
Waktu telah menunjukan pukul 20:30 WIB, Raline tengah berada si depan cermin di dalam kamarnya. Raline tersenyum menatap dirinya sendiri, malam ini Ia berdandan dengan sangat cantik. Ia memoleskan make up tipis pada wajahnya, gaun tidur nan sexy yang kini tengah membalut tubuhnya.
Malam ini adalah malam pernikahannya yang ke satu tahun, Raline ingin memberi kejutan kepada sang suami tercinta dengan menyerahkan dirinya suutuhnya kepada suaminya. Jujur, sudah setahun menikah tapi Raline tidak pernah mendapatkan perhatian atau sentuhan dari suaminya. Hubungan antara suami istri sama sekali belum pernah terjadi di antara mereka.
Tiba-tiba pikiran Raline menjadi liar, Ia sangat menginginkan sentuhan demi sentuhan halus pada tubuhnya. Ia membayangkan tangan suaminya yang sedikit demi sedikit menjamah tubuhnya. Raline haus akan kasih sayang dan perhatian, Ia menginginkannya malam ini, di malam satu tahun pernikahannya.
Raline beranjak dari duduknya, Ia menatap tubuhnya yang terlihat sexi dengan balutan gaun tidur ini. Raline membayangkan suaminya mencium lembut bibirnya dan jemarinya yang bergerlya liar pada setiap inci bagian sensitifnya. Raline terus membayangkannya, lenganya perlahan menyentuh squishi lembut miliknya, dengan membayangkan Ia tengah mendapat sentuhan dari sang suami. Terasa sangat sensitif, tubuhnya bergetar hebat, Raline mendesah pelan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari lantai bawah membuyarkan semua khayalan liarnya, ya karna kamarnya berada pada lantai dua. Raline yakin itu adalah suaminya, Raline segera merapihkan dirinya kembali dan duduk manis di atas ranjang menunggu suaminya masuk ke dalam kamar.
Jantungnya berdegup kencang, pasalnya sebelumnya Raline pernah melakukan hal seperti ini. Namun suaminya sama sekali tidak peduli, jangankan menyentuhnya memperhatikan saja tidak. Tapi, sekarang sudah satu tahun pernikahan mereka, Raline harap suaminya itu berubah dan dapat sedikit mencintainya. Raline sungguh mengharapkan semua itu.
Pintu kamar terbuka, suaminya telah pulang. Raline beranjak dari duduknya, sebisa mungkin mengatur nafasnya. Raline mendekat ke arah suaminya dan memeluknya hangat, Ia juga mencium pipi sang suami. Suaminya langsung melepaskan itu seolah Ia jijik terhadap tingkah Raline. Ia menatap Raline tajam dari atas sampai bawah, kemudian menatap wajahnya dengan tajam.
“Kenapa kau berpakian seperti itu? ” ketusnya menatap tajam Raline, Raline tersenyum.
“Selamat hari jadi pernikahan kita yang ke satu tahun, aku mempersiapkannya untukmu. Kal aku menginginkannya darimu. ” Ucap Raline dengan wajah berharap, berharap suaminya bisa mewujudkan mimpinya itu.
Pria itu berjalan menjauh, menyingkirkan Raline dari hadapannya. Ia berdiri di depan cermin dan mulai melepaskan jas dan arloji yang sepanjang hari terpasang pada pergelangan tangannya. Raline menatapnya, pria yang berada di hadapannya ini adaha pria yang selalu berada di dalam pikirannya. Raline berharap malam ini Ia bisa mendapatkannya, menjadi seorang istri sempurna yang telah menyatu dengan suaminya.
Raline berjalan mendekatinya, memeluknya dari belakang, “Daniel, aku ingin menjadi istrimu seutuhnya. Daniel aku menginginkannya, aku ingin menjadi seorang istri yang sempurna. ” Ujarnya manja, sembari melingkarkan tangannya pada tubuh kekar Daniel.
Daniel melepaskan pelukan Raline pada tubuhnya, Ia berbalik kemudian mencengkram wajah Raline dengan kasar.
