
happy reading ❤❤
••••
Pertengkaran pagi itu seperti perang dingin untuk mereka. Kai masih marah pada Krystal karena harus membentak anaknya dan juga menyebut sifat buruk Kean datang dari dirinya. Terkadang, bayi dewasanya itu jauh lebih kekanak-kanakan dibanding dengan Kean.
Krystal mampu mengerti kalau Kai ingin memiliki momongan lagi, tapi menurut Krystal itu semua harus perlu dipikirkan secara matang. Memiliki anak bukan hanya sekedar membuat, melahirkan, lalu memberi makan. Ada proses kasih sayang dan pendidikan di dalamnya. Kalau mereka belum bisa membagi waktu yang baik untuk anak-anak mereka, ada baiknya menunda itu sampai siap.
"Bunda, ayah kok belum pulang?" Pertanyaan Kean membuat lamunan Krystal buyar, perempuan itu tersenyum mengusak kepala sang anak dengan pelan.
"Sebentar lagi, ayah masih banyak kerjaan." balas Krystal.
"Aku mau tidur sama ayah, bunda. Mau diceritain kayak kemarin." keluh sang jagoan kecilnya.
Krystal jadi sedih. Sudah hampir seminggu mereka saling diam dan tidak bertegur sapa, dan Kai jadi lebih sering pulang malam. Terkadang Krystal juga menemukan bau alkohol menempel di baju sang suami.
Ia tidak ingin berpikiran buruk tentang itu. Krystal mencoba mengerti kalau Kai memang membutuhkan waktu bersama teman-temannya. Krystal yakin Kai pasti minum-minum seperti itu hanya saat bersama Sean dan Chandra.
"Bunda."
Krystal lagi-lagi tersentak saat anak laki-lakinya memanggil. "I—iya sayang?"
"Aku mau ke rumah Oma Rena, aku kangen Oma."
Kean itu banyak sekali maunya. Bahkan seharian ini sudah sepuluh kalimat keinginan yang ia lontarkan. Krystal sampai bingung menanggapinya.
"Hm ... hari sabtu aja, ya? Kean kan udah mulai liburan sekolah. Nanti Kean bisa sepuasnya nginep di rumah Oma Rena." balas Krystal.
Kean itu sangat suka berada di rumah kedua orang tua Kai. Selain menjadi cucu pertama mereka, Kean juga merupakan cucu satu-satunya mama Rena dan papa Kevin, jadi apa pun yang Kean mau, itu semua akan di dapat dengan mudah di sana.
Anak laki-laki itu berseru girang. Melihat kegirangan Kean membuat sudut hatinya menjadi sedih, dimana Kai saat ini? Apa lelakinya sudah makan? Apa ia kelelahan? Krystal menjadi kepikiran. Mereka berdua sebenarnya sama-sama gengsi untuk memberi kabar terlebih dahulu.
***
Selesai menidurkan Kean di kamar anak itu, Krystal berjalan keluar. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, harusnya Kai sudah pulang empat jam yang lalu. Apa lelaki itu bersama dengan Sean dan Chandra? Krystal menjadi risau.
Tidak ingin memikirkan Kai yang mungkin sedang bersama teman-temannya, Krystal kemudian menyalahkan televisi, mengganti-ganti saluran dengan kesal. Ia sedikit menyesal karena telah mengatakan hal seperti itu kemarin saat mereka bertengkar. Tapi, Krystal benar-benar tidak suka setiap Kai memanjakan Kean terlalu berlebihan, apalagi Kai berharap ia hamil lagi.
Krystal takut memberitahu Kai tentang pil kontrasepsi yang masih ia minum. Biar saja lelaki itu berharap, jika sudah waktunya dan jika ia sudah siap memiliki anak lagi, Krystal pasti akan berhenti meminum itu dan berjanji akan membuatkan Kai anak perempuan yang lucu.
Suara deru mobil terdengar dari luar. Krystal segera beranjak dan membuka pintu. Benar saja itu adalah Kai. Lelakinya itu terlihat sangat berantakan sekali, dan kerah dasinya sudah terbuka lebar.
