
Dan disinilah akhirnya ketiga para wanita tersebut, berada di ruang rawat Lara setelah putri ketiga Miranda selesai berbicara empat mata dengan Robert. Entah apa yang dibicarakan oleh keduanya, karena Miranda dan Lily tidak berani untuk bertanya.
"Jadi kapan kita akan berangkat Mom?" Tanya Lara dengan mencairkan suasana mereka yang terasa kaku setelah kembali dari ruang rawat Robert.
"Setelah dokter mengijinkan kau pulang." Jawab Miranda sambil mengusap wajah Lara yang terlihat lelah penuh beban.
"Mom, boleh aku minta sesuatu?"
"Apa sayang?"
"Bisakah kita tidak pergi?"
"Lara, tapi mom sudah menyiapkan keberangkatan kita—"
"Kalau tujuan Mom membawa aku keluar hanya untuk memisahkan aku dan Edgar, sepertinya tidak perlu lagi. Karena besok Nelson akan membawa Edgar ke Singapura."
"Lara kau?"
Lara menganggukkan kepalanya. Ia pun menceritakan pada Mom Miranda kunjungannya tadi ke ruang ICU dimana Edgar dirawat, karena tidak ingin menyembunyikan apa pun pada Mommy nya.
"Mom aku berjanji tidak akan lagi bertemu dan berhubungan dengan Edgar kembali, jadi bisakah kita hidup tenang di sini? Kasihan kak Lily jika mengorbankan karir yang sudah dibangunnya dari nol. Aku juga takut kak Rose kembali dan mendapati Mansion ini kosong."
Miranda kehilangan kata-katanya karena semua yang diucapkan Lara benar. Ada Rose dan Lily yang akan menjadi korban jika ia tetap memaksa pindah ke Luar negeri. Lagi pula urusannya disini pun belum selesai, ia masih harus memberi perhitungan pada Nela yang sudah memfitnahnya dengan kejam. Dan juga menyelesaikan perceraiannya dengan Robert.
Lagi pula Lara sudah berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Edgar, dan Edgar sendiri pun saat ini koma entah kapan bisa tersadar. Jadi apa salahnya mereka tetap tinggal disini, sampai Rose pulang baru mereka pindah mencari rumah yang tidak terlalu besar dengan Mansion yang mereka memiliki saat ini.
"Baiklah, tapi setelah Rose pulang kita pindah ketempat tinggal lain yang lebih sesuai untuk kita. Dan kau juga harus berjanji untuk melanjutkan pendidikanmu."
Dalam hati Lily mengucapkan terima kasih pada Lara, karena akhirnya ia tidak perlu meninggalkan karier yang begitu dicintainya, yang sudah dirintisnya selama ini meskipun dipenuhi oleh Scandal-scandal yang dibuatnya.
"Kak Edgar selamat tinggal, aku harap kakak bisa sembuh dan kembali pulih seperti sediakala." Doa Lara dalam hati dengan memantapkan diri untuk melupakan Edgar demi Mom Miranda dan semua orang yang sudah terlibat dengan Scandal yang dibuatnya.
*
*
Satu tahun kemudian.
"Diam Gavi!" Lara memukul sahabatnya itu yang sejak tadi mengganggunya. Padahal saat ini mereka tengah berada di dalam ruang perpustakaan dan itu artinya dilarang berisik.
"Sudah hentikan! Kau tidak cocok belajar seperti itu, lebih baik sekarang kita pergi jalan-jalan. Aku akan mentraktirmu bagaimana?"
Lara yang sejak tadi berwajah masam, seketika itu juga tersenyum lebar. "Kenapa tidak bilang dari tadi." Serunya sambil mendorong Gavi dengan kuat sampai pria itu menabrak lemari buku, dan tentunya membuat buku-buku yang ada di rak berjatuhan.
"Lara Collins!" teriak penjaga perpustakaan dengan geram. Karena lagi-lagi gadis itu membuat masalah di dalam ruangannya.
"Bukan aku tapi dia." Lara menunjuk Gavi, lalu kabur melarikan diri.
Ya, itulah Lara Collins yang sudah kembali seperti dulu. Gadis cantik ceria, ceroboh, dan banyak kekurangan lainnya yang selalu membuat semua orang naik darah.
Sementara itu ditempat dan di negara yang berbeda. Seorang pria yang memakai setelan jas hitam tengah memandang ke bawah jendela ruangan dengan datar dan dingin, dimana banyak mobil berlalu lalang. Mungkin tubuhnya berada di dalam ruangan tersebut, namun hati dan pikirannya selalu tertuju pada satu sosok yang sangat ia rindukan selama ini.
"Lara Collins..." lirihnya dengan dada yang terasa sesak setiap mengingat wanitanya.