Scandal

Scandal
Y


haloooowwww balekk again ini lo akyuuu. hahaha udah Y nih, gak sabar mau ketemu Abang Kean pas udah dewasa cihuy


happy reading yaay, maaf kalo ada typo


****


Kai kira, setelah secara terang-terangan ia mengatakan tidak nyaman berdekatan dengan Devia, wanita itu akan menjauhinya. Tapi, semakin mendekati hari kelahiran anak kedua mereka, Devia semakin gencar menghubunginya. Dan lagi, Kai hanya bisa merahasiakan itu dari Krystal.


Ini adalah minggu-minggu dimana ia dan Krystal dengan cemas menunggu kelahiran anak mereka. Kai yang masih aktif bekerja meminta Krystal untuk sementara waktu tinggal di rumah mama Maria. Jadi, kalau perempuan itu merasakan tanda-tanda akan melahirkan, ia bisa dibantu oleh mama dan juga Airin.


Mereka berdua menghadapi kelahiran anak kedua ini cukup tenang, mengingat sebelumnya mereka sudah pernah melalui proses itu ketika kelahiran Kean ke dunia. Krystal jauh lebih rileks dibanding Kai, mungkin karena sejak awal Kai tahu kalau kandungan Krystal yang kedua sedikit rentan.


Siang itu, Krystal mengeluh sakit pada perutnya. Ia tahu maksud sakit ini adalah proses untuk bertemu dengan anak keduanya. Krystal masih duduk di sofa ruang tamu, ditemani dengan mama Maria dan Airin di kedua sisinya. Sejak tadi bi Ida sibuk membawa turun barang-barang Krystal yang sudah dipersiapkan seminggu sebelum tanggal kelahiran.


Mereka sedang menunggu mobil siap. Tadinya, Kai berencana ingin mengambil cuti lagi karena ia merasa Krystal akan melahirkan hari ini, dan ternyata feeling nya itu benar. Tapi na'as di saat ia sedang dikejar waktu untuk menemani Krystal lahiran, Kai malah mendapati kemacetan di sepanjang jalan.


"Kai udah dimana, kak?" tanya Krystal pada Airin yang sibuk memberikan kabar pada seluruh keluarga.


"Masih di jalan, dia kena macet."


"Yang bawa mobil Dimas, kan?"


Airin mengangguk. "Iya, Dimas ... gue gak ngizinin dia yang bawa, nanti malah berabe lagi."


Krystal tersnyum tipis di tengah-tengah menahan rasa sakitnya. Iya, dia juga tidak mengizinkan Kai membawa mobil dengan keadaan lelaki itu yang begitu cemas. Bahkan sejak tadi Kai tidak berhenti menghubunginya.


"Nih, dia nelepon lagi. Ya ampun, baru semenit yang lalu selesai ngomong." keluh Airin seraya menyerahkan ponselnya pada Krystal.


"Hallo."


"Sayang ... kamu kuat, kan?" pertanyaan yang sama semenjak pertama kali Kai menghubunginya.


Garis tipis itu lagi-lagi terlihat melengkung di bibir Krystal, seolah Kai bisa melihatnya saat ini. "Aku kuat kok. Aku kan udah pernah ngelahirin Kean, kamu tenang aja, ya. Hati-hati, aku mau kamu temenin aku lahiran."


"Iya, Dimas bawa mobilnya hati-hati kok." Lalu jeda sesaat. "Kamu udah mau berangkat ke rumah sakit?"


"Sebentar lagi, mang Udin lagi nyiapin mobil." balas Krystal.


Suara tarikan napas frustrasi terdengar sekali dari seberang sana. "Maafin aku ya, sayang. Harusnya aku gak masuk hari ini."


"Gak apa-apa kok, kan mama sama kak Airin nemenin aku sekarang." Krystal berusaha untuk menenangkan. "Lagi juga kita udah pernah ngelewatin ini, kan? Pasti untuk yang sekarang juga bisa."


"Iya ... aku tahu kamu pasti bisa."


"Akh!" Krystal mengerang tanpa sadar, membuat Kai yang mendengar itu langsung berujar panik.


"Sayang? Hey ... kenapa?"


Tangannya menyentuh perut bersama ponsel Airin yang jatuh ke atas sofa, dan ia sudah berhias peluh. "Sakit, kak." ringisnya lagi.


"Ya udah langsung ke rumah sakit aja."


