
Holllaaaaaa .... maaf sedikit, aku sibuk sekali. sekarang juga masih sibuk tapi aku sempet-sempetin. semoga suka sama part ini.
Happy Reading!!!
••••
Krystal memaksakan dirinya untuk pulang ke rumah menggunakan taksi, meski Kai memaksa perempuan itu untuk pulang bersamanya. Krystal sedang di butakan oleh amarah. Sudut hatinya sudah terlanjut diberi kecewa, kesedihan, dunianya hancur.
Seluruh air mata Krystal rasanya mengering, rasa sakit yang ia terima begitu dalam sampai rasanya Krystal sudah tidak punya pasokan air mata untuk ia keluarkan. Ia menderita, hancur tak bersisa. Janji-janji yang dulu sempat Kai katakan rasanya sudah tidak berarti lagi saat ini.
Krystal membuka pintu rumah dengan keras, membuat dua orang wanita tua yang sedang bermain bersama cucu mereka tersentak kaget. Wajah Krystal begitu merah membuat siapa pun yang melihat merasa bingung.
"Kenapa, Krys?" tanya mama Maria. Ia membuntuti sang anak yang berjalan cepat ke arah kamar, membuka pintu dengan tergesah-gesah lalu mengambil koper dan memasukan semua bajunya ke dalam sana.
"Loh, kamu mau kemana?"
"Krystal gak mau tinggal sama Kai lagi, mah." balasnya sembari terus menjejalkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.
Mama Maria membeliak kaget. Ia mendekat. "Gimana maksudnya sih? Kamu mau pergi dari sini? Memang ada apa?"
"Krystal mau tinggal di rumah papa aja, mah. Kalo mama gak kasih izin, Krystal sama Kean tinggal di Bandung juga gak apa-apa."
"Bukan mama gak kasih izin, tapi ini ada apa? Kamu gak boleh loh ninggalin rumah tanpa izin suami." Mama Maria ikut berdiri saat Krystal selesai menutup resleting kopernya.
Perempuan itu lalu beranjak ke kamar Kean, melakukan hal yang sama dan masih diikuti oleh mama Maria. "Krystal mau pisah sama Kai!"
"Astaga!" teriakan itu terdengar sangat kencang. Tentu saja mama Maria terkejut, siapa yang tidak kaget saat mendapati kehidupan rumah tangga anaknya baik-baik saja selama ini, lalu tiba-tiba malah ingin berpisah. "Jangan ngaco kalo ngomong! Gak boleh gitu. Tuhan denger omongan kamu loh, Krys."
"Kai selingkuh mah!" Krystal menoleh, memandang mamanya dengan sorot mata kesakitan. "Aku pergokin dia di apartemen perempuan tadi, berduaan di atas ranjang! Terus aku gak boleh minta pisah?"
Kedua tangan mama Maria seketika membekap bibirnya yang terbuka lebar. "Kai? Ya Tuhan, anak itu!"
Krystal melengos, menutup koper Kean dan menariknya keluar. Ia sedang mengangkat dua koper itu saat tubuh Kai tiba di dalam rumah.
Lelaki itu mendekat dengan langkah tergesah. "Krys ... dengerin aku dulu." Ia menahan dua koper di tangan Krystal, membuat amarah perempuan itu berkobar kembali.
"Lepas!"
"Krys, aku mohon." pinta Kai memelas.
"Gak cukup kamu sakitin aku? Sekarang mau apa lagi!"
"Sayang—"
"Jangan panggil aku sayang kalo kamu terus-terusan nyakitin aku, kak!" bentak Krystal kencang.
Mama Morena mendekat. "Ada apa Kai? Kenapa Krystal bawa koper banyak gitu?"
"Mah, maaf." Krystal menyela. "Aku sama Kai mau pisah, maaf kalo aku banyak salah selama ini."
Tidak jauh berbeda dari ekspresi mama Maria tadi, begitu juga yang Krystal lihat ada di wajah mama Morena. "Kenapa? Ya Tuhan, ada apa? Kamu ngapain Krystal, Kai?"
"Konyol?" Krystal mendesis sembari membanting dua koper di tangannya. "Kamu bilang konyol? Aku lihat kamu tidur sama perempuan lain, aku marah, dan itu kamu bilang konyol?"
Mama Morena membelalak ke arah Kai. Tangannya dengan cepat memukul anak lelakinya itu. "Kaii! Ya Tuhan! Kamu apain Krystal? Kenapa bisa kayak gini?"
"Ini salah paham, mah." elak Kai, tapi Krystal tidak peduli.
Perempuan itu kembali mengangkat kopernya, menghampiri Kean yang sedang bermain bersama Naira. "Sayang, ikut Bunda yuk."
"Mau kemana, bunda? Mau liburan lagi ya?"
Kepala itu mengangguk. "Kita ke rumah oma Maria ya, kita tinggal di sana." bujuk Krystal.
Kai buru-buru menghampiri. Mencegat tangan Krystal lagi. "Apaan sih, dengerin aku dulu dong, Krys."
"Dengerin apa lagi? Apa alesan kamu kali ini. Aku gak buta Kai, kamu di atas ranjang sama perempuan yang bahkan posisi kalian itu gak pantes untuk seorang laki-laki beristri!"
Akhirnya, pertahanan Krystal tumpah, air mata itu mengalir deras melewati wajah pucatnya. Mengingat bagaimana posisi sang suami bersama perempuan lain di atas ranjang, dan tanpa pakaian yang menutupi perempuan itu membuat hati Krystal meringis sakit lagi. Kehancuran itu datang kembali.
"Ya Tuhan ... maafin aku Krystal, aku gak tahu kalo kejadiannya bakalan kayak gini."
"Oh, jadi kalo aku gak dateng kamu udah tidur sama perempuan itu?"
Kai mendesis. "Bukan ... astaga! aku salah tapi—"
"Ayo Kean kita ke rumah oma," ujar Krystal mendadak membuat sang anak ketakutan.
Kean melihat sang bunda menangis dan ayahnya berteriak kencang, sungguh ia tidak mau seperti ini. Kean juga ikut menangis, memeluk kaki sang bunda.
"Bunda jangan nangis." Pelukannya sangat erat, tubuhnya bergetar. Kean benar-benar sangat ketakutan.
Kai tidak tega melihat anaknya menangis seperti itu. Ia meilih diam dengan tangan mencengkram erat rambutnya.
"Bunda," tangis Kean semakin kencang.
Mama Maria menghampiri. "Coba dibicarain baik-baik dulu, Krys, kasian Kean." ujarnya, sedangkan mama Morena sudah menangis.
Semua orang pasti akan mengatakan itu, mengatakan kalau masalah harus diselesaikan dan dibicarakan dengan baik. Mereka mengatakan itu tanpa tahu kalau ada luka besar di dalam hatinya, kubangan derita yang membuat ia benci dengan sosok di depannya.
"Krystal udah capek, mah. Krystal mau pisah aja." ujarnya sembari membawa Kean dan koper-koper itu.
Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan baik-baik menurut Krystal. Kesabarannya sebagai seorang istri sedang diuji dan Krystal merasa gagal melewati ujian ini. Ia tidak kuat, ia tidak tahan lagi untuk menahan rasa sakitnya.
••••
ayoo kita lihat bagaimana Kai membujuk Krystal, dna menyelesaikan masalahnya bersamaan. Ditunggu yaa, doain aku sehat biar bisa update lagi besokk hehe. jangan lupa semangat beserta poin sama koin buat yang punya
makasih genks!