
"Sayang kau dari mana saja? Kenapa baru sampai?" Tanya Miranda dengan khawatir saat membuka pintu kamar hotel. Bagaimana tidak khawatir karena ia tahu putrinya tidak pergi bersama Gavi, karena tadi Miranda menghubungi sahabat putri nya itu yang ternyata sedang berada di luar kota.
"Aku tadi mampir ke pusat perbelanjaan dulu." Jawab Lara dengan jujur sembari duduk di atas ranjang.
"Ck, jadi kau berbohong dengan mengatakan akan pergi bersama Gavi hanya untuk jalan-jalan?" Miranda menarik telinga putri bungsunya dengan emosi. Bagaimana tidak emosi, karena sejak tadi ia merasa khawatir dan takut jika putrinya itu tersesat entah kemana, namun Lara justru asik jalan-jalan di pusat perbelanjaan.
"Mom sakit." Lara mengusap telinganya yang terasa panas.
"Sekarang katakan apa saja yang kau lakukan di sana? Dan kenapa kau tidak membeli apa pun." Karena Miranda melihat putri ketiganya itu pulang dengan tangan kosong.
"Aku membeli satu barang." Jawab Lara dengan menghela napasnya.
"Oh ya, apa itu?" Tanya Miranda sembari berjalan menuju lemari pakaian untuk mengganti pakaiannya, karena ia akan bertemu dengan Robert dan juga Nela tentunya yang juga menginap di hotel yang sama dengannya.
"Aku membeli sebuah test pack."
"What?" Miranda sampai menghentikan langkahnya karena begitu terkejut. "Test pack, untuk apa?"
"Tentu saja untuk digunakan Mom, masa untuk di makan." Sahut Lara yang masih belum sadar sedang keceplosan berbicara.
"Mom tahu, tapi untuk apa kau membelinya?" Miranda kembali berjalan mendekat pada putri ketiganya.
"Tentu saja untuk mengetahui aku sedang hamil atau tidak. Mom itu aneh sekali, begitu saja masa tidak —" belum selesai berbicara kepalanya sudah di toyor lebih dulu oleh Mom Miranda.
"Kau yang aneh, bisa-bisanya putriku yang polos ini mengatakan hal yang aneh seperti itu? Hamil? Test pack?" Miranda tertawa geli sembari berjalan kembali menuju lemari pakaian.
"Test pack?" gumam Lara yang baru tersadar kelepasan berbicara.
"Lara.. Lara, jangan melakukan hal aneh lagi. Kekasih saja kau tidak punya tapi memikirkan tentang kehamilan." Miranda masih tertawa sembari menggelengkan kepalanya.
"Kekasih aku memang tidak punya, tapi aku pernah melakukannya bersama Edgar." Ucap Lara namun hanya dalam hati. Mana berani Lara mengatakan hal tersebut, mengetahui dirinya keceplosan bicara saja sudah membuat Lara ketakutan setengah mati.
"Emm..." Jawab Miranda tanpa menatap putrinya karena sibuk memilih pakaian yang akan digunakannya.
"Kalau seandainya aku hamil bagaimana?"
"Ck, Lara Collins berhentilah bicara aneh seperti itu. Mom tidak suka." Ucap Miranda sembari mengeluarkan pakaian yang dipilihnya.
"Aku bilang seandainya."
"Kalau memang benar, Mom akan memecatmu sebagai anak!" Ucap Miranda dengan ketus sembari menutup pintu lemari dengan kuat hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Lara sendiri hanya diam sembari menelan salivanya susah payah. Sungguh ia sangat takut sekarang terlebih saat melihat tatapan tajam Mom Miranda yang seakan menghunus jantungnya.
"Sudah cukup pertanyaan konyolmu itu? Sekarang jangan ganggu Mommy, karena Mom harus bersiap untuk menemui Daddy mu dan Nela tentunya." Ucap Miranda dengan kesal saat menyebut nama wanita ****** itu.
"Menemui Robert?"
"Dad Robert, Lara Collins!" Miranda kembali menatap tajam putrinya. "Daddy mu membawa keluarga jalangnya menginap di hotel ini, padahal Mom sudah katakan tidak mau melihat wanita itu hadir di pernikahan Rose. Tapi—"
"Berarti Edgar ada di sini?" tanya Lara dengan cepat sampai memotong perkataan Mommy nya.
Miranda menganggukkan kepalanya dengan bingung saat melihat putrinya begitu antusias bertanya tentang Edgar.
"Memangnya kenapa sayang?"
Lara tidak menjawab pertanyaan Mom Miranda, ia mengambil tasnya lalu keluar dari kamar dengan terburu-buru untuk mencari dan menemui Edgar Collins di hotel ini.
"Lara.. hei! Kau mau kemana?" teriak Miranda dengan kesal karena putrinya itu kembali pergi tanpa mengatakan apapun.