
Haiiiii ... aku kangen kalian tahu gak sihhhhh
happy reading yaaaa!
••••
Kai merasa gila, pasalnya saat Krystal pingsan, Dokter mengatakan kalau istrinya itu sedang mengandung. ya, mengandung anaknya.
Sejak kapan? mengapa Krystal tidak memberitahukannya? Jika tahu Krystal hamil ia tidak akan membuat perempuan itu cemas. Kai takut terjadi yang buruk pada calon anak kedua mereka.
Tapi tadi Dokter mengatakan semua baik-baik saja, Krystal pingsan karena ia terkejut.
Salah kan saja Rendi yang memberi informasi setengah-setengah. Kai ada di kamar mayat karena harus mengurus jasad Raisa, tapi Krystal malah beranggapan lain.
Istri mana yang tidak terkejut saat mendengar itu, apa lagi sejak semalam Krystal merasakan tidak enak di hatinya, dan begitu mendengar Kai berada di rumah sakit, pikiran-pikiran buruk pun hadir.
"Krys, bangun sayang." Kai menggengam tangan Krystal yang sedang tertidur di ranjang rumah sakit.
Ada Airin dan Rendi di sana.
"Duh, gue takut."
Rendi langsung menepuk-nepuk bahu Kai. "Tenang, kata Dokter Krystal cuma tidur."
Iya, semalaman ia tidak tidur karena memikirkan Kai, mungkin ini efek mengantuk juga.
Tak lama Krystal menggeliat dalam tidurnya, mengerjap-ngerjap perlahan.
"Sayang ... Krystal ini aku."
Mendengar suara Kai membuat Krystal membelalak cepat. Ia tolehkan wajahnya ke samping, dimana Kai sedang menggenggam tangannya.
"Kai?"
"Iya ... ini aku, sayang."
"Ini serius kamu?"
Kai mengangguk. "Iya, aku."
Bibir Krystal bergetar dan tak perlu waktu lama, ia segera menghambur memeluk tubuh suaminya. Menenggelamkan perasaan takut di dalam pelukan itu. "Ya Tuhan, aku bisa gila kalo kamu tinggalin aku kayak gini, kak."
"Maaf ..." Kai menepuk-nepuk punggung belakang Krystal pelan. "Maaf, sayang."
Entah sudah yang keberapa kalinya Krystal menangis kali ini. Matanya bahkan sampai bengkak dan merah, tapi ia tidak peduli, ia bersyukur masih bisa memeluk Kai saat ini. Beribu-ribu ucapan syukur keluar dari bibir Krystal.
"Aku baik-baik aja, kok ... maaf ya buat kamu khawatir."
Krystal menggeleng. "Aku benci kamu tau gak! Ngeselin! Aku bener-bener mau mukul kamu."
Kai terkekeh. "Jangan dong, nanti Kesya siapa yang jaga."
Secepat mungkin Krystal melepas pelukan mereka. Mengerjap dengan linangan air mata di sepanjang pipinya. "K—kamu ... tau?"
"Tahu ... tadi Dokter yang bilang." ujar Kai sembari memghapus air mata Krystal.
Bibir perempuan itu mencebik. "Ahh ... gak asik! Padahal aku mau buat surprise!"
"Gak usah suprise segala, aku juga udah terkejut kok ... lihat kamu pingsan aja aku udah terekejut."
Lalu pandangan Krystal jatuh pada sosok Rendi. "Ini nih, mas Rendi bilangnya gak jelas!" kesalnya.
Airin menyetujui.
"Loh ... kok aku?"
"Tapi bener kan, Kai memang di rumah sakit." tutur Rendi membela diri. "Kamu aja tuh, baru aku bilang Kai di rumah sakit udah kaget terus langsung di matiin hapenya."
Airin terperangah. "Kok jadi nyalahin aku?"
"Ya emang bener kan? Kamu belom dengerin lanjutan kalimat aku udah main dimatiin aja." Rendi mendengus. "Ini juga," lalu beralih melihat Krystal.
