
happy reading genksss
****
Ansara tidak menyangka kalau ia akan hidup mengenaskan seperti ini. Terlahir dari papa yang memilih untuk berkhianat dan mama yang sering sekali mabuk-mabukan.
Ya ... semenjak papa ketahuan berselingkuh dan memilih untuk pergi meninggalkan mama dan dirinya, mama jadi semakin menggila. Wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu jadi senang sekali menghabiskan uang pemberian papa yang telah disepakati sebagai harta gono gini setelah perceraian mereka terjadi untuk mabuk-mabukan.
Mama sering mabuk, pulang malam, dan tidak segan-segan menghabiskan uang hanya untuk membayar lelaki yang bisa menghangatkan ranjangnya. Mama bahkan terlihat lebih menjijikan dari pada papa. Tapi, Ara tahu itu semua tidak lain adalah bentuk pelampiasan mama dari rasa sakit yang papa berikan.
Ara benar benar benci pada lelaki yang sudah membuatnya ada di dunia ini. Ara benci sekali lelaki itu. Seandainya ia bisa memilih, Ara ingin sekali untuk tidak dilahirlan ke dunia. Lebih baik ia tidak pernah mengetahui dari mana ia berasal dibanding harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidak lagi memikirkannya.
Sementara papa, semenjak memutuskan untuk pergi meninggalkan mama, lelaki itu kini hidup di suatu tempat bersama wanita iblis yang sudah merusak kebahagiaan keluarganya. Persetan dengan cinta yang mereka banggakan.
Setelah perusahaan keluarga hancur berantakan, kakek Ara pergi untuk selamanya. Seluruh sanak saudara mulai tidak menerima kehadirannya. Apa lagi ditambah mama yang sering mabuk mabukan, dan papa ... Ara berharap lelaki itu hidup lebih mengenaskan dibanding dirinya.
Tidak kah ia ingat mempunyai anak lain yang juga butuh dihidupkan?
Menderitalah mereka semua yang membuat hidup Ara hancur!
"Lepas, Ken! Sakit!"
Kean menyentak tangan Ara dengan kasar, menyudutkan gadis itu pada tembok di belakang tubuhnya. "Kamu senang diperlakukan seperti itu?"
Ara tidak langsung menjawab, gadis itu memilih untuk diam sembari menunduk menatap pergelangan tangannya yang memerah karena di tarik dengan kasar oleh Kean.
"Kamu menikmati sentuhan lelaki tua itu, ck, bahkan aku gak yakin dia bisa hidup lama dengan umurnya yang sekarang! Lelaki itu udah melecehkan kamu, Ra!"
"Setidaknya aku dapat uang!"
Kean melongo takjub. Apa katanya? Uang? Karena uang Ara rela disentuh oleh pria uzur itu? Kean benar-benar tidak habis pikir. Ara di depannya ini memang sudah berubah, ia bukan lagi Ara-nya Kean yang suka memakai bando unicorn saat sekolah, bukan Ara yang selalu tersenyum dan menutupi semburat merahnya saat tertangkap sedang malu-malu. Ara yang tidak akan pernah tinggal diam saat dilecehkan oleh seseorang.
Dia ...
"Kamu siapa, sih? Aku ngerasa kayak gak kenal kamu."
"Memang seharusnya kamu gak kenal aku," Ara mendesis geli. "Seharusnya kamu pura-pura gak kenal sama aku seperti tiga tahun yang lalu."
Refleks Kean meninju tembok di belakang Ara dengan keras. Membuat gadis itu berjengit takut hingga memejamkan matanya.
"Brengsek, Ra! Kamu mau jadi *******!"
Kean tahu kalimatnya ini memang sangat keterlaluan, tapi emosi yang melingkupinya membuat Kean sulit mengontrol apa yang akan keluar dari mulutnya.
Mengangkat wajah tanpa takut, Ara memandang Kean seperti sedang menantang cowok itu. "Iya, aku memang menjual diri di sini, maka itu lebih baik kamu berhenti untuk datang ke sini hanya untuk memata-matai aku." Ia berdecih, "kamu mengganggu, Kean!"
"Berapa harga kamu?" Tidak ada nada tinggi dan juga bentakan. Kean bertanya seperti itu dengan nada pelan dan lirih. Namun, itu berhasil membuat tubuh Ara melemas, bahkan ia nyaris limbung ke belakang. "Berapa harga tubuh kamu? Tidur sama aku, Ra, aku akan kasih uang sebanyak yang kamu mau."
