Scandal

Scandal
U


haiiiiii ... mungkin ada yang baru baca cerita ini, dan tanya kenapa udah tamat kok masih ngegantung. sini aku kasih tahu, aku memperpanjang cerita ini karena iseng aja haha aku juga udah pernah bilang kan kalo jangan ditunggu, karena memang part part setelah tamat itu hanya ajang keisengan aku kok, konfliknya juga gak ada, sekali pun ada gak berat-berat banget, cuma akan menguji cinta kedua pasangan kita ini kekekeke


yowiss lah


happy reading yyyaaayy!!


****


Kai mengambil penerbangan pagi yang langsung menuju Jakarta. Kata-kata Rendi yang telah menghubunginya beberapa jam lalu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. Papa Ryan, ayah mertuanya baru saja meghembuskan napas terakhir. Sudah sejak semalam Rendi dan Krystal berusaha menghubunginya, tapi sialnya, Ia tidak sadar kalau ternyata ponselnya tidak berada di tangan sejak semalam.


Entah saat dimana ia kehilangan benda tersebut, kesibukan membuatnya lupa. Tapi Kai baru menyadari saat subuh berkumandang, dan ia terbangun di dalam kamar hendak menghubungi sang istri. Untung saja Dimas berhasil menemukan benda tersebut di ruang meeting.


Ya Tuhan, Krystal pasti sangat membutuhkannya saat ini. Kai menyesal harus terbang ke Makassar untuk mengurus pembangunan resort baru. Seandainya saja pihak Adyaksa tidak bertele-tele hingga memaksanya yang turun tangan langsung mengawasi pembangunan.


Keparaaattt!


Saat itu pukul sepuluh pagi, jenazah papa Ryan sudah di kebumikan dua puluh menit yang lalu. Rasa sesal terus menghampiri Kai, menjadi satu-satunya keluarga yang tahu perihal kabar duka ini. Dan yang lebih membuatnya menyesal adalah keterlambatannya di sisi Krystal.


Begitu ia pulang, dengan letih di sekujur tubuhnya, Krystal sama sekali tidak menatap ke arahnya. Perempuan itu hanya menangis, tapi tidak ingin memeluknya. Kai memahami kemarahan sang istri karena kehadirannya yang terlambat. Apa lagi, Krystal sudah menghubunginya berulang kali.


"Krys," ia menyapa sang istri yang berada di pelukan mama Rena, semua yang ada di sana sedang berkabung. Bukan hanya Krystal yang merasa kehilangan, mama Maria bahkan sudah tiga kali pingsan selepas mengetahui kepergian sang suami tercinta. "Maaf aku baru pulang."


Kalau saja bukan suara wanita di seberang sana yang ia dengar, mungkin sekarang Krystal akan memeluk tubuh sang suami, menyembunyikan tangisnya di pelukan itu, menyandarkan segala macam gundah pada dadanya. Tapi, masih kah Krystal bisa melakukannya? Saat suara wanita itu sampai saat ini masih terngiang-ngiang di telinga.


"Maafin aku, sayang," kata Kai lagi.


Mama Morena yang tadi sedang memeluk Krystal, melepas pelukan itu, mengusap bahu rapuh sang menantu dengan lembut sambil mengucapkan beberapa kata penguat. Lalu beralih pada Kai, meminta anaknya itu mengerti kondisi Krystal, dan mampu menguatkan hatinya.


"Sayang, aku di sini sekarang. Kamu bisa lepasin semuanya sama aku." Masih suara Kai yang menjadi satu-satunya pengisi keheningan di dalam kamar itu.


Krystal memejamkan matanya begitu tubuh Kai duduk di sampingnya, menggantikan posisi mama Morena. Ia berusaha bersikap dewasa, bukan saatnya mereka membahas masalah ini, meski sejujurnya Krystal ingin memaki, ingin menagih penjelasan. Siapa wanita itu?


"Aku cuma butuh tidur," Krystal menepis tangan Kai yang membelai bahunya, merebahkan diri dan menarik selimut dengan posisi memunggungi tubuh sang suami.


Kai sadar penolakan Krystal semata-mata karena kekecewaan akan dirinya yang terlambat datang di saat keluarga mereka tengah berkabung seperti ini. Kai bahkan tidak sempat melihat wajah terakhir dari lelaki yang menikahkan anak gadisnya pada dirinya lima tahun yang lalu.


Lelaki yang pernah ia kecewakan dua kali. Dan saat ini, ia benar-benar tidak sempat mengucapkan kata maaf padanya. Mungkin bukan hanya Krystal yang kecewa pada dirinya, ia pun merasakan kekecewaan itu.


"Sayang ... aku bener-bener minta maaf, hape ku hilang kemarin, dan baru ditemuin sama Dimas pagi ini."


Krystal ingin sekali mendesis, berbalik badan dan mencecar sang suami dengan kata-kata kasar, tapi ia menahan semua itu demi menghormati kepergian sang ayah.


Krystal hanya memejamkan matanya, mengertakan pegangan tangannya pada ujung selimut.


Omong kosong tentang ponsel Kai yang hilang, nyatanya semalam ada wanita lain yang mengangkat panggilan darinya.


"Aku minta kamu pergi, kak." Krystal berujar lirih dari balik selimut, membuat Kai lagi-lagi merasakan ada tendangan di sudut hatinya.


Pergi?


Apa Krystal sekecewa itu padanya?


"Krys—"


"Aku mau sendiri, jadi ... kamu pergi aja, aku mohon."


