
"Jawab kak Ed, untuk apa kita menikah?" Lara mengulang pertanyaannya, karena Edgar diam saja begitu pun dengan semua orang.
"Lara kau diam dulu!" Robert memberi isyarat agar putrinya untuk diam, karena situasi mereka yang tidak mungkin membahas pertanyaan Lara yang tak berbobot itu.
"Tapi Dad—"
"Lara Collins." Geram Rose dan Lily sembari membekap mulut adiknya
"Sebenarnya kau itu mirip siapa? Kenapa kau begitu bodoh." Umpat Rose pada Lara.
"Tentu saja mirip Robert, kalian lupa Nela membodohi Dad kalian sampai bertahun-tahun lamanya." Sahut Miranda dengan menyindir.
"Miranda..." Sela Robert sembari menghela napasnya. Karena lagi-lagi ia yang kena getahnya disetiap perdebatan yang terjadi diantara Miranda dan ketiga putrinya.
"Kenapa? Yang aku katakan benar bukan?"
"Iya, tapi jangan seperti ini." Protes Robert yang merasa malu karena aib nya diungkit kembali didepan semua orang terutama didepan Nelson.
Sementara itu Nelson yang melihat bagaimana kisruh nya keluarga Miranda, hanya bisa menahan rasa geli terutama pada kelakuan Lara yang tadi mempertanyakan pada Edgar kenapa mereka menikah. Tidak bisa Nelson bayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga keponakannya nanti, karena memiliki istri yang polos dan lambat dalam berpikir
"Bisa kita kembali ke topik pembicaraan?" Tanya Nelson, membuat semua orang kini menatapnya.
"Jadi bagaimana keputusanmu Edgar?" Miranda kembali fokus pada permasalahan Edgar dan Lara.
"Edgar..." Nela menggelengkan kepalanya.
Namun Edgar tetap pada keputusannya karena tidak mungkin ia memutus hubungan dengan Mom Nela. Meskipun mom Nela sudah berbuat jahat bahkan sampai menghilangkan darah dagingnya, tapi tetap Mom Nela ibu yang telah melahirkannya ke dunia.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut pun terdiam setelah mendengar keputusan Edgar. Atau kata yang lebih tepatnya terkejut mendengar Edgar lebih memilih Nela dibanding Lara, mengingat pria itu begitu mencintai seorang Lara Collins bahkan pernah mempertaruhkan nyawanya.
"Maafkan aku Lara." Ucap Edgar sembari berjalan mendekat pada wanitanya. "Sungguh aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa." Edgar menyentuh wajah wanitanya dengan perlahan. "Jaga dirimu Lara, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu." Ucapnya sembari mengecup bibir Lara sebelum meninggalkan tempat tersebut.
"Kak tunggu!" Lara menahan lengan Edgar yang hendak menjauh lalu memeluk pria itu dengan erat, karena ia tahu ini terakhir kali ia bisa melihat dan memeluk Edgar. "Aku juga berdoa untuk kebahagiaanmu. Jangan pernah lupakan aku kak." Pintanya dengan menangis lalu berlari menuju kamarnya, yang disusul oleh Rose dan Lily.
"Pasti Lara, aku pasti tidak akan pernah melupakanmu." Ucap Edgar pada punggung Lara yang kini menghilang di balik dinding pemisah. "Aku titip jantung hatiku, tolong jaga Lara." pinta Edgar pada Miranda lalu membawa Mom Nela untuk pergi dari tempat tersebut.
Miranda sendiri hanya diam menatap kepergian Edgar dan Nela.
"Kau sudah mendapatkan jawaban dari Edgar bukan? Aku harap kau puas dengan jawaban keponakanku." Ucap Nelson sambil berlalu dari rumah Miranda untuk menyusul keponakannya.
"Miranda aku mohon jangan seperti ini. Kasihan mereka." Pinta Robert karena tidak tega melihat Lara menangis. Bagi Robert cukup dia saja yang sudah membuat Lara menderita sejak kecil, jangan sampai Miranda pun melakukannya hanya karena kebencian wanita itu terhadap Nela. "Aku tahu kau ibu yang baik Miranda, maka lakukanlah hal yang terbaik untuk putri kita."
Miranda pun menganggukkan kepalanya, ia berjalan keluar dari rumah untuk menyusul Edgar.