Scandal

Scandal
O


haiiii, ada yang rindu tydack??


part ini ada manis, pahit, kesel, emosi nya yaa hahah


happy reading!!


****


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Krystal masih perlu di rawat di ruangan itu sampai besok pagi.


Perasaannya?


Jelas perasaannya sangat hampa. Setelah menemaninya makan, Kai lalu keluar dan belum datang lagi ke kamar itu. Krystal sadar kesalahannya, ia pun tidak mau meminta lebih pada sang suami. Biarlah mereka saling menyendiri dan menenangkan pikiran masing-masing.


Krystal membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit kamar rumah sakit. Tangannya masih setia mengelus perut buncitnya. Hanya dalam hitungan detik, ia bisa menyelakai anak yang ada di dalam kandungannya. Krystal merasa kematian tadi sedang mengintai mereka, tapi ternyata kehidupan masih menyayangi mereka.


"Maaf." lirihnya pelan. "Pantas ayah kamu marah, bunda tadi hampir ngebuat kamu gak bisa melihat dunia."


Tidak ada isak tangis, tapi suaranya bergetar saat mengatakan itu.


"Kamu kangen ayah ya?" katanya pada anak di dalam perut. "Bunda juga ... bunda gak bisa tidur kalo gak di usap-usap ayah."


Ia menghela pelan, matanya mendadak tidak bisa terpejam karena Kai tidak mengelus perutnya.


Ternyata pengaruh Kai di dalam hidupnya segini parahnya. Membuat Krystal tidak bisa tidur nyaris mendekati tengah malam. Ia berbaring miring, menghadap pintu kamar, berharap posisi seperti itu mampu membuatnya terlelap.


Tapi, sudah lima belas menit ia melakukan itu, rasa ngantuk tidak juga menghampirinya. Krystal malah berharap pintu kamar terbuka dan tubuh Kai muncul dari sana. Ya, berharap tidak ada salahnya, kan?


Merasa tidak ada perubahan, kini Krystal berbalik, merubah posisi tidurnya membelakangi pintu. Sambil menghitung domba—yang ia rubah menjadi menghitung burger mekdi, Krystal masih belum merasakan kantuk itu.


Berulang kali ia menghela, hitungan burger mekdi sudah berada di angka delapan puluh lima—menuju delapan puluh enam, lalu delapan puluh tujuh, dan kemudian delapan puluh delapan—


Krekk


Pintu kamar terbuka dari luar. Krystal masih berada pada posisi tidurnya, membelakangi pintu. Tapi, tanpa perlu menoleh, Krystal tahu siapa yang baru saja masuk kedalam kamarnya. Wangi tubuh orang ini sudah sangat ia hafal.


Lalu saat bunyi pintu tertutup, Krystal membuka matanya. Tak lama sapuan hangat di pinggul membuatnya tenang.


"Kenapa belum tidur?" Pertanyaan itu masih dilempar dengan nada dingin, membuat Krystal ragu menjawab.


Sudah hampir pukul sebelas malam, dan kenapa Kai malah ke rumah sakit bukannya tidur di rumah?


"Kamu masih keras kepala gak mau jaga kesehatan kamu?" Lagi, nada suara itu seolah memukul dadanya.


Sakit.


"Pikirin bayi kamu, Krys."


Bayi kamu?


Bukan bayi kita?


Mata Krystal memanas seketika. "Aku gak bisa tidur," suaranya hampir tercekat saat mengatakan itu. "Aku udah coba tidur tapi gak bisa."


"Kenapa?"


"Gak ada yang usap-usap perut aku."


Dapat ia dengar helaan napas kasar keluar dari bibir Kai. Lelaki itu pasti kesal sekali.


"Sini ... aku usap-usap."


Krystal masih bergeming dalam posisinya, ia tidak mau melihat wajah Kai, karena Krystal tahu kalau ia melihat wajah itu, ia tidak akan bisa menahan tangisnya.


"Berbalik, Krys."


"Nggak usah, nanti aku ngantuk kok." tolaknya.


Memang keras kepala. Kai mencoba menahan emosinya. Ia sudah merasa lelah sejak pagi. Tadi siang ia kembali ke kantor sebentar, lalu balik lagi ke rumah sakit. Selesai menemani Krystal makan, Kai melihat Kean di rumah mama Morena sebentar, mengajak anaknya bermain, mandi dan menganti bajunya. Ia juga sempat ketiduran tadi, lalu setelah bangun ia balik lagi ke rumah sakit.


