Scandal

Scandal
Part 39


Melihat raut wajah Lara yang bingung Julia pun tersenyum. "Sebenarnya Edgar yang sudah menyiapkan gaun untuk kalian. Hanya saja dia bilang agar aku yang mengaku sudah menyiapkan semuanya." Jelasnya.


Lara pun menatap Edgar setelah mendengar penjelasan dari Julia. Kini ia tahu kalau pria itu benar-benar ingin memperbaiki hubungan persaudaraan dengan mereka, terbukti dari cara Edgar yang menyiapkan semuanya tanpa diminta. Dan kini Lara juga tahu tujuan pria itu membawanya ke butik agar ia mencoba gaun yang sudah disiapkan untuknya.


"Ayo Nona ikut kami."


Karyawati butik membawa Lara menuju ruang ganti dan setelah selesai mengganti pakaiannya dengan gaun, Lara kembali ketempat Edgar dan Julia yang terlihat sudah berganti pakaian. Kedua pasangan itu tampak berdiri saling berhadap-hadapan dengan jarak yang begitu dekat sampai membuat hati Lara kembali panas.


Julia yang menyadari keberadaan Lara menatap pada calon adik iparnya itu. "Kenapa lama sekali?" Tanya nya dengan bingung karena Lara cukup lama keluar dari ruang ganti. Padahal gaun yang dikenakan Lara hanyalah gaun malam biasa yang tidak serumit gaun pengantinnya.


"Karena kami sedikit kesulitan saat memakaikannya." Ucap karyawati butik.


"Kesulitan?" Julia menautkan kedua alisnya.


Sedangkan Edgar terlihat masa bodoh, dengan mata yang menatap pada gawai yang ada ditangannya.


"Gaun ini kecil sekali, perutku sesak rasanya sampai tidak bisa bernapas." Ucap Lara dengan menahan napasnya agar gaun ketat yang dikenakannya tidak robek.


Julia menatap Lara dengan intens lalu tertawa. "Sepertinya berat badanmu naik, kau terlihat lebih gemuk dari terakhir kali kita bertemu."


Lara hanya tersenyum kaku merespon perkataan Julia dengan menahan kekesalannya. Bagaimana tidak kesal jika dikatai gemuk, karena wanita manapun pasti tidak terima jika dikomentari bentuk tubuhnya.


"Bagaimana tidak gemuk, akhir-akhir ini setiap tengah malam dia selalu makan mie instan." Sahut Edgar yang kini menatap adiknya dengan intens.


"Tapi aku tidak —" Lara terdiam saat menyadari sesuatu. "Bagaimana dia bisa tahu tiap malam aku terbangun makan mie instan." Gumamnya dalam hati. Karena seingatnya Edgar sudah tak peduli padanya, dan setiap malam Lara hanya ditemani oleh pelayan yang ia bangunkan untuk membuat mie instan untuknya.


Ehem


"Maaf aku harus ganti pakaian dulu, kalau tidak gaunnya takut rusak." Dengan cepat Lara berjalan menuju ruang ganti sampai tak sengaja tersandung.


Kalau saja Edgar tidak cepat menahan tubuh Lara sudah dapat dipastikan wanita itu terjatuh dengan cukup keras ke atas lantai.


"Kak..." Jantung Lara berdetak dengan cepat karena posisi mereka yang kini begitu intim dengan Edgar yang menyentuh pinggangnya.


"Lara kau tidak apa-apa?" Julia yang juga terkejut segera menghampiri.


"Aku..."


"Kalau jalan itu pakai mata!" Bentak Edgar dengan tatapan tajamnya sambil melepas cengkraman di pinggang Lara.


"Maaf..." lirih Lara dengan tersedu dan air mata yang mulai menetes dikedua pipinya.


"Kenapa kau menangis?" Julia bingung begitupun Edgar, karena tahu Lara tidak terjatuh atau pun terluka.


"Aku.. aku." Lara semakin menangis dengan keras.


"Kau itu cengeng sekali, baru dibentak seperti itu menangis." Ejek Edgar meskipun dalam hati ia menyesal sudah membentak Lara, karena begitu terkejut saat melihat adiknya hampir terjatuh.


"Bukan karena itu, tapi gaunnya.. gaunnya rusak." Lara menyentuh bagian punggung gaun yang dikenakannya dimana resletingnya kini robek.


Julia yang mengetahui alasan Lara menangis langsung tertawa. Sementara Edgar hanya bisa menahan kekesalannya karena sikap random Lara yang menangis hanya karena gaun yang dikenakan rusak.