama sekali, putri kita benar-benar berubah dan bekerja dengan serius."
"Syukurlah." Miranda tersenyum senang karena Rose sudah benar-benar berubah. Semenjak putri sulungnya itu pulang dari Korea, dan setelah mendengar apa yang terjadi selama kepergiannya. Rose berubah menjadi lebih dewasa, bahkan mau menerima jabatannya kembali di perusahaan Exxon.
Dan bukan hanya Rose yang berubah, tapi Lily juga. Putri keduanya kini benar-benar fokus pada karier modelingnya tanpa ada lagi scandal. Dan Lara, meskipun masih ceroboh, lemot dalam berpikir tapi setidaknya dia masih mau melanjutkan pendidikannya dengan masuk ke salah satu kampus swasta terbaik yang ada di Jakarta. Benar-benar sempurna bukan kehidupan Miranda? Meskipun tanpa pasangan dan kemewahan, tapi ia sudah cukup bahagia.
"Miranda kenapa kau tidak mau menerima uang dariku untuk membeli tempat tinggal yang lebih besar dari ini?" Tanya Robert sembari menatap ke seluruh ruangan.
"Ck, sudah berapa kali kita membahas ini Robert. Bagi kami tempat ini adalah tempat ternyaman, karena ditempat inilah aku dan ketiga putriku memulai kembali dari awal, belajar untuk berubah memperbaiki kesalahan yang pernah kami perbuat." Jelas Miranda panjang lebar dengan jujur. Karena sebenarnya bisa saja ia membeli mansion yang besar dari hasil penjualan mansion nya yang dulu. Tapi Miranda tidak mau karena sudah tidak berminat sama sekali untuk hidup mewah dan membuang-buang uang.
Robert sendiri menghela napasnya. "Kau sudah banyak berubah Miranda."
"Kau juga Robert, kau sudah berubah lebih baik sekarang." Sahut Miranda dengan tersenyum.
"Kalau menurutmu aku sudah lebih baik, maukah kau kembali dan menua bersamaku?" Pinta Robert dengan penuh harap meskipun ia tahu jawabannya akan seperti apa, karena yang sudah-sudah Miranda pasti akan menolak.