Scandal

Scandal
X


haiii .. ciyeee, udah X nih makin deket aja kita mendekati akhir kisah cinta ayah Kai sama bunda Krystal. uhukkk


happy reading yayyy


****


Semenjak malam itu, malam dimana Kai baru mengetahui kalau sang istri—Krystal sering memposting foto-foto kebersamaan mereka di media sosialnya, ia meminta Krystal untuk menonaktifkan akun tersebut, dan jangan mengupload foto apa pun di sosial media mana pun.


Bukan karena Kai tidak suka, bukan juga karena Kai tidak ingin wanita-wanita di luar sana tahu kalau ia sudah menikah dan memiliki seorang anak. Hanya saja, Kai sangat memikirkan kesehatan Krystal. Ia tahu perempuan itu melakukan hal seperti itu semata-mata untuk memanas-manasi Devia.


Iya, klien perempuan yang saat ini sedang bekerja sama dengan perusahaan mereka untuk pembangunan resort di Makassar.


Kai bukan lelaki bodoh yang pura-pura tidak tahu kalau Devia memiliki ketertarikan padanya. Ia cukup peka dengan itu. Jangan lupakan track record nya yang pernah menjadi cassanova di kalangan banyak wanita. Kai cukup sadar, tapi ia menghargai Devia sebatas rekan kerjanya saja, tidak lebih.


Semua pesan yang Devia kirim padanya, ucapan selamat malam, dan ajakan makan bersama, Kai merahasiakan dari Krystal karena tidak ingin istrinya itu terlalu banyak berpikir, apa lagi sampai cemburu dan menganggap kalau Kai sedang berselingkuh.


Jujur saja, kehamilan kedua Krystal ini lebih rentan. Sekali saja Krystal memikirkan hal yang tidak-tidak, pasti akan berdampak pada kesehatan bayi dan ibunya. Lalu, secara mengejutkan Krystal malah melemparkan bola api pada Devia, yang tentu saja ditanggapi balik oleh wanita itu.


Kai hanya tidak ingin Krystal terbakar oleh permainannya sendiri. Meski sang istri selalu mengatakan tidak apa-apa, tapi Kai tahu kalau setiap mereka berjauhan, pikiran buruk akan bersarang di kepala Krystal, tidak jarang ia akan meminta video call hanya untuk mengetahui dengan siapa saja Kai berada saat itu.


"Aku udah sampe di bandara, kamu lagi apa?"


Saat itu waktu menunjukan pukul delapan malam, seminggu sudah Kai berada di Makassar dan saat ini ia akan pulang ke rumah demi melepas rindu bersama anak dan istrinya.


"Aku lagi tidurin Kean." jawab Krystal pelan, tidak ingin Kean terbangun lagi karena mendengar suaranya.


Kai sudah bisa menebak bagaimana posisi Krystal saat ini, pasti istrinya itu sedang berbaring di ranjang Kean seraya menepuk-nepuk lembut bokong sang anak yang sebentar lagi akan terlelap masuk ke dalam alam mimpinya.


"Yah ... udah tidur ya? Aku kangen banget padahal, mau main sama dia." keluh Kai seraya melirik jarum jam di tangannya.


Kai sendiri saat ini sedang menunggu Dimas untuk mengambil mobil kantor yang akan membawa mereka ke rumah. Pembangunan pertama berhasil, dan perizinan pun berjalan lancar. Setelahnya Kai mengambil cuti seminggu untuk menghabiskan waktu bersama Kean dan Krystal.


"Ya udah, mainnya sama bunda Kean aja, gimana?" seruan menggoda dari sana tentu ditanggapi serius oleh Kai.


"Asikkk ... malam ini aku dapat jatah ya, bun."


"Tapi kan ayah mau mainnya sama Kean."


"Sama bundanya Kean lebih seru kayaknya."


Lalu keduanya saling melempar tawa dari sambungan itu, hingga kemudian ....


"Kai." Sebuah suara lembut dari balik punggungnya membuat Kai menoleh, dan secara otomatis Krystal yang masih tersambung pada saluran telepon dapat mendengar itu. "Aku boleh ikut mobil kamu, gak?"


"Memang asisten kamu kemana?" Demi apa pun, Kai sudah muak sekali berada di sebelah wanita ini. Kalau bukan karena pekerjaan dan ayahnya yang sudah berteman baik dengan papa Kevin, Kai mana sudi bertingkah lembut dengannya.


"Asisten aku orang tuanya masuk rumah sakit, jadi dia harus buru-buru ke sana."


"Terus mobil kamu?"


"Aku minta dia bawa mobil kantor untuk mempermudah dia sampai di sana." Devia mendekat, menyentuh lengan Kai dengan gerakan menggoda. "Kamu ... gak keberatan kan anterin aku ke apartemen?"


"Devia, ya? Ngapain sih dia?"


Kai bisa mendengar suara Krystal yang berdengung dari speaker ponsel.


