
haiii, apa kabar?? semoga sehat selalu ya.
happy reading genks.
****
Ia keluar, tapi bukan berarti pergi.
Kai tahu emosinya mendadak tidak bisa terkontrol, ia tahu kata-katanya sudah melukai Krystal. Tapi jujur, ia hanya ingin melepaskan amarah, mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya. Apa lagi itu perihal kesehatan Krystal.
Kai tidak benar-benar pergi. Sejenak setelah keluar dari ruang inap Krystal, ia duduk di kursi tunggu yang berada di di depan ruangan, sebelum kemudian melangkah ke arah parkiran dan menyesap rokoknya di sana.
Ia sudah berhenti memakai barang bernikotin itu, sudah lama, semenjak anak pertama mereka dilahirkan. Tapi, di saat seperti ini memang barang itu sangat cocok untuk menenangkan pikirannya. Teman yang paling ampuh untuk mengusir kepenatan selain minuman beralkohol.
Cukup lama ia merenung di sana, menyesap rokoknya, menghembuskan asap bernikotin itu bersama pikirannya yang carut marut. Berharap segala macam masalah segera terselesaikan dan pergi menghilang terbawa asap mengebul itu.
Airin memang benar, sekali-sekali Krystal memang harus di gembleng, agar pikirannya terbuka, tapi cara Kai yang membentak perempuan itu juga tidak bisa dibenarkan.
Ah sudahlah, Kai rasanya semakin pusing.
Setelah selesai menghabiskan lima batang rokok yang baru ia beli tadi saat menuju ke rumah sakit, Kai lantas kembali melangkah menuju ruang inap Krystal. Membuka pintu bercat putih itu dengan amat sangat pelan, tidak mau mengganggu tidur sang permata hatinya. Ratu di hidupnya.
Kai berhasil menjadikan Krystal dunia yang ia tinggali setelah kedua orang tuanya. Perempuan itu selayaknya poros hidup. Kai mencintainya, itu tidak bisa disangkal, maka itu ia hanya ingin Krystal mengerti seberapa takutnya ia kehilangan perempuan itu.
Melangkah semakin dekat, Kai mengelus kepala Krystal yang sudah terlelap pulas. Ada jejak-jejak air mata yang membekas di pipinya, dan itu sukses membuat hatinya sakit.
"Maafin aku." Kai melirih seraya mengecup kening Krystal lembut. Ciumannya turun menuju hidung, lalu mengecap bibir merah itu. "Jangan gini, sayang. Aku butuh kamu."
Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam lewat, Kai tidak ingin setelah Krystal yang sakit malah selanjutnya dirinya. Oleh sebab itu ia mengambil baringan di atas sofa yang ada di sudut ruangan. Terlentang dengan tangan menutupi mata.
Cukup lama ia melakukan itu hingga rasa kantuk menyerang dan dirinya masuk ke alam mimpi.
***
"Yah ... ayah, bangun." Samar-samar Kai mendengar suara itu. Suara merdu yang hampir lima tahun ini menjadi alarm tidurnya. "Ayah, kamu kerja gak?"
Ia melenguh saat guncangan di bahunya mulai terasa.
"Ayah ..."
"Lima menit lagi, sayang." Kai bergumam seraya membalikan tubuhnya menghadap sandaran sofa.
Krystal yang merasa kesulitan dalam membangunkan bayi besarnya itu kemudian mendengkus, mencubit perut Kai dengan kencang. "Buruan bangun, aku udah boleh keluar dari sini." katanya lagi dan kini lumayan lantang.
"Sakit ih," keluh Kai yang perlahan berbalik, mengerjapkan matanya sebelum terbuka lebar. "Jam berapa emang?"
"Delapan."
Kai mengamati Krystal yang berdiri di sisi sofa. Perempuan itu sudah mengganti pakaian pasiennya dengan baju hamil miliknya. Kai lalu memijat keningnya yang terasa berat. Rasanya ia baru saja tertidur, tapi tiba-tiba sudah pagi saja.
"Kamu udah boleh pulang?" tanya Kai seraya mendudukan diri di sofa.
Krystal mengangguk pelan. "Iya, aku udah boleh pulang. Ayo buruan kamu bangun, nanti pulang ke rumah dulu sekalian aku mau bikin sarapan buat kamu."
"Beli di jalan aja nanti."
"Aku masak aja." tolak Krystal, dan membuat Kai menarik napasnya kesal.
Keras kepala kan.
"Iya-iya, beli aja nanti di jalan." Kali ini Krystal mencoba mengalah. Memang harusnya seperti ini bukan? Harus ada yang mengalah demi mengurangi frekuensi perdebatan di antara mereka. "Ayo buruan kamu siap-siap. Cuci muka dulu sana."
Kepala Krystal menggeleng bersama kulu man senyum di bibir. "Gak usah bilang gitu ah. Aku gak mau bahas apa pun, biarin aja jadi pelajaran buat kita berdua, khususnya aku."
