
haiiiiiii ... apa kabar klean???
happy reading yaaayyyy!!
****
Perusahaannya terombang ambing, hampir membuatnya kesulitan, kepalanya terasa ingin pecah. Tapi meski tidak terlalu parah dan masih bisa teratasi, masalah perusahaan itu bisa mempengaruhi mood Kai yang jumpalitan beberapa hari ini.
"Pak, besok bapak ada meeting sama PT. Adyaksa, sekaligus makan siang di Restoran Italy."
"Jadi saya meetingnya di sana?" tanya Kai yang masih sibuk meneliti dokumen-dokumen di tangannya.
"Iya, pak."
"Jam berapa?"
Dimas—sang asisten kepercayaan membuka lagi note book di tangannya. Menggeser beberapa kali layar itu ke atas. "Jam dua siang, pak."
Kai segera mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangan pada Dimas yang sedang berdiri di depan meja kerjanya. "Di ganti aja, Dim, jadi jam tiga atau empat, atau malam saja. Soalnya saya ada janji sama istri saya untuk makan siang di rumah."
Tadi pagi, sebelum Kai berangkat bekerja. Krystal mengajaknya makan siang. Bukan hari ini, tapi besok. Kai yang merasa hubungannya bersama Krystal baru saja membaik tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia sudah berjanji.
"Hm ...," Dimas tampak bepikir sebentar. "Pak, maaf ... tapi lebih baik kalau meeting ini berjalan sesuai perjanjian dari pihak Adyaksa saja. Kita sudah kehilangan tiga kontrak, pak. Saya takut kalau kita mengundur-undur waktu bertemu, mereka tidak akan suka dan memilih untuk membatalkan kerja sama."
Ah sialan. Di ingatkan tentang tiga kontak yang sudah hangus karena kesalahan dirinya, Kai mendadak meringis dalam hati. Ia juga tidak ingin kontrak ke empat ini berakhir tragis seperti ketiga kontrak sebelumnya.
Tapi, apa ia tega mengecewakan Krystal yang sudah berharap mereka bisa makan siang bersama.
Ngomong-ngmong, Krystal sekarang sudah jauh lebih baik. Ia juga menuruti semua perintah Kai padanya. Krystal sesekali menjenguk papa Ryan, dan pulang ke rumah tidak ingin berlarut sengan kesedihan.
Kesehatan papa Ryan tidak juga membaik. Dokter menyatakan kalau lelaki paruh baya itu mengalami koma. Krystal memang mencemaskan, tapi ia berusaha untuk tetap menjaga kewarasaannya.
"Siapa yang menjadi perwakilan PT. Adyaksa besok?"
Dimas kembali menatap note booknya. "Ibu Devia, pak. Anak sulung bapak Danu."
Kai mengangguk paham. Devia Adyaksa, Kai pernah beberapa kali bertemu dengan wanita itu di dalam sebuah acara penggalangan dana. Tapi Kai tidak menyangka kalau Devia ternyata terjun langsung ke dalam perusahaan mereka.
Setelah meminta Dimas keluar, Kai kemudian menghubungi Krystal sekedar memberitahukan kalau acara makan siang mereka besok tertunda.
"Hallo, Bun." sapa Kai ketika panggilan itu tersambung. "Kamu masih di rumah sakit?" Ia bertanya karena merasa berisik dari seberang sana.
"Nggak, Yah. Aku udah di super market, mau belanja buat masak makan siang besok." Ada jeda sebentar saat Krystal menanyakan letak sayuran pada pegawai toko. "Memang kenapa, Yah?"
Mendadak Kai tidak enak hati ingin menyampaikan kalau besok ia tidak bisa makan siang di rumah. Krystal sudah berbelanja, perempuan itu juga terdengar sangat bersemangat saat mengatakan makan siang bersama.
"Yah?" tegur Krystal karena tidak kunjung mendapat sahutan.
"Eh?" Kai terhenyak. "Emm ... Bun, maaf ya, besok aku gak bisa makan siang di rumah, soalnya ada meeting. Dan meetingnya itu juga di restoran sekalian makan siang gitu." jujur Kai takut-takut.
Suara Krystal pun yang berada di ujung telepon mendadak tidak terdengar. Pasti istrinya itu sedang kecewa.
"Ganti hari aja gimana?" tawar Kai.
Akhirnya ia bisa mendengar helaan napas Krystal kali ini. "Ya udah, gak apa-apa, kok. Kamu kan gak bisa juga karena meeting. Yang penting bukan untuk makan siang sama perempuan lain hehe." kelakar Krystal mencoba santai.
Tapi kalimat nyeleneh dari sang istri malah membuat Kai jadi salah tingkah dan semakin tidak enak hati. Memang meeting, tapi sama perempuan lain. Dalam artian ya, hanya sekedar klien saja.
"Kalo sekarang bisa pulang dulu ga, Yah?"
Kai sekilas melirik jarum jam di tangannya. "Bisa sih, Bun, tapi cuma sebentar palingan."
"Ya gak apa-apa, Yah. Aku masakin sekarang aja ya?"
"Loh, kamu mau makan siang barengnya sekarang?"
"Iya, aku juga udah belanja, kalo buat nanti-nanti takut sayurnya layu."