“Kau menginginkannya? Kau bisa melakukannya bersama pria lain! Jangan berharap lebih dariku! ” tegasnya dengan nada bergetar, mencengkram kuat wajah Raline. Raline meronta, Daniel sungguh telah menyakitinya.
Daniel menghempaskan wajah Raline dengan kasar, Ia pun berlalu pergi keluar kamar. Raline mengejarnya, dan menarik lengannya. Menahan kepergian Daniel.
“Daniel, aku istrimu! Sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini, kita sudah setahun menikah tapi kau bahkan tidak pernah menyentuhku sedikitpun! ” teriaknya dengan tangisan yang terisak.
Daniel pergi menjauh, Ia memasuki ruang bacanya dan mengunci diri di sana seperti biasanya ketika Ia menghindari Raline.
Raline berdiri memaku, air matanya tak dapat Ia bendung lagi menetes tanpa Ia kehendaki membasahi wajah cantiknya. Raline berlari menjauh, menuruni tangga yang menjadi penghubung kamarnya. Raline masih menggunakan gaun tidurnya yang sexy. Ia berlari kecil menuju mini bar di lantai satu yang berada tepat di depan pintu masuk mansion.
Raline meraih sebotol wine, kemudian membukannya. Sangat susah, Raline prustasi Ia membantingkan satu botol wine itu ke atas lantai dengan kasar. Satu botol itu pecah, wine berceceran di seluruh lantai. Raline meraih kembali satu botol wine, kali ini Ia membukanya dengan benar. Raline meneguknya tanpa menggunakan gelas, Ia meminum wine tersebut langsung dari botolnya. Setengah botol wine itu telah masuk ke dalam rongga mulutnya, tak lama Raline menjadi mabuk dan tak terkendali. Raline tertunduk di atas meja, pikirannya kacau sangat kacau mendapat perlakuan seperti itu dari Daniel suaminya.
Suara pintu mansion terbuka menggema ke seluruh ruangan, Raline yang tengah mabuk parah itu tidak memperdulikannya walaupun Ia masih tersadar. Dua orang pria masuk ke dalam mansion, mereka menatap heran ke arah wanita yang kini tengah tertunduk di atas meja dan masih menggunakan gaun tidurnya yang sexy.
“Siapa dia? ” tanyanya
“Nona Raline, Tuan. Istri Tuan muda Daniel. ” Jawab seorang pria yang datang bersamanya, Pria itu hanya mengangguk.
“Dimana Daniel? Kenapa Ia tidak mengurus istrinya? ” tanyanya dingin, pelayan itu hanya terdiam tertunduk, “Dia belum bisa melupakan wanita itu? ”
Pria itu berjalan mendekat ke arah Raline yang tengah tertunduk di atas meja, Raline terlalu mabuk untuk membuka matanya walaupun Ia tahu ada seseorang yang tengah berbicara. Pria itu menyapu rambut yang menutupi wajah Raline, Ia menatapnya tajam kemudian tersenyum miring. Pria tersebut meminta pelayan itu untuk pergi, dan pelayan itu menurutinya dan langsung berlalu pergi.
Pria tersebut menggendong tubuh Raline dan di bawanya masuk ke dalam kamar, sepanjang perjalanan ke kamar Raline tak henti-hentinya terus mengoceh sambil lengannya sesekali meraba bagian dada pria tersebut.
“Aku menginginkannya, sentuh aku! ”
“Malam ini, aku menginginkannya. Aku mohon. ” Gunam Raline sembari wajahnya mendekat kepada wajah lelaki yang kini tengah menggendongnya.
Pria itu membawa Raline ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Ia menatap Raline dengan seksama. Pandanganya menyisir setiap inci bagian tubuh Raline. Tubuhnya sangat sexy dengan kulit putih mulusnya, Ia tertegun. Lelaki bodoh mana yang akan menyia-nyiakan wanita secantik dirinya.
Tak lama, Raline bangun dan beranjak mendekati pria tersebut. Raline mendekatkan wajahnya dan meraih bibir pria tersebut. Pria itu tersentak dengan apa yang tengah di lakukan wanita di hadapannya. Raline mencium habis setiap bibir pria itu, gairahnya begitu menggebu. Raline sangat mengharapkan belaian hangat seorang pria akan dirinya.
Bersambung...