
"Kak..."
"Ya Lara, aku mencintaimu sangat mencintaimu." Edgar mengurai pelukannya, menatap wajah Lara yang terlihat terkejut. "Aku baru menyadari jika selama ini ternyata aku mencintaimu. Mencintai wanita yang bernama Lara Collins." Ucapnya sembari mengecup bibir Lara dengan lembut.
"Kau mencintaiku, kak? Ini bukan mimpi kan?" tanya Lara dengan tak percaya meskipun Edgar sudah menyatakan perasaannya bahkan mengecup bibirnya.
"Ini bukan mimpi." Edgar kembali mengecup bibir Lara, namun kali ini kecupan itu berubah menjadi ******* yang begitu memabukkan.
Hingga keduanya mengakhiri ciuman panas itu karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat taman itu begitu sepi dan hanya ada mereka berdua.
"Tapi Kak hubungan ini tidak mungkin terjadi. Mom Miranda tidak akan pernah merestui kita, karena terlalu benci pada Nela."
"Aku akan berjuang Lara. Aku akan berjuang mendapatkan restu itu. Aku ingin kau menjadi istriku. Apa kau mau?"
Tanpa berpikir panjang Lara pun menganggukkan kepalanya. "Tentu aku mau kak. Cita-cita ku memang ingin menikah muda apalagi menikah denganmu."
Edgar pun kembali mengecup bibir Lara, membuat wanita itu bahagia. Namun kebahagiaan Lara bergantian dengan rasa kesal saat Edgar mentoyor kepalanya.
"Kak..."
"Berani sekali kau dekat-dekat dengan Gavi selama aku tidak ada!" Ucap Edgar dengan tatapan tajamnya.
"Ish.. kau ini kenapa kak? Kau cemburu?" gerutu Lara masih dengan kesal. Bagaimana tidak kesal kepalanya di toyor saat momen romantis mereka setelah satu tahun tidak bertemu.
"Masih bertanya, tentu saja aku cemburu." Edgar menarik kembali Lara kedalam pelukannya. "Mulai saat ini jaga jarak darinya, aku tidak ingin calon istriku dekat dengan pria mana pun." Ucap Edgar dengan tegas sembari mengecup kembali bibir Lara.
"Kak..." Lara mendorong dada bidang Edgar. "Jangan menciumku lagi!"
"Kenapa?" Edgar menautkan kedua alisnya dengan bingung, karena tiba-tiba saja Lara menolak ciumannya. Padahal ia sangat merindukan bibir Lara, dan rasanya tak puas hanya mencium beberapa kali saja.
Edgar sendiri langsung tertawa saat menyadari wanitanya itu ternyata tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti Lara Collins yang dulu, yang selalu berbicara apa adanya dan polos, meskipun sudah tak sepolos saat masih gadis dulu.
"Jangan mentertawakan ku kak, kau yang sudah membuat aku jadi seperti ini. Kau juga yang mengajariku *** pertama kali dan—" bibir Lara kembali dibungkam oleh Edgar dengan sebuah ciuman panas, membuatnya tak bisa berkata-kata lagi.
*
*
Sementara itu ditempat yang berbeda. Di sebuah rumah yang sangat sederhana sekali dan jauh dari kata mewah. Tampak Nelson tengah menatap Nela dengan intens, setelah mengutarakan maksud kedatangannya.
"Jadi Edgar ada di Jakarta?" tanya Nela dengan antusias dan bahagia. "Aku ingin bertemu dengannya Nelson, aku ingin menemui putra kesayangan ku." Lirihnya dengan menangis. Karena sudah satu tahun lamanya ia tidak berjumpa dengan Edgar.
"Nela fokuslah pada yang aku katakan tadi." Nelson menghela napasnya dengan kasar. "Aku kemari ingin mengajakmu bertemu Miranda untuk meminta maaf atas apa yang telah kau lakukan selama ini. Demi Edgar putramu."
"Aku akan melakukan apa pun demi putraku, Nelson. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku sudah meminta maaf pada Miranda selama ini, tapi dia tidak mau memaafkan aku Nelson." Ujar Nela dengan gelisah dan cemas.
Nelson yang mengetahui keadaan Nela yang mengalami depresi berat. Menenangkan wanita itu agar tidak cemas berlebihan. Dan usahanya berhasil, wanita itu kembali tenang.
"Kita coba lagi. Aku akan menemanimu menemui Miranda, kita sama-sama meminta maaf agar Miranda mau merestui hubungan Edgar dan Lara." Ucap Nelson.
Nela menganggukkan kepalanya. Dia sudah tidak peduli pada apapun lagi termasuk melepas harga dirinya untuk meminta maaf kembali pada Miranda. Pada wanita yang sangat dibencinya, karena wanita itulah ia tidak bisa mengambil hati Robert selama bertahun-tahun lamanya. Bagi Nela yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan Edgar, dan ia rela bersujud di kaki Miranda jika diperlukan demi kebahagiaan putranya.