Buru-buru merapihkan meja kerjanya, Kai menyambar jas kerja dan beranjak dari kursinya. "Ya udah, aku jalan pulang nih, ya." ujar Kai setelah membuka pintu ruangannya.
"Hem ... hati-hati kamu ya."
"Kamu juga, Bun. I love you."
"I love you too." balas Krystal di akhiri kekehan kecil.
Kai memasukan ponselnya pada kantung celana begitu ia melihat Dimas sedang duduk di kursinya.
"Saya keluar dulu, Dim. Mau ketemu sama istri saya. Tolong kosongin jadwal saya sampe jam tiga ya."
Dimas mengangguk. "Baik, pak."
****
Sesampainya di rumah, Kai melihat Krystal sedang sibuk sekali di balik dapur, di temani oleh bi Ida di sebelahnya. Tubuh Krystal kini sudah tidak se—seksi dulu, ada beberapa bagian yang membesar, tapi bagi Kai itu adalah tempat ternikmat dan ternyaman untuknya.
"Belum jadi masakannya, Bun?"
Krystal segera menoleh saat sapaan itu ia dapat dari belakang punggungnya. Ia tersenyum tipis, membuat pipinya yang mulai gembil terlihat sangat manarik di mata Kai.
"Aduh, kamu jangan senyum dong, bikin aku mau gigit aja."
Krystal melotot garang. "Hus!" sergahnya sembari melirik ke arah bi Ida. "Jangan ngaco deh."
Kai terkekeh dan menarik tubuh Krystal untuk ia peluk. "Kangen, ih."
"Ya ampun, baru lima jam kamu kerja, udah kangen aja masa." ledek Krystal saat Kai menyerukan wajahnya di perpotongan leher. "Duduk aja sana, aku siapin dulu masakannya."
"Gak mau. Aku mau peluk dulu."
"Heh, ada Bi ida loh." bisik Krystal, dan itu berhasil membuat Kai mengangkat wajahnya. Bukan untuk berhenti, tapi untuk meminta bi Ida pergi dari sana.
"Bi, udah tinggalin aja masakannya, biar saya yang bantu Krystal."
Bi Ida terkekeh. Perempuan itu jelas tahu apa yang dimaksud dengan tuannya. Mereka hanya ingin berduaan.
Setelah bi Ida pergi dari sana, tahu-tahu Kai melingkarkan tangannya ke pinggang Krystal, membungkuk sedikit dan mengangkat tubuh Krystal untuk ia pindahkan ke atas meja.
Krystal sedikit terkejut, namun tak lama ia terkekeh seraya menepuk pundak Kai gemas. "Aneh-aneh aja sih, nanti mejanya jebol loh kalo aku dudukin."
"Kamu gak seberat itu ya, meski badan kamu lebar hehe." ejek Kai bercanda.
"Oh, berani kamu ngeledek aku?" Bibir Krystal mengerucut membuat Kai gemas dan refleks memberikan kecupan di sana.
Mata mereka saling bersitatap, Kai memandangi netra bening yang ada di depannya. "Kean dimana?"
"Masih di rumah mama Rena, gak mau pulang dia. Di sebelah rumah ada anak perempuan cantik, namanya Mesya, Kean katanya senang main sama Mesya."
Kai terkekeh geli. Anaknya itu, ya ampun kenapa harus meniru kelakuannya. "Terus Ara gimana?"
"Tetap, dia bilang sukanya sama Ara." Krystal menyeleneh. "Kamu banget ya? Sama cewek layak gitu."
"Berarti dia pinter cari cewek, Bun. Tau aja yang cakep-cakep. Pasti gedenya jadi playboy."
Krystal refleks memuku lengan Kai. "Ih, jangan aneh-aneh ngomongnya. Aku mulai sekarang harus kasih arahan ke Kean, jangan sampe dia kayak ayahnya yang salah jalan."
"Huhh, sindir aja aku terus." keluh Kai dengan wajah mencebik. Tapi Krystal malah tertawa melihat itu.
Sikap Kai terkadang memang menggemaskan, terkadang juga menyebalkan. Namun Krystal sepertinya tidak bisa hidup tanpa itu.
Perlahan Krystal memejamkan matanya saat jarak wajah mereka kian dekat. Sampai hidung mereka bersentuhan, dan Kai memiringkan wajahnya lalu mempertemukan bibir mereka.
Melekat.
Bergerak.
Menghisap.
Tidak peduli pada waktu yang terus bergulir, mereka melakukan itu dalam nikmat yang tiada henti. Mengmbil pasokan oksigen beberapa kali, kemudian menyatukannya lagi.
Bergerak mencari kepuasan, saling membelit dengan erangan. Benang saliva itu terputus tatkala bunyi oven terdengar. Mereka mencipta jarak sambil terkekeh pelan dengan mata terpejam.
Kai kemudian menjatuhkan wajahnya di bahu Krystal. Bergumam pelan, terlalu pelan hingga nyaris berbisik.
"Sehat terus kamu ya, Bun. Aku sayang banget sama kamu."
Krystal pun segera membalasnya dengan penuh cinta. "Aku juga sayang kamu, Ayahnya Kean, suaminya aku."
****
jadi kepingin buru-buru bikin kisah Kean sama Ara, soalnya udah ada di kepala wkwkwkwk tapi tenang genks, aku gak mau memusingkan kepala aku karena masih banyak cerita yang kumiliki terbengkalai hahaha
enjoy yayyy