"Maaf," hanya itu yang bisa Kai bilang sebelum kemudian menuruti permintaan Krystal untuk pergi dari sana.


***


Seminggu berlalu semenjak kepergian papa Ryan dari dunia ini, dan selama itu juga Kai belum lagi mengurusi perihal pembangunan Resort di Makassar. Ada banyak ucapan duka yang datang dari rekan bisnisnya, ponsel Kai juga terus berdering, tapi yang membuatnya malas adalah panggilang dari Devia.


Perempuan itu seolah gencar sekali menghubungi Kai, seperti kekasih yang tiga kali dalam sehari harus mengetahui keadaannya. Kai jengah, tapi selama masa pembangunan Resort di Makassar, Kai harus terus mengangkat panggilan itu.


Di hari ke tujuh kepergian papa Ryan, wanita itu datang ke rumah Krystal, bermaksud untuk berbelasungkawa bersama keluarganya. Krystal belum menyadari kalau Devia adalah perempuan yang mengangkat ponsel Kai pada malam itu, malam dimana rasanya ia kehilangan dua lelaki hebat dalam hidupnya, hingga kemudian sang wanita yang mengakuinya.


"Aku yang malam itu mengangkat panggilan kamu, harusnya saat itu kamu gak perlu menutupnya, bilang saja sama aku untuk menyampaikan pesan itu pada Kai."


Sialan, dengan entengnya wanita durjanah itu berkata seperti itu. Ia pikir siapa dirinya bisa mengangkat ponsel orang seenaknya.


Ingat, sejak hari dimana Krystal hampir kehilangan anak keduanya, sejak saat itu juga, Krystal yang lugu, polos, dan penakut tidak lagi ada. Ia akan membuktikannya pada perempuan itu.


"Kai bilang sama saya, malam itu hapenya hilang. Dia tidak mengetahui apa pun, apa lagi perihal saya yang menghubunginya malam itu." Krystal menoleh, menarik sudut bibirnya untuk menyeringai. "Jadi kamu yang nyuri?"


Hening sesaat. Devia seperti tertohok mendengar penuturan Krystal. Wanita itu menutupi rasa malunya dengan tertawa.


"Jadi Kai bilang seperti itu?" ujarnya diiringi derai tawa lembut. "Mungkin dia gak mau kamu tahu."


"Saya kenal suami saya ... lelaki yang sedang kamu bahas ini suami saya, hidup bersama saya hampir enam tahun. Saya tahu ada kesalahan di sini." Krystal menekan setiap kalimat yang keluar, berusaha menanggapi kalimat Devia dengan wajah tenang dan santai, tapi tidak pada hatinya.


Percaya atau tidak, Krystal sempat terpancing dengan kalimat wanita itu. Tapi dia tidak akan mengalah, meski memang nantinya ia tahu kalau Kai dan wanita iblis itu ada hubungan, Krystal tidak akan mengalah.


Ia baru saja kehilangan satu lelaki hebat di hidupnya, dan tidak akan ia biarkan lelaki yabg tersisa juga meninggalkannya.


"Tentu ada kesalahan, mungkin di suatu tempat, saya dan lelaki yang sudah bersama kamu hampir enam tahun itu melakukannya." Devia berujar dengan senyum merekah di bibir merahnya, menampilkan deretan gigi putih itu.


Tangan Krystal mengepal, menarik napas dalam sembari mengelus perutnya yang membesar. Ia tidak boleh terpancing, tidak. Kai bukan lelaki seperti itu. Mungkin Kai lelaki seperti itu, tapi dulu, dulu sekali sebelum Krystal hadir di hidupnya.


"Lelaki mudah bosan, apa lagi untuk hidup bersama perempuan yang sudah tidak seindah dulu." Kelakar Devia menyindir tubuh Krystal. "Tadinya aku tidak ingin menyakiti, tapi sepertinya kamu tahu. Jadi, tidak perlu ada yang ditutupi, apa lagi kamu akan menerima madu seperti aku."


Ck, percaya diri sekali perempuan itu.


"Baiklah," Devia beranjak, tersenyum tipis ke arah Krystal. "Saya pamit." Lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Krystal hanya menatap uluran tangan itu tanpa minat. Mendecih, sesuatu yang jarang ia lakukan, kemudian melangkah begitu saja meninggalkan wanita ular itu. Sebelum benar-benar melewatinya, Krystal berhenti sejenak.


Tanpa menoleh ia berujar, "saya cuma pesan satu hal sama kamu, untuk menyiapkan hati kalau apa yang sudah kamu rencanakan tidak akan terjadi. Pastinya kamu akan merasa sangat sakit. Suami saya tidak akan sebodoh itu untuk meninggalkan batu permata, hanya untuk kerikil seperti kamu." sindirnya telak, lalu menghilang dari hadapan wanita itu.


Devia menggeram di tempatnya, mengepalkan tangan merasa kesal dengan balasan Krystal. Ia pikir, perempuan seperti Krystal akan menangis, akan mengalah dan pergi dari suaminya, tapi itu tidak ia dapati saat ini.


Sial! Dengan pandangan lurus menatap wajah Kai yang sedang sibuk menerima tamu, Devia bersumpah menginginkan lelaki itu di hidupnya.


****


Tadaaaaaa hahaha tenang genks ini gak akan kayak sinetron kok, sampe Z juga udah tamat. Diriku cuma mau merubah sifat jelek Krystal aja, sekarang dia akan semakin kuat seperti batu permata. Ahaayyy


Enjoyy yaayy