"Kamu nangis kemarin." Kai menarik pinggang Krystal, membawa tubuh itu duduk di atas pangkuannya. "Aku malah nambah beban buat kamu, ya?"
"Aku nangis cuma sebentar kok. Lagian aku juga yang buat kamu marah." Diusapnya wajah Kai. "Aku udah pernah bilang kan, tegur aku kalo aku salah. Bimbing aku untuk terus berada di jalannya. Kamu udah ngelakuin apa yang seharusnya kamu lakuin. Kamu menegur aku saat aku salah, kamu bimbing aku dengan tepat." Satu kecupan mendarat di bibir Kai. "Kita sama-sama gak sempurna, kita sama-sama pernah melakukan kesalahan. Jalan kita juga gak mudah, kak, untuk sampai di sini. Aku banyak dosa, untuk itu aku butuh pengampunan."
Kai merengkuh tubuh Krystal, menyerukkan wajahnya di perpotongan leher perempuan itu. "Kamu maafin aku, kan?" lirihnya pelan.
"Aku udah maafin kamu ... tapi kamu maafin aku gak?"
"Maafin lah," lalu Kai menjauhkan tubuh mereka demi menjangkau pandangannya dengan Krystal. "Tapi morning kiss dulu," ujarnya menyengir.
"Dasar." Krystal terkekeh seraya menangkup wajah lelakinya, lalu ia menunduk, mencicipi bibir Kai di pagi hari.
Kai tentu saja menyambutnya dengan suka cita. Ia memangut bibir Krystal yang terbuka untuknya, membiarkan lidah mereka saling berbelit di dalam sana.
Krystal mengerang saat Kai menariknya lebih dekat, menyatu dengan tubuhnya. Menikmati rasa mendamba yang dulu selalu mereka rajut bersama. Ciuman itu pun turun menuju lehernya, menghisap hingga warna kemerahan menjadi bukti cinta mereka.
Tentu bukan lagi morning kiss kalau sebelah tangan Kai yang tadi melingkar di pinggang Krystal diam-diam menyelinap masuk ke dalam dress nya, lalu mengelus lembut perut yang menampung bukti cinta mereka.
Krystal yang lebih dulu mendapatkan kewarasannya, karena jelas Kai tidak akan berhenti kalau tidak dipaksa. Ia menjauhkan tubuhnya. Menatap Kai yang juga menatap ke arahnya.
Napas mereka saling memburu, menderu tidak beraturan. "Udah ... udah, kamu gak akan berhenti, bisa bahaya, bentar lagi perawat masuk ke sini." keluh Krystal.
Si lelaki hanya menyengir konyol. "Kamu bakalan berubah jauh lebih seksi kalo kita abis berantem tau gak? Bawaannya aku mau di atas kamu terus." kelakar Kai yang sontak mendapat capitan panas di perutnya.
"Jadi maksud kamu kalo kita gak berantem aku gak seksi?"
"Ya elah, Krys. Kamu cuma duduk aja juga buat aku udah seksi banget. Apa lagi kalo telentang di atas ranjang, terus gak pake baj—AAAWWW."
Kini bukan cubitan yang Krystal berikan, tapi pukulan maut di bahu Kai hingga bunyi benturan antara tangan Krystal dan bahu Kai terdengar nyaring.
"Duhhh, sakit banget. Kamu tuh kayak ibu tiri." keluh Kai sambil meringis.
"Bibir kamu tuh—" cebiknya kesal. "Kalo kamu kayak gini aku baru berasa kenal kamu tau, gak. kalo marah-marah kayak kemarin kamu kayak bukan suami aku."
Kai merengut dengan alis terangkat. "Jadi ... kalo aku mesum baru suami kamu gitu?"
"Iya, hehe." ledek Krystal.
"Dasar ya," baru Kai akan menyerang bibir Krystal lagi, dering ponsel di atas meja menggangu mereka. Kai segera meraih benda tersebut.
"Kenapa, Dim?" Sahut Kai saat panggilan itu tersambung. Ia menurunkan tubuh Krystal dengan hati-hati, lalu sedikit menjauh agar bisa leluasa berbicara dengan Dimas.
"Pak, pembangunan yang ada di Malaysia dibatalin sama kontraktornya. Pembangunan yang di Bandung juga. Jadi sudah tiga pembangunan yang dibatalkan, bapak hari ini bisa masuk untuk ikut meeting?"
Kalimat itu secara mendadak membuat dunia Kai jumpalitan dalam waktu satu hari.
Arghhh!!! Hanya karena menyepelekan satu perusahaan kontruksi, semua pembangunan menjadi dibatalkan seperti ini.
Kepala Kai rasanya benar-benar akan pecah sebentar lagi.
"Oke, Dim. Saya akan ikut meeting hari ini."
****
ciyee masalah lagi, kali ini bukan dari urusan rumah tangga, tapi dari perusahaannya Kai. akan kah mereka bisa saling melengkapi meski gonjang ganjing belum juga selesai.