Scandal

Scandal
Part 61


"Mau makan apa?" tanya Edgar setelah puas mengusap dan mengecup perut Lara.


"A-aku..." Lara tidak bisa berkata-kata karena debaran jantungnya kini semakin menggila saat menatap wajah Edgar dari dekat. Ya, posisi mereka yang kini saling berhadapan membuatnya semakin jelas menatap pria itu. Pria yang sudah membuatnya hamil sekaligus pria yang berstatus sebagai kakaknya meskipun beda ibu. "Apa saja, tapi aku ingin ayam goreng. Ayam nya harus dada jangan lupa sambal dan sayurannya."


Edgar tertawa dengan menggelengkan kepalanya. "Itu bukan apa saja. Tapi kau ingin makan ayam goreng."


Lara pun tersenyum malu. Lalu menatap Edgar yang sedang menyalakan ponselnya yang tadi sempat di non aktifkan oleh pria itu.


"Kak, tadi saat aku menangis kenapa kau juga menangis?"


Deg.


Betapa malunya Edgar. Ternyata Lara menyadari saat tadi dirinya menangis. "Aku tidak menangis, tadi itu mataku terkena debu." Bohongnya dengan tersenyum kaku.


"Benarkah?" Tanya Lara tak percaya, karena jelas sekali tadi ia melihat Edgar meneteskan air mata.


"Em..." Jawab Edgar singkat, mengalihkan tatapannya pada layar ponsel untuk memesan makanan. Ia pun mengabaikan banyaknya pesan singkat yang masuk dari Dad Robert, Mom Nela, Miranda dan Julia. Semua pesan yang berisi hal yang sama yaitu menanyakan dimana keberadaannya.


"Aneh sekali jelas-jelas kau menangis dan berhenti saat aku juga berhenti." Gumam Lara yang dapat didengar oleh Edgar.


Membuat pria itu terdiam saat teringat kejadian tersebut dimana tangisnya langsung terhenti saat Lara tak menangis. "Apa mungkin yang aku alami belakangan ini ada kaitannya dengan Lara?" Tanyanya pada diri sendiri. Ia pun bertekad untuk mencari tahu dugaannya itu benar atau tidak tapi nanti setelah keadaan mereka membaik.


"Kau jangan banyak berpikir. Biar aku yang mencari jalan keluarnya." Bertepatan dengan itu ponselnya berbunyi menampilkan nama Robert. Edgar menekan tombol merah lalu memblokir nomer tersebut untuk sementara waktu. Karena tidak mungkin mereka berbicara di saat suasana belum kondusif.


Beberapa saat kemudian lagi-lagi ponselnya berbunyi dan kali ini Julia yang menghubunginya. Edgar pun menatap Lara sesaat lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Ed dimana kau?" Tanya Julia setelah panggilannya diangkat. Sebenarnya saat ini ia sangat marah setelah melihat berita yang beredar di beberapa media elektronik. Tentang pernikahan Rose yang gagal dan digantikan dengan Lara, namun pernikahan itu pun kembali gagal karena Lara di bawa pergi oleh Edgar di detik-detik terakhir.


"Julia dengar baik-baik yang ingin aku katakan." Edgar menarik napas panjang. "Aku ingin membatalkan pernikahan kita."


"What?" pekik Julia dengan terkejut. "Ed kau gila ya? Hari pernikahan kita sebentar lagi, jadi tidak mungkin dibatalkan." Ucapnya tak terima.


"Maaf tapi aku tidak bisa melanjutkannya." setelah itu Edgar pun mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Julia.


"Kak..." lirih Lara setelah mendengar pembicaraan kakaknya dengan Julia.


Edgar menggenggam tangan Lara, menyakinkan pada wanita itu bahwa semuanya akan baik-baik saja, meskipun ia sendiri tidak yakin akan menemukan jalan keluar dari permasalahan mereka.


Sementara itu di apartemen lainnya. Julia yang tak terima dengan keputusan Edgar yang membatalkan pernikahan mereka begitu saja. Segera menghubungi ponsel Daddy nya. Ia akan meminta pada Dad Philip untuk menekan keluarga Collins agar pernikahan mereka tetap berjalan, karena Julia tidak terima dicampakkan begitu saja dengan alasan yang tidak jelas. Mau ditaruh dimana wajahnya kalau pernikahannya batal, sementara ia sudah berkoar-koar pada semua teman sosialitanya akan menikah dengan putra satu-satunya keluarga Collins.


"Kau tidak bisa berbuat seperti ini padaku Edgar Collins." Gumam Julia dengan seiringai tipis dibibirnya.