
Setelah selesai berbicara dan melepaskan rasa rindunya dengan Edgar. Lara kini tengah bersama Gavi, menemani sahabat baiknya itu mencari kado ulang tahun untuk istri sang presiden alias Ibu kandung Gavi. Dan tentunya kepergian Lara kali ini bersama Gavi sudah atas ijin dari Edgar.
Sebenarnya tadi Lara juga mengajak Edgar, namun pria itu bilang ingin menemui Robert untuk meminta Lara secara langsung sebelum meminta pada Miranda. Rasanya lucu sekali saat membayangkan Edgar meminta pada Dad Robert, pada pria yang dulunya berstatus sebagai ayah kandung pria itu. Belum lagi dengan cara Edgar yang menyebut Dad Robert hanya nama tanpa embel-embel Dad, karena dulu Lara lah yang selalu memanggil Dad Robert dengan sebutan Robert saja.
"Jadi kau akan kembali padanya?" tanya Gavi dengan wajah yang ditekuk, saat mereka sampai di salah satu cafe yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, setelah lelah mencari kado untuk mommy nya yang akan berulang tahun.
Lara mengangguk dan menggelengkan kepala dengan bersamaan, membuat Gavi bingung sampai mengerutkan keningnya.
"Ya atau tidak?"
"Bisa ya, bisa tidak. Tergantung." Lara mengangkat kedua bahunya.
"Tergantung bagaimana?"
"Ya tergantung yang digantung, jemuran." Canda Lara dengan tertawa. Namun tawanya terhenti saat kepalanya di toyor oleh Gavi.
"Tidak lucu." Ketus Gavi dengan kesal. Bagaimana tidak kesal saat penasaran dengan jawaban Lara, wanita itu justru bercanda. Jika bercandaannya lucu mungkin ia sedikit terhibur, tapi bercanda Lara sungguh sangat garing.
"Gavi." Lara balik mentoyor kepala sahabat baiknya itu. "Jangan lakukan itu lagi, karena yang berhak melakukan itu hanya Edgar." Ucapnya dengan tersenyum malu-malu.
"Ck, menggelikan. Sekarang katakan kau kembali padanya atau tidak?"
"Sudah aku katakan bisa ya, bisa tidak. Tergantung Mom Miranda. Kau tahu bukan, Mom Miranda tidak suka dengan Edgar karena statusnya yang merupakan anak dari Nela." Ucap Lara dengan menghela napasnya.
Gavi menganggukkan kepalanya. Kini dia mengerti, karena Lara sering bercerita apa yang selama ini terjadi pada wanita itu. Bagaimana Lara kecelakaan hingga keguguran, dan harus terpisah dari pria yang bernama Edgar. Pria yang dulu ia ketahui berstatus sebagai kakak Lara.
"Berarti aku masih punya kesempatan." Ucap Gavi dengan tersenyum menggoda.
"Kesempatan apa?" Lara mengerutkan keningnya.
"Ck, tentu saja kesempatan menjadi kekasihmu." Dengan gemas Gavi menarik hidung Lara hingga wanita itu mengaduh.
"Gavi, sudah kukatakan kau itu —"
"Lebih cocok menjadi sahabatmu." Potong Gavi dengan cepat.
Lara tersenyum sembari menggenggam tangan Gavi. "Aku tidak ingin merusak persahabatan kita hanya karena hubungan yang bernamakan cinta, karena bagiku kau sangat berarti Gavi." Ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Kau juga sangat berarti bagiku Lara Collins. Dan aku bahagia jika kau bahagia."
"Uh so sweet.." Goda Lara dengan terkekeh geli. "Suatu saat nanti kau pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari ku Gavi."
"Pastinya. Anak nomer satu di negeri ini harus bisa mendapatkan wanita yang cantik, tidak bodoh, tidak ceroboh, tidak —"
"Kau menyindirku?" Sela Lara tak terima sembari memukul Gavi.
Keduanya pun kini tertawa terbahak-bahak dan saling memukul, tanpa mempedulikan sama sekali para pengunjung lainnya yang menatap kearah mereka.