"Sayang, Krystal ..." suara Kai yang panik dari sambungan telepon masih bisa ia dengar.


Airin langsung mengambil alih sambungan itu. "Gue langsung ke rumah sakit, Kai. Lo juga langsung ke sana aja ya." Dan sambungan itu terputus cepat.


***


Berulang kali Kai berbisik memberikan kalimat kalimat kekuatan, dan sesekali meringis saat Krystal juga meringis. "Anak aku mau dua dong, Krys." bisik Kai, masih sempat-sempatnya berkelakar di saat genting seperti ini.


Krystal terkekeh di sela-sela rasa sakitnya. "Kamu tuh!"


"Sean anaknya baru satu, Chandra baru berhasil hamiliin istrinya, terus aku udah mau dua. Di antara kita bertiga, berarti aku kan yang paling perkasa." kelakarnya lagi.


"Yah, ya ampun, kamu tuh masih aja, ya—akh!"


"Duh ..."


Seorang dokter perempuan masuk ke dalam. Memberi arahan pada Krystal. "Tarik napas ya, bunda. Lalu keluarin perlahan ... iya, seperti itu." Dokter Dewi tersenyum. "Jangan dipaksa kalau capek, berhenti dulu."


Krystal mengangguk.


"Ini anak kedua kan, ya? Jadi arahannya masih sama untuk yang pertama, jangan dipaksa mengejan kalau bayinya belum ngajakin, ya?"


Krystal kembali mengangguk. Percaya atau tidak, ia hanya mengikuti insting, mungkin semua ibu hamil melakukan itu ketika akan melahirkan. Ia kembali menarik napas panjang, membuangnya secara perlahan. Lalu ...


"Arghhh ...." dengan menggenggam tangan Kai, Krystal kembali meringis. Ia usap tonjolan perutnya yang membesar, bergumam kata-kata manis untuk calon buah hatinya yang segera lahir.


Melihat Krystal melakukan itu tangan Kai pun ikut terjulur ke sana. Mengusapnya pelan. "Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita ketemu. Ada abang Kean yang udah nungguin kamu. Ayah sama bunda juga gak sabar mau ketemu."


Krystal tersenyum, mengecup rahang Kai yang berada sangat dekat dengan wajahnya. "Makasih, ayah."


"Ayah yang harus bilang makasih sama bunda. Udah dua kali kamu ngerasain ini, nahan sakit demi ngelahirin anak kita."


"Apa pun demi mereka."


"Dan apa pun demi kalian." balas Kai.


Dokter Dewi kembali memberi intruksi. Membuat percakapan mereka berhenti sesaat. Kai masih terus memberikan semangat, kedua tangannya dicengkram erat oleh Krystal, namun Kai sama sekali tidak merasakan sakit. Ia tahu, ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang Krystal rasakan.


Antara menahan rasa sakit dan semangat untuk melahirkan buah hatinya yang kedua, Krystal mengerahkan seluruh sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Saat satu tarikan napas panjang kesekian, saat ia berteriak kencang, saat ia mendorong keluar, saat itu mereka semua yang berada di dalam ruangan bisa mendengar dengan langsung suara tangis bayi.


Ucap syukur pun Kai panjatkan bersama kecupan bertubi-tubi yang ia berikan untuk Krystal. "Makasih, sayang. Makasih."


Krystal menangis, tersenyum seraya menyentuh wajah Kai yang berada di depan wajahnya. "Selamat ya, ayah perkasa yang udah punya dua bayi."


Lalu mereka terkekeh, terisak bahagia dengan kedatangan anggota baru di dalam keluarga mereka. "Jadi, siapa namanya?"


"Kalandra Wira Atmadja ... anak laki-laki periang di dalam keluarga kita."


Seraya meringis, Krystal tersenyum senang. "Kamu ganti nama gak bilang-bilang, kemarin kan bukan ini."


Memang benar, selama sebulan mereka berebutan memberi nama, namun tidak ada satu pun yang cocok. Saking terlalu pusing memikirkan nama anak kedua mereka, Krystal sampai malas membahasnya dengan Kai. Tapi, nama yang baru saja Kai berikan, Krystal sangat menyukainya.


Semoga saja sesuai dengan namanya, Kalandra akan menjadi pembawa keceriaan untuk mereka.


****


Eh? Kok berada ending ya?? Haha masih ada satu part lagi nih sebelum abang Kean dewasa uhuyy


Maachi yaa genks buat semangat dan dukungannya. I love yuuuu