Scandal

Scandal
Part 85


Ditengah ketakutan Nela karena bertemu kembali dengan Nelson. Robert justru tersenyum saat menyadari bisa saja ada kesalahan pada saat Edgar mengecek golongan darahnya waktu dulu, dan mengenai golongan da-rah mereka yang tidak sama karena mungkin Edgar mengikuti Nela atau percampuran yang terjadi diantara mereka, entahlah. Tapi yang pasti Edgar adalah putranya dan sekarang sedang membutuhkan transfusi darah, dan Nela ada disini jadi wanita itu bisa secepatnya memberikan untuk Edgar.


"Nela cepat kau—" Robert tidak jadi meneruskan perkataannya saat melihat seorang pria yang pernah berjumpa dengannya di hotel, menarik tangan Nela yang saat ini terduduk diatas lantai.


"Akhirnya aku menemukanmu, Nela." Nelson menatap tajam wanita yang selama ini dicarinya.


"Nelson lepaskan!" Bentak Nela dengan emosi.


"Aku tidak akan melepasmu sebelum kau katakan dimana anak itu?"


"Anak? Anak siapa?" Tanya Robert dengan jantung yang berdetak kencang. Ia takut yang tadi dipikirkannya menjadi kenyataan terlebih lagi melihat Nela yang seperti ketakutan.


"Katakan Nela?" Nelson tidak memperdulikan sekitarnya karena fokus pada Nela.


"Maaf Tuan-tuan kalian jangan ribut disini! Ini rumah sakit dan di dalam sana ada pasien yang sangat membutuhkan donor dar-ah secepatnya." Dokter mulai emosi karena keluarga pasien bukannya membantu justru membuat keributan.


"Dia yang akan mendonorkan darah karena dia ibunya." Robert menunjuk Nela.


"Ibunya? Jadi di dalam sana..." Nelson menatap kearah ruangan tertutup itu dengan terkejut. Jika benar yang di dalam sana anak Nela, maka itu adalah anak yang bertahun-tahun lamanya ia cari.


"Golongan darah Anda apa?" Tanya dokter tersebut, karena tadi saja yang mengaku ayah kandungnya tidak bisa menjadi pendonor karena golongan darah mereka beda.


"A-aku.. " Nela menatap Robert dengan ketakutan. Dia yakin seratus persen suaminya pasti sudah tahu golongan darah Edgar berbeda, itu sebabnya ia yang disuruh untuk mendonorkan.


"Coba periksa punya ku, kebetulan golongan darah kami sama."


"Baik, mari ikut kami." Nelson pergi bersama dokter tersebut.


Menyisakan Robert, Nela, dan Lily yang masih berdiri ditempatnya. Suasana diruangan tersebut pun kini begitu tegang karena Robert yang kini menatap Nela dengan tajam.


"Kau mengenal pria itu?" Tanya Robert dengan dingin. Karena melihat pria tadi bertanya tentang anak pada Nela.


"Dan kenapa golongan darah Edgar B? Padahal jelas-jelas dulu A?" Tanya Robert kembali dengan penuh amarah. Karena hasil yang berbeda itu menunjukkan bahwa ada yang dirubah atau dipalsukan, atau mungkin juga ada kesalahan. Itu sebabnya Robert bertanya.


"Aku.., aw." Nela memekik kesakitan saat lehernya dicengkeram dengan kuat oleh Robert, bahkan sampai tidak bisa bernapas dengan benar.


"Jangan bilang Edgar bukan anakku?"


Deg.


Lily yang dari tadi melihat dan mendengar percakapan Dad Robert dan Nela, menutup mulut dengan kedua tangannya karena terkejut.


"Edgar putramu Robert." Jawab Nela dengan serak dan tersendat, karena cekikan dilehernya.


"Kalau dia memang putraku, kenapa bisa ada kesalahan fatal seperti itu?" Bentak Robert karena tidak mungkin golongan darah seseorang bisa berubah dalam hitungan menit.


"Robert aku tidak bisa bernapas." Nela berusaha melepaskan cengkraman dilehernya.


Melihat wajah Nela yang memucat Lily segera berlari untuk membantu wanita itu, bukan karena kasihan pada Nela tapi karena dia tidak bisa membiarkan Dad Robert menjadi seorang pembunuh.


"Dad lepaskan dia!" Dengan penuh tenaga Lily mendorong Dad Robert, hingga akhirnya berhasil membebaskan Nela. "Kau bisa membunuhnya."


Robert tersadar saat melihat wajah Lily, kini air mata menetes dikedua pipinya hanya karena melihat wajah putri keduanya itu. Dan saat melihat wajah Nela, rasanya ia ingin sekali membunuh wanita itu jika tidak melihat kedatangan Julia dan tentunya Philip.


"Aku akan melakukan tes DNA ulang, dan jika benar Edgar bukan putraku." Robert mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Akan aku bunuh kau!" Bisiknya.


Deg.


Nela menggelengkan kepalanya dengan penuh ketakutan, kini ia tidak tahu harus berbuat apa. Karena yakin sebentar lagi kebohongannya akan terungkap, karena dia tidak bisa lagi berkelit terlebih ada Nelson yang siap kapan pun membongkar rahasianya.