"Kenapa aku?" tanyanya tidak suka.
"Aku belom selesai bilang Kai di kamar mayat ngapain, kamu udah pingsan aja."
"Ya mas Rendi bilangnya putus-putus!" balas Krystal nyolot. Hormon ibu-ibu hamilnya mulai datang lagi.
"Udah-udah, yang penting aku kan udah di sini." Kai menengahi.
"Lagian, ngapain sih kamu di kamar mayat?" tanya Krystal, sedikit kesal dan penasaran.
Sebelum menjawab, dapat terdengat helaan napas berat keluar dari bibir Kai. "Raisa ... dia bunuh diri."
"APA??" teriak Airin dan Krystal bersamaan, membuat kedua lelaki yang ada di sana berjengit kaget.
"Kok bisa? Gimana ceritanya?" Airin kali ini yang bertanya.
"Jadi, pas kita ke sana, Raisa udah berdiri di tepi pembatas kamar apartemen yang kemarin kita datangi." Rendi menjelaskan. "Sebelum loncat, Raisa bilang, kalo Kai mau nikah sama dia, dia gak akan loncat ke bawah," lalu kedua bahu Rendi mengedik. "Yaa, Kai pastinya gak mau, jadi Raisa lompat, deh."
Percaya atau tidak, Rendi mengatakan itu dengan nada enteng dan santai, seolah cerita bunuh diri itu sangat tidak menyeramkan.
"Kamu kenapa gak bilang iya aja sih—maksud aku, bohong gitu biar dia gak lompat aja." Krystal berujar sembari meringis membayangkan Raisa lompat dari gedung setinggi itu.
Kai merengut jijik. "Ihh ogah! Raisa itu udah gila, Krys. Nanti kalo aku beneran di suruh nikahin dia gimana? Ihh emang kamu mau?"
"Ya enggak lah."
"Makanya jangan ngaco!" ujar Kai dengan sengit.
"Tapi—" Krystal jadi mengingat dulu ia bersama Raisa. Perempuan itu sangat cantik, tapi kenapa juga harus sejahat itu dengannya dulu. "Kasihan,"
"Udah takdirnya, Krys." sahut Airin. "Semoga aja gak ada Raisa-Raisa lainnya lah."
"Hm ... semoga."
Lalu hening sejenak, hingga suara Rendi kembali terdengar.
"Jadi lo mau gimana sekarang Kai? Saksi yang bisa ngebersihin nama lo udah gak ada."
"Buat konferensi pers ... lo tahu kan dimana cewek yang kemarin dijebak sama gue?"
Rendi mengangguk. "Oke, secepatnya aja. Kasihan Krystal."
Pandangan Kai beralih ke arah sang istri. Ia mengelus lembut perut itu yang masih rata. "Jangan nyusahin bunda ya, nak."
Krystal mengusak rambut Kai. "Yang buat bunda susah cuma ayahnya."
Lalu gelak tawa memenuhi ruangan itu. Selalu ada akhir yang bahagia untuk orang-orang yang mau bersabar.
••••
Masih ada lagi ini, satu part lagi mungkin, atau....dua part lagi. Tungguin aja yaa. Aku cuma mau bilang sama kalian, jangan bosen. Itu aja sih, soalnya banyak yang bosen pasti, gak tahu juga sih, hahaha soalnya aku kadang yang nulis aja ada perasaan bosan, jadi apalagi yang baca.
Makasih yaa, kalian luar biasa. Aku cuma bisa bilang makasih udah nemenin aku sejauh ini. Ya ampun ... berapa part ya? Dari Krystal masih Bocil sampe Krystal udah menghasilkan Bocil.
Thank you for everything you gave me ❤❤
oh iya, gabung grub aja buat yang mau tanya-tanya, atau mau tanya soal novel Scandal. belum launching sih, tapi bentar lagi kok. mau tanya nama IG atau Nma WP atau cerita aku yang lainnya ❤❤