Scandal

Scandal
Scandal: Siapa Dia?


Raline mencium setiap sudut bibir pria tersebut, Raline mengira itu adalah suaminya Daniel. Ia mengiring pria tersebut ke atas ranjang dan berbaring di sana, Raline masih menciumnya begitupula pria tersebut, siapa yang akan menolak wanita cantik seperti Raline. Pria tersebut beralih mencium bagian leher Raline, kemudian telinga salah satu bagian sensitif wanita. Raline mendesah pelan, jemarinya tak henti meremas rambut pria yang kini tengah berada di atas tubuhnya.


“Ah, aku menginginkannya. ” Gunam Raline, di sela-sela desahannya.


Pria itu menghentikan aktivitasnya menciumi cuping Raline, Ia menatap wajah Raline yang tengah terpejam dan wajahnya yang memerah dengan nafas yang terengah menahan gairah yang menggebu di dalam hatinya.


“Kau sungguh menginginkannya? ” tanya pria tersebut, Raline mengangguk pelan.


Mendapat lampu hijau dari wanita yang kini berada di bawahnya, dengan sigap pria itupun melepas seluruh pakaian Raline hingga Ia kini terlihat polos tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya. Pria itu tertegun, selain wajahnya yang sangat cantik ternyata Raline mempunyai tubuh yang sintal. Pria mana pun akan tergiur ketika melihat ini.


Mereka di selimuti kabut gairah yang begitu pekat, nafas yang saling beradu saut seakan menandakan bahwa mereka sudah tak bisa lagi menahannya. Pria itu mengangkat kedua kaki Raline, hendak menerjang bagian yang paling sensitif pada tubuh wanita.


“Pelan, Daniel. ” Desah Raline ketika sudah setengah perjalanan masuk ke dalam surganya, Pria itu tercengang. Ia langsung menarik kembali miliknya dan melangkah menuju kamar mandi.


Raline kecewa, Ia tahu hal ini pasti akan terjadi. Raline membuka matanya perlahan dan menyelimuti dirinya, Ia menangis di setengah kesadaranya. Raline sangat mencintai Daniel, Ia menginginkannya. Namun, hanya penolakan yang selalu di dapatnya.


Di dalam kamar mandi, pria itu menyalakan shower. Berada di bawah guyuran air dingin dan mencoba menenangkan pikirannya yang kacau karena hal yang tertunda itu. Ia tersenyum simpul ketika mengingat wanita yang akan bercinta dengannya malah menyebutkan nama laki-laki lain. Sebuah penghinaan yang besar untuknya.


Beberapa menit setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, Ia berjalan ke arah ranjang dimana Raline tengah tertidur pulas. Ia menatap wajah Raline yang memerah dan wajahnya yang masih basah oleh linangan air mata. Pria itu sangat menyayangkan, wanita sesempurna dirinya harus mengejar cinta seorang pria yang tidak pernah peduli dengannya.


Setelah menatap wajah Raline cukup lama, pria itu beranjak pergi dan menutup pintunya membiarkan Raline beristrirahat dengan tenang di dalam kamar. Ia menanyakan kepada salah seorang pelayan dimana Daniel berada, pelayan tersebut memberitahunya dan pria tersebut langsung pergi kesana guna menemuinya.


Pintu ruangan terbuka, tiba-tiba suasana hati Daniel bergejolak. Seakan Ia tahu siapa yang datang ke dalam ruangannya larut malam seperti ini.


“Untuk apa kau datang kemari! ” tegasnya, kedua tanganya menggebrak keras atas meja dan Ia langsung beranjak berdiri dengan amarah di wajahnya menatap tajam ke arah seseorang yang telah datang ke dalam ruangannya.


Tiba-tiba amarahnya memudar seketika setelah Ia melihat yang datang bukan orang yang selama ini dia benci, melainkan yang datang tak lain adalah seorang pria yang paling di hormatinya.


“Kau, aku kira ... ”


“Raline, wanita malang itu? ” sahutnya menyela perkataan Daniel. Daniel terdiam, Ia beranjak melangkah ke arah sofa yang masih berada di dalam ruanganya.


“Sejak kapan kau datang, Paman? ” tanyanya Daniel sembari terus menuangkan beer ke dalam gelasnya kemudian menenggaknya tanpa henti.