Rasanya benar-benar melelahkan, tapi Kai tidak ingin mengeluh.


"Terserah kamu lah, kamu yang ngerasain sakit kok." Kai mulai pasrah. Jujur saja, ia bukan lelaki sabar, sejak dulu memang seperti itu. Apa lagi jika dihadapkan dengan banyaknya masalah, entah di dalam rumah tangganya, atau di dalam perusahaan. "Aku udah capek bulak balik ke sini, kalo kamu masih keras kepala kayak gitu, aku bisa lebih marah lagi."


Krystal tidak bisa menahannya lagi, tidak, ia pun ingin memperbaiki ini. Tapi disudutkan seperti itu rasanya menyesakan. "Pulang."


"Jangan keras kepala, aku udah capek."


"Pulang," ujarnya tergugu.


Kai tahu Krystal sedang menangis, itu dibuktikan dari bahunya yang bergetar hebat. Lagi-lagi Kai hanya bisa menghela napasnya pelan, kembali mengalah demi menahan emosi. "Sini aku usap-usap."


Suara derit kursi yang di geser terdengar nyaring, ada hentakan emosi di sana. Dan tak lama ranjang rumah sakit yang Krystal tiduri bergerak. Kai naik ke atasnya, berbaring di belakang tubuh Krystal.


Dalam diam, ia selipkan tangannya menuju perut buncit Krystal, lalu mengelusnya pelan. Kai sendiri tidak ada kekuatan lagi untuk berdebat, ia hanya terdiam sembari menggerakan tangannya lembut.


Beberapa menit terlewati, Kai yang tidur di belakang tubuhnya malah membuat Krystal tidak bisa terpejam.


"Kean dimana?" tanya Krystal membuka percakapan.


"Rumah mama."


Mama Morena yang Kai maksud, dan Krystal paham.


"Kamu udah makan?"


"Udah."


"Besok kamu kerja pagi, kenapa gak tidur di rumah aja?"


Hembusan napas Kai yang menerpa leher Krystal membuatnya meremang, ia rindu lelaki ini.


"Aku besok berangkat siang aja, abis dari sini ke rumah lagi."


"Kamu bakalan capek."


"Aku udah capek kok, sekalian aja capek."


Krystal bungkam. Itu pasti sindiran untuknya. Tuhan, Krystal rasanya sedih sekali disindir seperti itu oleh suaminya sendiri.


"Maaf," lirihnya pelan, namun Kai masih bisa mendengar.


"Aku gak perlu ucapan maaf, cukup kamu berubah dan lebih mikirin diri kamu sendiri." Kai menghentikan usapan tangannya di perut Krystal. "Juga gak perlu kamu pikirin aku sama Kean, aku bisa urusan diri aku sendiri berdua sama Kean. Kamu cukup mikirin diri kamu sama anak kamu yang ada di dalam perut."


Lagi lagi hanya anak kamu. Memang yang buat siapa? Krystal benci sekali kalimat itu.


"Jadi ini cuma anak aku?"


"Kalo aku bilang anak kita memang kamu mau peduli?"


Air mata Krystal menetes lagi. "Gak perlu bilang seperti itu, kak. Kamu nyakitin aku."


"Kamu pikir aku gak sakit?"


Sudah cukup. Berhenti! Krystal benci sekali situasi seperti ini.


"Cukup, kak. lebih baik kamu pulang. Aku mau sendiri. Aku gak mau stres karena masalah kita." Dan tangisnya pun pecah. Tidak bisa ia tahan lagi isakan itu untuk keluar. Biarlah, biar siapa pun mendengarnya.


"Aku mau pikiran kamu berubah, Krys. Itu aja."


Seolah tersulut, Kai yang isi kepalanya sedang carut marut pun akhirnya menjauhkan tangannya dari perut Krystal, lalu turun dari ranjangn dan keluar dari ruangan itu.


Ia ingin memukul apa pun yang ada di depannya, ingin berteriak.


Sialan!!! Keparaattt!!


****


Hahaha ... pada intinya dari part ini, gak ada manusia sempurna. Adanya manusia yang bisa berpikir tenang dan manusia yang berpikiran dangkal.


Jadi, Kai lagi berpikiran dangkal karena perusahaannya pun lagi ada masalah.


Ya gitu deh. Namanya manusia. Jadi, baikan atau engga nih? wkwkwk