"Kok baru pulang?" tanya Krystal begitu tubuh Kai sudah mencapai ambang pintu.
Lelaki itu tidak menjawab, ia hanya terus melangkah masuk ke dalam, meninggalkan Krystal yang sedang sibuk mengunci pintu rumah.
Diabaikan setelah mati-matian berusaha untuk bertanya itu memang sangat menjengkelkan, Krystal mendengus kesal. "Aku tanya!"
"Capek, ah!" balas Kai dengan nada sedikit tinggi.
Kai berbalik, hingga tubuhnya berhenti di depan tubuh Krystal. "Salah sendiri, aku udah saranin pake pembantu tiga, kamu minta cuma satu. Sekarang kalo kamu capek, salah aku?"
Tahan Krys, tahan.
"Kenapa sih harus marah-marah kayak gini?"
Kai mendelik. "Loh, siapa yang marah-marah? kamu yang mulai!"
"Aku kan cuma nanya!" bentak Krystal.
"Ya aku juga cuma jawab!" Kai tersenyum miring. "Kamu gak terima sama jawaban aku?"
"Ada cara baik untuk jawab istri kamu. Aku tuh istri kamu!" mata Krystal memanas seiring dengan kalimat-kalimat yang ia lontarkan.
Kai maju selangkah. Mata lelaki itu memancarkan kilat yang sangat menyeramkan. Krystal sudah bilang belum sih kalau amarah Kai itu sangat berbahaya.
"Kamu tersinggung sama jawaban aku?" desisnya dengan tawa geli. "Kalo kamu boleh tersinggung aku gak boleh gitu?"
"Aku tahu ya, kamu capek pulang kerja! Tapi bukan kamu doang yang capek, aku juga!" sahut Krystal tidak terima.
"Aku udah coba kasih penawaran bagus sama kamu! Mau pembantu berapa? Aku punya uang buat bayar."
Krystal menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mengepalkan kedua tangan di samping tubuh. Harus ya Kai membawa-bawa masalah uang di sini? ia merasa mulai jengah dan kesal.
"Ya udah, besok bawa aja pembantu tiga, biar yang urusin kamu itu mereka. Mulai dari baju, makanan, alat mandi! Seneng kan? Kalo gitu aku bisa main sama temen-temen aku, gak perlu urusin kamu!"
"Oh ya, bagus! Gak usah urusin aku! Kamu kan capek, udah ngurus Kean yang sifatnya mirip banget sama aku! Kamu capek kan?"
Krystal merasa tersindir. Ia mendelik tidak suka pada Kai. Bulir-bulir air mata itu mulai berkumpul di pelupuk matanya.
"Ngomong apa, sih?"
"Kamu lupa sama omongan kamu kemarin? Mau aku ingetin?" Kai berdecih. "Segitunya kamu gak suka sama sifat aku, Krys."
"Nggak gitu, kak." lirih Krystal. Ia kembali memanggil Kai dengan sebutan itu setelah lima tahun belakangan berhenti memangilnya seperti itu.
Kai mengusap wajahnya kasar. Menggeram tertahan dengan rahang mengeras. "Besok bakalan ada pembantu baru, kamu gak usah capek-capek lagi, Kean juga bisa diurus sama pembantu. Kamu bebas mau ngapain aja."
Setelah melepaskan kalimat seperti itu, Kai kemudian beranjak dari sana, masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan bunyi debuman keras.
Krystal sendiri hanya mematung dengan lelehan air mata di wajahnya. Ia merasakan sesak di dadanya, seperti terhimpit oleh sesuatu. Sepanjang mereka menikah, pertengkarang soal Kean memang paling banyak, tapi kali ini rasanya begitu parah. Krystal benar-benar menyesal telah mengatakan itu.
••••
Buat ibu-ibu terkadang kalo marah harus dijaga ucapannya, nanti papanya kayak Kai loh, ngambek ahahaha
Semoga suka yaa, jangan lupa koin sama poinnya untuk cerita ini. Kira-kira ada badai apa lagi ya di dalam rumah tangga mereka?? Hayoooo