“Baru saja, ” Jawabnya singkat sembari menyulut roko dan menghisapnya.


Sinar mentari menyeruak masuk dari luar jendela, terasa hangat namun sedikit menyilaukan. Raline membuka matanya perlahan, terasa sangat berat, matanya sembab karena terlalu banyak menangis semalam. Raline beranjak dari tidurnya, Ia terduduk pada pinggiran ranjang. Setengah sadar dan matanya yang masih setengah menutup, Raline merasa ada yang janggal atas dirinya. Raline menatap tubuhnya yang polos tanpa sehelai kainpun, Ia terbelalak. Raline berpikir, apa yang telah di lakukanya semalam sehingga dirinya tertidur tidak menggenakan pakaiannya.


Raline mencoba mengingat kejadian semalam, yang Ia ingat adalah semalam Ia menangis karena ucapan Daniel yang tak pernah menganggapnya. Kemudian Raline berlari menuju bar dan berdiam diri sembari meminum sebotol wine di sana. Karena terlalu mabuk, Raline tidak ingat mengapa dirinya bisa berada di dalam kamar dan tertidur dengan tidak mengenakan pakaiannya.


Raline berlari kecil ke dalam kamar mandi, Ia menatap dirinya di cermin. Raline terbelalak dan menatap heran pada area dadanya yang terdapat tanda merah di sana, antara bingung dan senang memikirkannya, apakah semua ini adalah perbuatan Daniel? Raline menepuk pipinya pelan, Ia mencoba mengingat kejadian semalam. Raline menyesali kenapa dirinya harus mabuk dan tidak dapat merasakan sentuhan Daniel pada tubuhnya.


Raline menyalakan shower dan mandi menggunakan air dingin guna membersihkan tubuhnya, Raline ingin segera pergi ke dapur dan memasak sarapan untuk Daniel. Raline merasa sangat senang, tak henti-hentinya Ia tersenyum lebar mengetahui Daniel sudah bersedia menyentuhnya. Tapi, raut wajahnya berubah seketika Ia teringat akan suatu hal yang bisa memastikan telah terjadi sesuatu antara dirinya dengan Daniel.


Raline segera menyudahi acara mandinya, Ia meraih handuk kemudian membalutkan pada tubuhnya yang basah. Raline berlari kecil menuju ranjang, Ia meneliti seluruh bagian ranjang bahkan selimut. Raline mencari bercak darah keperawanannya, bercak darah itu seharusnya ada jika semalam Ia telah melakukannya dengan Daniel. Namun apa daya, Ia tidak menemukan apapun di sana. Raline tampak kecewa, namun Ia sedikit senang karena Daniel sudah bersedia menyentuh sedikit demi sedikit tubuhnya.


“Daniel, aku mencintaimu. Aku tahu, suatu hari nanti kau juga akan mencintaiku. ” Gunamnya sembari tersenyum tipis.


Raline segera mencari pakaiannya dan langsung Ia kenakan, Raline bercermin dan berdandan secantik mungkin agar Daniel tidak kecewa akan penampilannya. Setelah selesai, Raline langsung ke luar kamar dan menuju ke dapur. Di dapur Raline terkejut melihat Daniel tengah memakan sarapannya bersama seorang pria asing.


“Pagi, Daniel. ” Sapa Raline lalu duduk di kursi sebelah Daniel, Daniel tampak risih dengan kedatanganya. Raline senang, Ia terus menatap Daniel dengan penuh cinta. Mengingat jika Daniel sudah bersedia menyentuhnya dan itu akan terus berlanjut ke depannya. Raline melirik pria asing itu, Ia menatapnya heran.


“Daniel, siapa dia? ” tanya Raline, menatap Daniel kemudian menatap pria itu kembali.


“Dia Kendrick, pamanku. ” Jawabnya singkat dengan nadanya yang dingin. Raline tidak suka, Kendrick menatapnya dengan tatapan tajam. Itu membuat Raline tidak nyaman.


“Nona, Raline. Ini pertemuan kita yang kedua. Namun, aku belum sempat memperkenalkan diriku. Perkenalkan, Kendrick. ” Ujarnya sembari mengurkan tanganya ke arah Raline.


“Kedua? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? ”


Bersambung...