
Melihat pemandangan ibu dan anak tersebut, tentu saja membuat Miranda muak.
"Ck, kalau kalian ingin membuat drama bukan disini tempatnya. Sekarang keluar dari rumahku!" Miranda mengusir Nela dan Edgar dengan mendorong kedua orang itu dengan kasar. "Keluar!"
"Miranda!" Nelson mencoba menahan wanita itu yang tengah mengusir Nela dan Edgar. Sungguh ia tidak tahu kejadiannya akan sekacau ini. Kalau saja Edgar mau mendengarkannya untuk membiarkan ia datang lebih dulu bersama Nela, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Setidaknya Miranda tidak akan terlalu emosi jika yang datang hanya ia dan Nela.
"Ck, kau juga keluar Nelson!" Miranda pun mengusir Nelson.
.
"Tenang Miranda, tenang!" Nelson menjauhkan wanita itu dari Nela dan Edgar. Namun ternyata amarah Miranda telah membuat wanita itu menjadi lebih kuat hingga mendorong Edgar dan Nela. Dan naasnya Nela, kepala wanita itu sampai terantuk pintu dengan cukup keras.
Miranda yang tersadar dengan perbuatannya, langsung terdiam. Sungguh ia tidak bermaksud melukai Nela, karena yang diinginkannya hanya kedua orang itu keluar dari rumahnya.
"Nyonya Miranda Anda sungguh kelewatan!" Bentak Edgar tanpa sadar.
Membuat Miranda terkejut, begitu pun dengan Nelson.
"Apa Anda belum puas melihat Mom Nela bersujud? Apa aku juga harus—"
"Cukup kak!" Lara keluar dari tempat persembunyiannya karena tidak terima Edgar membentak Mom Miranda.
"Lara..." lirih Edgar yang baru tersadar akan perbuatannya yang tak bisa menahan emosi. "Aku tidak bermaksud —"
"Keluar kalian dari rumah kami!" Lara memanggil pelayan untuk mengusir ketiga orang tersebut, tanpa mau mendengar penjelasan Edgar.
"Lara..." Edgar hendak memegang tangan wanitanya, namun dihempaskan begitu saja oleh Lara.
Nelson yang merasa situasinya sudah tidak kondusif, memaksa Edgar dan Nela untuk keluar dari rumah Miranda. Ia merasa jika diteruskan tidak akan membuahkan hasil yang baik, karena semua orang tengah emosi. Terlebih tadi baik Edgar maupun Lara sama-sama membela kedua ibu mereka masing-masing sehingga bukannya membuat situasi damai malah menimbulkan konflik baru.
"Paman aku harus bicara dengan Lara, dia sudah salah paham. Aku juga belum sempat meminta Lara pada Miranda."
"Ed, sekarang bukan waktu yang tepat. Lebih baik kita pulang dan besok aku akan bicara empat mata dengan Miranda."
Edgar pun mau tidak mau menurut dengan perkataan Nelson, ia membawa Mom Nela masuk kedalam mobil karena banyak yang harus dibicarakan keduanya.
Nelson yang masih berdiri di depan rumah Miranda, menatap sosok yang sejak tadi bersembunyi di samping pintu. Sosok itu tidak lain putri kedua Miranda.
"Besok aku akan kembali kesini."
Lily pun menjawab dengan anggukan kepala.
Sementara itu di dalam ruangan. Setelah melihat Nelson, Edgar, dan Nela keluar dari rumah. Lara bergegas masuk menuju kamar pribadinya tanpa memperdulikan Mom Miranda yang masih berdiri di ruangan tersebut seorang diri.
Ya, Miranda yang masih terkejut dengan kejadian yang begitu cepat di depan matanya. Kini hanya bisa menatap nanar pada punggung Lara yang menghilang di balik dinding. Ia tahu putrinya tadi sempat menitikkan air mata dan terlihat terluka saat membelanya tadi.
"Bagaimana Mom, apa kau sudah puas meluapkan semua kemarahanmu?" Lily berkata sembari berjalan mendekat pada Mom Miranda. "Apa yang membuat Mom keras hati seperti ini? Nela sudah bersujud didepan kaki Mommy, Edgar bahkan menahan diri saat melihat Ibu nya dihina seperti tadi. Dan Lara, dia membela Mommy walaupun harus melawan orang tercintanya."
"Diam Lily!" Bentak Miranda, yang memilih masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan diri.