Scandal

Scandal
R


sebelum happy reading, aku cuma mau bilang sama kalian. nikmatilah bacaan kalian, jangan terlalu banyak menuntut tentang sesuatu yang hanya berbau fiksi. ingat, ini fiksi loh haha


happy reading yayyyy!!


****


Krystal memasangkan dasi di kerah kemeja Kai dengan telaten, ia juga menepuk-nepuk bahu sang suami dengan lembut saat selesai memasangkannya.


Semalam ia mendapati tidur Kai yang kurang nyenyak, ada guratan dalam di tidur sang lelaki. Semenjak menikah dengan Kai, Krystal tahu semua kebiasan lelakinya. Kai akan tertidur dengan guratan di kening saat ada masalah di perusahaan.


Karena alasan itu pula, Krystal berasumsi kalau di perusahaan kini sedang memiliki masalah. Tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya sampai hari ini.


"Udah selesai." gumam Krystal yang dihadiahi kecupan dari Kai di kening, lalu di pipi, dan berakhir di bibir.


Untuk di bibir, Kai menahannya cukup lama. bahkan lelaki itu memberikan jilatan dan gigitan kecil agar lidahnya bisa menyelusup masuk.


Ah morning kiss yang menyejukan hati.


Krystal menepuk dada Kai pelan, kode kalau ia butuh napas.


"Sama kamu aku gak pernah bisa berhenti tau gak." gumam Kai dengan kening mereka yang saling menempel. "Udah mana sekarang aku gak bisa jenguk dia lagi." tangannya mengelus perut Krystal.


Semenjak di rawat di rumah sakit akibat pingsan, Krystal tidak boleh dulu melakukan hubungan suami istri dan itu berhasil membuat Kai stress dan uring-uringan.


"Kan aku bantu pake tangan."


"Tangan mana enak sih, sayang."


Refleks Krystal memberi jarak di antara mereka, lalu memukul lengan Kai sambil terkekeh. Mereka akan selalu sevulgar itu kalau menyangkut urusan ranjang. "Udah yuk, nanti telat lagi kamu ke kantornya."


"Kantor punya aku ini kok, gak apa lah telat dikit."


"Gak boleh lah, kamu harus tunjukin sama karyawan kamu. Gimana mereka mau disiplin kalo bos nya aja gak melakukan itu."


"duh ..." Kai mendengus, menjawil bibir Krystal lalu kembali mengecupnya. "bisa banget sih istri ku ini kalo ngomong."


lalu keduanya keluar kamar sambil berjalan bersisihan.


"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Krystal saat mereka sedang menuruni anak tangga untuk sampai di ruang makan.


Kai menoleh sekilas dengan tampang bingung. "Baik ... kenapa? Kok nanyanya gitu?"


"Nggak, aku lihat kamu akhir-akhir ini tidurnya kayak keganggu. Aku pikir ada masalah di perusahaan."


Dan Kai hampir tersentak mendengar itu. Ia mencoba terlihat biasa, menarik kursi meja makan, lalu duduk di sana dengan santai. "Ada sedikit masalah, tapi udah baik-baik aja." jelasnya sedikit beralasan.


"Bener?" Dan untuk Krystal, ia akan menjadi perempuan yang sulit percaya.


"Bener dong, sayang." Kelakar Kai mencoba menenangkan sang istri.


Tidak sepenuhnya berbohong. Perusahaan mereka memang baik—dalam artian tidak akan bangkrut hanya karena kehilangan kontrak. Tapi, mungkin akan ada penurunan harga saham, profit, dan popularitas.


Kai sudah bekecimpung di dunia property cukup lama. Ia memahami bagaimana seluk beluk persaingan. Tidak masalah, selama ia masih bisa mempertahankan eksistensi perusahaan mereka.


Krystal duduk di sebelah Kai, mengoleskan roti dengan selai cokelat lalu melipatnya dan memberikan pada sang suami.


"Nanti kamu pulang jam berapa? Aku mau ke rumah sakit, dijemput sama kak Airin."


Kai menyesap kopinya setelah berhasil menelan roti buatan Krystal. "Kayak biasa, aku kan meetingnya cuma pas makan siang aja. Paling jam empat udah pulang lagi ke kantor."


"Jemput aku ya?" Krystal berujar demikian dengan kedipan mata lucu, yang berhasil membuat Kai gemas.


"Gak usah minta pake kedip-kedip gitu aku juga bakalan kabulin kok, kamu tuh minta dicium banget ya?"


"Huh!" Krystal mendengus. "Otak kamu tuh ya," lalu bergidik. "Asal jangan ke cewek lain aja kayak gitu, aku potong jerry kamu."


