Scandal

Scandal
S2 - Part 35


Haiiiii ... aku datang lagi .... maaf menunggu lama


happy reading!


••••


Semuanya menjadi sangat kacau untuk Kai. Krystal memilih untuk berpisah dengannya dan pergi meninggalkan rumah, lebih dari itu, ia juga membawa serta Kean untuk ikut bersamanya.


Kai tidak bisa menerima itu, ia tidak mengizinkan mereka berdua pergi dari rumahnya, baik Kean atau pun Krystal. Kai sebenarnya tidak ingin memperpanjang perdebat itu di depan sang anak, tapi Krystal seperti hilang kendali dan membuat Kean menangis.


Mau tidak mau Kai terpaksa menurutinya. Ia menahan tubuh Krystal saat tangan perempuan itu hampir menjangkau gagang pintu depan. Kedua mata mereka saling berpandang dengan tajam, menyiratkan emosi yang berbeda.


"Lepas!" Krystal meronta, namu Kai tidak mengindahkan teriakan itu.


"Kalo kamu mau pergi, pergi sendiri aja, gak usah bawa Kean." Kai berujar seraya menarik tangan Kean untuk berdiri di sebelahnya.


Tetu saja aksinya itu membuat amarah Krystal semakin meledak, ia menarik kembali tangan Kean untuk pindah ke sisinya. "Kean gak bisa sama kamu karena aku bundanya!"


"Aku ayahnya, kenapa dia gak bisa sama aku!" Kai mendekat untuk mengambil Kean kembali, tapi Krystal membawa anak laki-laki itu pada balik tubuhnya. "Kalo kamu mau sama Kean, kamu harus tetap di rumah."


"Oh ... jadi kamu ngancem aku pake Kean."


"Kalo kamu mikirnya kayak gitu, aku gak masalah."


Krystal mendesis kesal, air matanya tumpah lebih deras. Ia menghalangi tubuh Kean dari jangkauan Kai, membuat anak lelakinya itu semakin ketakutan.


Sementara itu, kedua wanita tua yang ada di sana mulai panik. Mama Maria menarik tangan Kean dan memeluk cucuknya itu erat.


"Kalian udah dewasa, tolong selesain semuanya dengan kepala dingin. Kasian Kean, kalian tega ngebiarin dia harus ngelihat kedua orang tuanya berantem kayak gini?"


Lalu pandangan Krystal jatuh pada sang anak yang memeluk omanya dengan takut. Kean terus meraung, menangis karena takut melihat orang tuanya bertengkar. Sudut hatinya tergores lagi, ia sudah dibutakan oleh amarah hingga tidak bisa melihat bagaimana Kean meraung ketakutan seperti itu.


"Sayang ..." Krystal mendekat, tapi Kean semakin menyembunyikan wajahnya di pelukan mama Maria.


"Krystal, lebih baik kamu bicara baik-baik dulu sama Kai. Biar Kean kami yang jaga." Akhirnya Mama Morena angkat bicara setelah sejak tadi hanya terdiam.


Kai mengangguk, setuju dengan usul mamanya. "Tolong bawa Kean masuk kamar, mah." pinta Kai.


Mama Maria dan mama Morena lalu membawa anak laki-laki itu untuk menjauh dari kedua orang tuanya yang sama-sama sedang di liputi amarah. Tidak lupa dengan Naira—bayi mungil yang sejak tadi hanya begong di tempatnya tidak mengerti.


Setelah hanya tinggal mereka berdua yang ada di sana, Kai melangkah maju, bermaksud untuk mendekati Krystal, tapi sayangnya perempuan itu menolaknya.


"Jangan deket-deket, berhenti di situ dan ambil jarak jauh dari aku." perintah Krystal.


"Krys ...."


"Aku tetap mau pisah."


Kai menghela, meraup wajahnya dengan kasar. "Dengerin aku dulu, sayang."


"Demi Tuhan itu bukan maunya aku!"


"Bukan maunya kamu, tapi kamu nerima dipeluk sama dia!" Kepala Krystal menggeleng lemah. "Atau kamu pikir itu kesempatan? Mumpung aku gak tahu?"


"Aku dijebak Krystal! Tolong percaya sama aku."


"Apa pun alasan kamu ... entah dijebak, entah gak sengaja, atau memang niat awal kamu yang mau berhubungan sama cewek itu—"


"KRYS!" bentak Kai.


"Aku gak peduli! Yang jelas kamu udah bohong sama aku!" balas Krystal tak kalah tinggi.


Tak lama berselang, pintu rumah terbuka. Airin dan Rendi baru saja tiba setelah sejak tadi mengintrogasi perempuan yang bersama Kai.


"Kenapa nih?" tanya Airin yang pura-pura tidak mengerti. Jelas sekali kalau ia tahu apa yang sedang terjadi pada sepasang suami istri yang ada di depannya ini. Apa lagi dengan adanya dua koper besar di sana.


"Aku mau pisah, kak." jawab Krystal cepat.


Kening Airin mengerut. "Sama Kai?"


"Ya iya sama dia! Aku gak bisa terus diginiin."


"Dipikirin dulu coba." Airin beranjak menghampiri Krystal dan menyentuh pundaknya pelan.


Ia cukup mengerti apa yang Krystal rasa, kurang lebihnya karena mereka adalah sama-sama perempuan. Tentu melihat sang suami berada di atas satu ranjang dengan perempuan lain akan membuat hati kita memanas, ia memahami Krystal saat ini.


"Udah aku pikirin, pokoknya keputusan aku tetap mau pisah."


"Krys ..." wajah Kai sudah gusar, ia terlihat sangat berantakan sekali. Saat tubuhnya ingin maju mendekat, Krystal malah menarik dua koper itu keluar dari rumah. Kai menatapi kepergian sang istri dalam diam.


"Kasih waktu buat Krystal sebentar aja, biarin dia tinggal di rumah nyokap, nanti gue yang akan bujuk dia dan jelasin semuanya. Kalo lo jelasin sekarang, dia gak akan mau ngerti." jelas Airin.


Kai mengangguk bersama helaan napas frustrasi. "Gue bener-bener gak ngelakuin itu, Rin."


"Gue tahu."


Mata Kai melebar. "Lo tahu? Kok bisa?"


Rendi tiba-tiba menyela. "Gimana gak tahu kalo itu cewek dihajar habis-habisan sama dia."


Kai seketika berdecak geli. Tidak perlu melihat bagaimana Airin menghajar perempuan itu, Kai sudah bisa menebak itu semua dari track record Airin selama menjadi tunangannya.


"Gue hutang makasih sama kalian."


••••


terima kasih buat yang masih setia. jangan lupa poin dan koin nya ya buat yang punya. i love you ❤❤❤