Ara sudah sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut-mulut lelaki hidung belang yang datang ke bar ini, baginya tidak masalah. Bahkan ia menanggapi mereka semua dengan senyum manis di bibir. Bagi Ara, bekerja di sebuah klub malam pasti akan menimbulkan banyak omongan miring, apa lagi gosip-gosip yang menyebar di dalam kampus. Ara akan menangapi itu semua dengan santai.
Namun, begitu Kean yang mengatakannya, Ara merasakan jantungnya seperti ditikam kuat hingga seluruh darahnya mengalir tidak bisa berhenti. Kesakitan atas perkataan Kean membuatnya sulit bernapas. Sesak.
Kenapa harus Kean yang mengatakan itu? Kenapa harus lelaki yang ia anggap berbeda yang harus memandangnya serendah itu? Tapi, siapa pun bebas bukan menilainya? Apa lagi hanya seorang Keanu. Ara bukan lah apa-apa lagi bagi lelaki itu.
"Tidur sama aku, apa pun yang kamu mau akan aku kasih! Kamu mau uang? Aku punya banyak! Kamu mau apa? Aku kasih, Ra. Tapi jual tubuh kamu sama aku!" Entah setan dari mana yang bisa membuat Kean mengatakan ini, tapi ia tidak ingin Ara-nya menyerahkan tubuh pada lelaki lain.
Tidak, Ara tidak boleh bekerja di tempat seperti ini lagi.
Ara mendesis miris, mengerjapkan matanya untuk menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. "Ternyata kamu sama aja ya seperti cowok-cowok yang ada di sini? Rela mengeluarkan uang berapa pun untuk menyentuh tubuh aku?" Lalu gelak tawa pelan terdengar keluar dari bibir Ara. "Kamu mau bayar aku pake apa, Kean? Kamu aja minta uang sama ayah kamu!"
"Seenggaknya aku bisa kasih kamu uang!"
"Kalo gitu, lebih baik aku milih jadi selingkuhan ayah kamu dibanding ngejual diri sama kamu!" ejek Ara yang sontak saja membuat tangan Kean mengepal keras. "Uang ayah kamu lebih banyak" lalu Ara melangkah mendekat, berjinjit untuk membisikan sesuatu ke telinga Kean. "Kira-kira, ayah kamu butuh istri muda, gak?"
Brengsekkk!!!
Kean sudah tidak bisa lagi menahan ini semua. Ia dorong bahu Ara ke belakang, menyudutkannya hingga punggung gadis itu menyentuh dinding dengan keras. Secepat emosinya tersulut, secepat itu pula Kean menyatukan bibir mereka.
Ia menekan tengkuk Ara, memaksa gadis itu untuk menerima ciumannya. Kean melakukan semua cumbuannya dengan kasar, tidak berperasaan dan penuh emosi. Bukan salah dia, tapi Ara yang memulai ini.
Sementara itu, Ara mulai merasakan perih pada ujung bibirnya. Sekuat tenaga ia mendorong dada Kean, meminta lelaki itu untuk berhenti. Namun, bukannya melepaskan, Kean malah semakin brutal menekan tubuhnya.
Ara ingin menangis, Ara merasakan sudut hatinya tergores oleh pisau tak kasat mata. Kean-nya tidak akan memperlakukannya seperti ini, Kean tidak pernah berbuat kasar padanya. Dan Kean-nya tidak akan membuatnya menangis.
"B—berhenti, Ken!" lirih Ara di sela-sela ciuman kasar itu. Air matanya sudah tumpah, dan Kean merasakan cairan bening itu mengalir di antara dua bibir yang menyatu. "Ken..."
"Tidur sama aku, Ra. Aku janji akan bayar kamu semahal apa pun!"
Bayar?
Ya Tuhan, Ara memang sudah tak dianggap lagi oleh Kean.
Tapi bukan salah lelaki itu, dia memang pantas diperlakukan seperti ini. Ia memang murahan. Ia menjijikam, sama seperti mama dan papa. Buah jatuh memang tidak jauh dsri pohonnya.
****
yaa jadi gitu deh, Kean memang sudah dewasa yaa. kira-kira dia udah tahu belom ya alat kontrasepsi yang dia beli di mini market sama ayah Kai waktu itu buat ehem ehem haha