Mata Kai membola, tapi tak lama kekehan keras keluar dari bibirnya. "Aku suka kamu yang ganas kayak gini. Menatang banget, ewwwhhh...."


***


"Devia," ujar wanita ber-blazer hitam dengan rok span di atas lutut itu seraya menjabat tangan Kai.


"Kaisar," balas Kai. "Silahkan duduk."


Mereka duduk saling berhadapan di sebuah restoran Italy yang sangat terkenal di pusat kota. Restoran itu tidak hanya sering dibuat sebagai transaksi bisnis para pengusaha, tetapi juga sering dijadikan tempat sebagai tempat romantis beberapa pasangan untuk melamar atau melakukan dinner romantis.


Siang itu, tidak banyak pengunjung yang datang meski jam makan siang sudah hampir berakhir.


"Sepertinya kita pernah bertemu, ya?" tanya wanita yang bernama Devia itu. Ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapih, di padu padankan dengan lipstik merah di bibir.


Ugh, ia memang terlihat cantik.


Jika seorang Kai yang dulu mungkin akan blak-blak an secara langsung mengajak wanita itu untuk terlibat urusan ranjang, tapi tidak dengan seorang Kaisar Wira Atmadja yang sekarang, yang sudah memiliki istri dan seorang anak, dan sebentar lagi akan bertambah satu.


"Hem, sepertinya begitu. Di sebuah acara penggalangan dana. Pak Danu pernah mengenalkan anda pada saya."


"Oh iya," Devia sontak berseru riang. "Papa yang kenalin aku ke kamu."


Kai tersenyum menanggapi.


"Bagaimana kabar kamu, Kai?"


Em ... oh, apa mereka akan terus berbasa basi seperti ini. Rasanya Kai kurang nyaman.


"Baik, anda sendiri bagaimana?"


"Aku juga baik ... hem, ngomong-ngomong gak perlu se-formal itu, Kai. Kita juga sudah kenal sebelumnya."


Dan Kai benci bagian ini. Berbicara santai dengan klien mereka.


"Oh ... oke," jawabnya canggung.


"Kamu udah punya istri kan?"


Kepala Kai bergerak naik turun sebelum menjawabnya dengan lisan. "Ya, dan aku juga udah punya anak, sebentar lagi mau du."


"Wow," lagi-lagi Devia berseru riang. "Selamat ya. Aku gak nyangka pria kayak kamu bisa juga berkomitmen?"


Keningnya berkerut. "Maksud kamu?" tanyanya tidak mengerti.


Devia hanya tersenyum seraya mengedikan bahunya. "Ya, gini gini aku tau loh track record kamu. Banyak perempuan yang pernah singgah di hidup kamu sebelum kemudian kamu di jodohin sama model itu."


Oke, sampai sini sepertinya sudah cukup. Kai harus segera membahas tentang bisnis mereka.


"Terima kasih, aku tersanjung kamu bisa tahu sejauh itu. Tapi sepertinya kita harus lebih dulu membahas tentang bisnis kita."


"Ah iya, sorry aku lupa." Devia tersenyum ke arah Kai, memandanginya dengan begitu lamat. "Hm, tapi aku suka sih, lihat perubahan kamu yang sekarang, Kai. Terlihat lebih tegas dan dewasa. Beruntung ya istri kamu."


"Ya, dan aku jauh lebih beruntung mendapatkannya."


"Uhh, tipe-tipe lelaki setia. Makin suka aku."


Terserah.


Sudahlah, Kai tidak ingin membahas itu. Ia kemudian mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu membahasnya dengan Devia.


Sekitar hampir empat puluh lima menit, mereka berdua mendapatkan kesepakatan. Lalu kontrak itu pun terjadi. Selama hampir enam bulan ke depan pembangunan resort baru di makasar, selama itu pula mereka akan sering berinteraksi.


****


Betewe, kenapa sih kalian tuh selalu berpikiran buruk setiap ada wanita lain?? Lagi juga pelakor itu kan sebutan untuk perempuan yang merebut laki orang, kalo gak direbut kan bukan pelakor wkwkwk santai aja genks, cerita tuh ada buat di nikmatin. Hidup sudah susah, mau nikmatin juga rada ribet, di tambah lagi adanya pandemi covid 19. Yang penting kalian mah baca, terus komentarin karakternya, bukan nyuruh aku buat bikin cerita sebagai mana kalian mau. Aku nulis buat senang senang, kalo nurutin maunya kalian terus, aku kapan senangnya?? Huhuhu


nangis nih 😭