"Sebentar, aku lagi telepon Krystal." Kai lalu beranjak agak menjauh dari wanita itu untuk melanjutkan panggilannya bersama sang istri. "Bunda..."


"Kamu mau anter dia?"


"Devia gak ada kendaraan lain."


"Oh ya Tuhan, Kai!!!" jerit Krystal frustrasi di seberang sana, dan Kai tahu kalau perempuan itu sudah tidak berada di dalam kamar Kean lagi saat ini. Dan apa? Krystal memanggil namanya tanpa embel-embel 'kak' atau 'ayah'. "Kamu masih sadar kan, Kai, kalo saat ini dia lagi mencoba untuk godaain kamu."


"Bunda ... tadi bunda sadar gak sih manggil ayah apa?" Tidak ada bentakan atau nada tidak suka, Kai malah terdengar geli mendengar Krystal memanggilnya seperti itu.


"Kita gak lagi bahas itu ya!"


"Iya aku tahu."


"Terus ... kamu mau anterin dia gitu? Ke apartemennya, lalu ngapain lagi, selimutan??"


Kai terkekeh geli tanpa bisa langsung menyahuti Krystal. Ah, menggemaskan sekali istrinya itu.


"Bun, ayah gak bodoh ya, sampe harus mau nganter dia gitu."


"Nah terus?"


"Nanti ayah minta Dimas anter Devia, terus ayah pulang naik taksi."


"Kenapa gak dia aja yang naik taksi, nyusahin kamu tau gak!"


"Bunda, jangan marah-marah, inget dede bayinya bisa denger kamu."


Lalu Kai bisa mendengar kalimat istigfar keluar dari bibir sang istri di seberang sana. "Ish! Gara-gara tuh wanita ulekan nih."


"Udah, bun, udah ... aku biarin Devia diantar sama Dimas karena aku masih sadar, bun, dia itu perempuan, dan ini udah malam. Mama aku sama kamu itu kan perempuan, jadi aku gak mau jahat sama kaum kalian yang udah melahirkan aku sama anak-anak aku."


Ugh ... manisnya.


Tapi tetap saja Krystal tidak suka.


"Oke, aku biarin kamu jadi baik. Tapi baik sama dia-nya kali ini aja ya? Gak usah berlebihan, dia juga gak tahu malu gitu."


Dan Kai terkekeh lagi. Istrinya itu memang lucu dan menggemaskan, kalau saja saat ini Krystal ada di depannya, sudah pasti Kai akan menggigit bibir perempuan itu.


Ahh ... kadi tidak sabar sampai di rumah.


"Ya udah ya, bun, ayah pulang dulu. Tungguin di rumah. Jangan lupa pake baju yang seksi."


"Ih ... ayah genit!"


Lalu panggilan itu terputus. Kai memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana sebelum kemudian melangkah menuju Devia. Beruntung saat itu Dimas sudah datang dan memasukan barang-barangnya ke dalam mobil.


"Dim."


"Iya, pak?"


"Kamu nanti anterin ibu Devia pulang dulu, ya." perintah Kai pada Dimas, dan saat itu juga Devia tersenyum-senyum kesenangan.


"Oh, baik, pak."


"Saya biar naik taksi aja."


"Loh," kedua bola mata Devia membulat. Ia mendekat dan menyentuh lengan Kai lagi. "Kenapa kamu naik taksi?"


"Ya kan Dimas anter kamu."


"Kita bisa barengan, Kai?"


Kai menggeleng seraya melepas tangan Devia yang berada di lengannya. "Dev, maaf sebelumnya. Saya merasa terganggu dengan sikap kamu. Saya lelaki yang sudah beristri, harusnya kamu bisa jaga jarak dengan saya. istri saya bisa saja cemburu kalau tahu saya mengantar kamu."


"Jadi ini karena istri kamu cemburu? Ck," Devia berdecih dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Kekanak kanakan banget sih?"


"Bukan karena dia cemburu, tapi karena saya ingin menjaga perasaannya. Dan saya tidak ingin membuatnya terluka."


"Kai—"


"Maaf, Devia. Kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, kita bisa menyelesaikannya di kantor saya. Istri dan anak saya saat ini sedang menunggu saya di rumah. Dan saya sangat menyayangi mereka."


Kai menutup percakapan itu dengan menghentikan sebuah taksi, dan masuk ke dalamnya setelah meminta Dimas membawakan barang-barangnya ke rumah setelah ia selesai mengantar Devia.


Diam-diam Kai tersenyum sambil memandangi foto Krystal dan Kean di ponselnya.


"Bunda, kalo kamu denger kalimat aku yang tadi, pasti kamu gak akan nyangka kalo kalimat itu bisa keluar dari bibir seorang Kaisar Wira Atmadja, si mantan cassanova nomor satu di black devil." kekeh Kai pelan.


****


kalian nyangka gak Kai bisa ngomong kayak gitu? hahaha terkadang dia ada otaknya juga yaaa, enaknya Devia kita kasih pelajaran apa ya?


hihi


gak sabar nunggu Kean gede akutuh, ada yang sama gak???